Masa depan suatu organisasi ditentukan oleh banyak aspek. Selain sejarah, yang menjadi basis spirit dalam suatu organisasi, orientasi untuk eksistensi dan keberadaan suatu organisasi harus menjadi bahan bacaan dan pikiran publik sebagai bentuk untuk mengatakan bahwa organisasi tersebut ada. Maka dari itu, tak sedikit juga kita melihat akhir-akhir ini hakikat keberadaan organisasi banyak yang ditentukan dengan adanya SK, Struktur Jabatan, dan Proposal Rancangan Ide dan Program Kerja, sebagai bentuk bahwa organisasi masih ada. Salah satunya di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Di HMI, bentuk eksistensi dan keberadaan organisasi pada era saat ini hampir secara keseluruhan dibicarakan buruk dalam ruang public discourses. Entah apa yang menjadi penyebabnya, namun mau atau tidak, suka atau tidak, hal itu seperti tidak ada benteng penghambat lagi. Dari survey acak yang dilakukan, baik kepada Anggota HMI ataupun tidak, hasil penelitian menunjukkan adanya ketidakpuasan terhadap perkembangan HMI sebagai organisasi kader dan organisasi perjuangan saat ini. Tentu, kesimpulan tersebut merupakan hasil dari pertimbangan pilihan yang telah ditetapkan oleh para anggota ataupun pengamat.
Salah satu indikator yang bisa dijadikan sebagai pertanda bahwa tingginya skeptisisme dalam tubuh HMI hari ini adalah dari maraknya hadir akun-akun jokes tentang HMI yang selalu membicarakan tentang kondisi internal struktural kepemimpinan di HMI. Bahkan, untuk mengafirmasi kekuatan informasi yang disampaikan, para anggota pun juga banyak memberikan komentar afirmatif sebagai bentuk menyatakan bahwa masalah tersebut memang ada dan menganggu HMI secara organisasi. Dan tentu, yang paling sering hadir dalam setiap meme dan jokes tentang HMI adalah pada sisi kepengurusan dan kepemimpinan HMI.
Hasil Kongres Surabaya HMI yang ke-31 memperlihatkan adanya wacana baru dalam mengimplementasikan visi bersama HMI dalam upaya mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Swt. Banyak bidang-bidang dengan nama baru, rekomendasi kelembagaan baru, bahkan organisasi underbouw baru dihadirkan dengan reasoning “kebutuhan hari ini”. Akan tetapi, pengkajian tentang pedoman kepengurusan bagian bidang tersebut dikaji sangat tidak matang, sehingga rekomendasi yang dihasilkan bersifat prematur alias sangat rentan untuk tidak beroperasi.
Selain itu, hadirnya banyak tawaran konsep dan gagasan baru ternyata tidak diimbangi dengan penguatan konsolidasi konsep lama yang sudah seharusnya perlu dievaluasi. Salah satunya adalah Bidang Hubungan Internasional. Pada hakikatnya, sesuai dengan amanah konstitusi, bidang ini memiliki dua misi besar, yaitu: Menyelenggarakan berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan hubungan kerjasama secara nasional; dan Melakukan berbagai kegiatan untuk meningkatkan kerjasama internasional.
Secara tafsiran, misi pertama tersebut menjadi ambiguitas terbesar dalam hubungan ini, mengingat namanya sendiri adalah hubungan ‘internasional’. Penggunaan kata Internasional tentu menjadi standar tersendiri bagi HMI untuk melakukan modernisasi organisasi yang menjangkau lintas-batas Negara. Namun, kenyataannya justru pada misi pertama masih membahas tentang internal Negara, sehingga misi ini bisa bertabrakan dan clash nantinya dengan bidang lain seperti PTKP, PU, bahkan PA (baca turunan misinya di Pedoman Kepengurusan).
Selain itu, bidang Hubungan Internasional di HMI yang sudah didirikan sejak awal abad ke-21 ini sangat tidak memiliki orientasi khusus dengan tujuan utama dari “Hubungan Internasional” itu sendiri. Kita mengetahui bahwa terdapat misi utama dalam pelaksanaan Hubungan Internasional yang tidak hanya sekedar menjalankan “interaksi”, yaitunya National Interest, Anarchism, Struggle for Power, dan Peace.
Melihat dari tawaran konsep tujuan dari Hubungan Internasional tersebut, jika kita arahkan pembahasan kepada program dari bidang Hubungan Internasional PB HMI yang hingga saat ini selalu stagnan pada pembicaraan pendirian Cabang Luar Negeri, maka tentu kita bertanya kepada para pengurusnya, “apa kepentingan nasional dari HMI Cabang Luar Negeri tersebut?”, “Apa keuntungan anarki yang didapatkan HMI dari Cabang Luar Negeri tersebut?”, “Power seperti apa yang telah didapatkan HMI dari pendirian Cabang Luar Negeri tersebut?”, dan “Kedamaian seperti apa yang dibayangkan HMI dari pendirian Cabang Luar Negeri tersebut?”
Pertanyaan mendasar seperti itu mesti bisa dijawab oleh PB HMI saat ini untuk dapat diberikan apresiasi terhadap upaya pendirian HMI Cabang Luar Negeri. Jika tidak, maka berdirinya HMI Cabang Luar Negeri tersebut sama dengan pendirian HMI-HMI Cabang di setiap daerah Kabupaten/Kota yang ada di territorial Indonesia ini, yaitu untuk menambah jumlah cabang dan juga memperluas keberadaan HMI sehingga menjadi bahan pembicaraan di ranah publik, tanpa ada national interest yang jelas untuk Indonesia.
Akan tetapi, sejak mulai direalisasikan pada masa kepengurusan Respiratory Saddam Aljihad, esensi dari HMI Cabang Luar Negeri sangat tidak terasa bagi HMI secara organisasi. Mungkin bagi sebagian kader, euforia sesaat menjadi momen berkesan untuk membicarakan ke khalayak ramai bahwa HMI punya cabang di luar negeri. Tapi bagi kelompok esensial, justru mereka menertawakan program ini karena tidak mengandung unsur dan indikator yang kuat sebagai representasi HMI Go-Internasional dan Bidang Hubungan Internasional. Bahkan, di Kongres pun, keberadaan dan tawaran ide dari HMI Cabang Luar Negeri juga tidak berdampak terhadap lampiran Hasil-Hasil Kongres yang saat ini dikonsumsi oleh para kader.
Saat ini, setidaknya sudah terdapat beberapa Cabang Luar Negeri yang dimiliki oleh HMI. Akan tetapi, logical fallacy yang dihadirkan dari wacana prematur ini mestinya bisa menjadi bahan catatan dan kajian dalam internal PB HMI. Karena, jika tidak terdapat national interest, anarchism, struggle for power, dan peace builder and peace keeping mission yang jelas, maka sudah seharusnya pengkajian tentang HMI Cabang Luar Negeri ini diserahkan kepada Bidang Pembinaan Aparatur Organisasi, bukan bidang Hubungan Internasional!
Sebenarnya masih banyak kritikan yang membangun berdasarkan argumentasi kuat dan reasoning yang jelas untuk disampaikan. Namun, kita tahu bahwa PB HMI selalu memiliki banyak program sehingga aspirasi sulit untuk didengarkan dan dijadikan bahan rekomendasi untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu, pada kesempatan ini cukup disampaikan terlebih dahulu satu bahan kajian untuk dibicarakan dalam internal PB HMI. Namun jika tidak didengarkan, ya namanya kita sebagai anggota tentu tidak akan berharap besar kepada manusia, seperti yang diajarkan Ali Bin Abi Thalib, salah satu tokoh intelektual yang dikagumi banyak Kader HMI. Wassalam.
Oleh: Adjie Surya Kelana, Anggota HMI Cabang Padang dan Peneliti Hubungan Internasional Pada NGO





