Dampak Hiperealitas Media Sosial di Era Postmodern

Oleh: Muhamad Firdaus
Ketua Umum HMI Korkom Walisongo Semarang

Seiring berjalannya waktu, media sosial menjadi wadah semua orang untuk bebas mengekspresikan dirinya. Kebebasan itulah yang kemudian menjadi tempat melakukan pembelokan realitas yang sesungguhnya. Hal demikian terjadi karena zaman menuntut manusia untuk bisa melihat kondisi sosial yang terlihat realitas tetapi nyatanya bukan.

Transformasi teknologi yang sangat cepat berhasil mengubah pandangan masyarakat dalam memandang arti interaksi sosial yang sesungguhnya. Hal tersebut menyebabkan perubahan gaya hidup dan pola bertindak dalam berinteraksi antar sesama manusia. Sebab, saat ini masyarakat sangat mudah mengakses informasi yang berkembang di dunia maya tanpa mempertimbangkan kebenarannya.

Perkembangan itu membuat semua hal bisa kita masukkan ke dalam media. media sosial juga semakin banyak bermunculan dengan sengaja didesain sebaik mungkin oleh para pemiliknya. Dengan harapan besar, semua orang berduyun untuk menggunakannya. Jika begitu kenyataannya, maka ada peran kapitalis dalam meramaikan kesempatan ini agar mendapat keuntungan dari pembuatan aplikasi-aplikasi tersebut. Karena banyaknya media sosial yang bertebaran, kemudian menimbulan beberapa pertanyaan, apakah dampak dari maraknya media sosial yang beraneka ragam itu?

Bacaan Lainnya

Banyaknya media dan informasi yang bermunculan menjadikan media sosial yang dikatakan sebagai media maya berubah menjadi realitas yang begitu nyata di tengah pengguna media. Media sosial seakan-akan menjadi pengarah dari cara hidup manusia. Aplikasi seperti Facebook, Instagram, Google, Twitter, You Tube dan Tik Tok dengan fitur yang bermacam-macam sedikit demi sedikit memaksa orang untuk melakukan hal yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya.

Media sosial akan terus berkembang dan akan terhenti jika semua penggunanya merasa bahwa hal yang demikian adalah sebuah keburukan yang dapat menimpa diri sendiri jika tidak digunakan dengan sebaik mungkin. Perkembangan juga bisa saja akan terjadi dan akhirnya dapat memunculkan hal-hal yang mungkin saja bisa memunculkan realitas baru yang melompati alam sifat bahkan kodrat manusia.

Salah satu filsuf kontemporer, Jeal Baudrillar berpendapat bahwa keadaan saat ini, menjadikan manusia yang hidup di realitas berubah menjadi artifisial bahkan superfisial. Masyarakat saat ini, berputar pada hal-hal yang memaksa mereka membuat sebuah pencitraan dan tanda yang dibuat-buat. Hal demikian membuat hal yang asli dan palsu bercampur saling merasa paling benar.

Bersatunya kebenaran dan kepalsuan menurut Baudrillar sebagai konstruksi pikiran imaginer atas realitas. Sebuah kadaan yang memaksa menutupi realitas dan diganti dengan citra, kode dan tanda yang sengaja disematkan. Kemudian relasitas yang dihasilkan dalam fitur media sosial baru ini telah mengalahkan realitas yang ada. Yang saat ini tersebar di berbagai media kebanyakan adalah hanya sebuah citra dan image yang sengaja dibuat untuk mendapat perhatian semata. Pola kehidupan di atas sangat nyata adanya dan dalam Era Postmodern atau era dimana pikiran digantikan oleh keinginan, penalaran digantikan oleh emosi, dan moralitas digantikan oleh relativisme.

Di Era Postmodernisme, orang semakin sulit membedakan mana empiris sosial yang nampak visualnya secara alami, mana empiris sebatas semu, dan mana juga empiris sosial yang melampaui batas darinya. Semua itu adalah dampak dari kemajuan teknologi informasi, salah satunya media sosial. Kini semua orang bisa memanipulasi realitas dengan citra agar terlihat menarik dan banyak penggemarnya.

Baudrillard mendeskripsikan kehidupan post-modernisme ini sebagai hiperealitas, ketika media berhenti sebagai cerminan empiris, namun justru sebagai citra yang dibuat-buat. Dia berpendapat bahwa hiperealitas ialah sebuah simulasi yang lebih nyata daripada yang nyata, lebih menawan dari yang menawan dan lebih benar dari yang benar. Hiperealitas menghapuskan perbedaan antara yang nyata dan imajiner.

Piliang juga berpendapat bahwa keberadaan citra dan dan gaya hidup akan selalu memiliki hubungan timbal balik dan tidak bisa dipisahkan. Berkaitan dengan hal tersebut, setiap pengguna sosial harus bijak dalam menggunakan sosial media. Kita sebagai pengguna media sosial harus menggunakan perspektif kritisisme saat baru mendapatkan sebuah informasi, baik berupa iklan, vidio, tulisan, dll. Dan tidak langsung menerima, mengikuti informasi atau tren tanpa melihat etika dan moral dalam bermedia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *