Perkaderan yang Salah

Oleh: Agus, Peserta LK2 HMI Korkom Walisongo Semarang asal Cabang Tasikmalaya

Pengkaderan dalam organisasi merupakan hal yang penting, karena dengannyalah keberlangsungan organisasi tersebut akan senantiasa eksis atau tergilas zaman. Organisasi manapun di dunia ini pasti menerapkan pola rekrutmen untuk menjaring para calon kadernya sebagai generasi penerus kedepan. Hal ini terlebih untuk organisasi yang sifatnya masa atau secara spesifik memiliki fungsi sebagai organisasi kader. Melihat dari definisinya, kader merupakan orang yang dibina secara terus menerus dan sistematis untuk nantinya ia dijadikan sebagai pemegang kendali dari suatu organisasi.

Sistem yang dibagung sebagai strategi rekrutmen pengkaderan sangat beragam dengan berbagai macam pendekatan. Sebagai contoh strateginya ada yang dengan diajak ngobrol dengan melalui obrolan itu si calon kader secara tidak langsung akan di doktrin dan pada akhirnya di ajak untuk bergabung. Ada yang dengan cara pendekatan kepada lawan jenis, ada yang dengan mengiklankan para seniornya yang sudah bisa dibilang sukses, ada juga yang ditawari iming-iming bahwa dengan bergabung organisasi tertentu maka ia akan sukses dimasa depan serta masih banyak yang lainnya. Namun suatu strategi yang dibangun ini terkadang suka menimbulkan polemik ditengah jalan, artinya terkadang dari pilihan satu strategi misalnya ia akan menimbulkan masalah berupa tidak tuntasnya perkaderan karena alasan tertentu atau bahkan lebih parahnya lagi si kader akan merasa kehilangan semangat dan harapan ketika apa yang ditawarkan ketika ia mau direkrut itu tidak sesuai dengan yang ia bayangkan.

Di Indonesia sendiri banyak sekali organisasi-organisasi sebagai wadah perkumpulan berbagai kalangan, dengan berbagai corak, ada yang khusus sebagai organisasi mahasiswa ada yang bercampur antara masyarakat umum dengan mahasiswa, ada organisasi pelajar, organisasi kepemudaan dan lainnya. Jka dipandang dari tujuan organisasi semacam disebutkan tadi tentu sudah jelas ia memiliki tujuan yang baik. Lebih spesifik bicara organisasi mahasiswa, terdapat banyak juga organisasi semacam ini, ada HMI, PMII, IMM, HIMA PERSIS, GMNI, PMKRI dan masih banyak lagi. HMI sebagai organisasi mahasiswa tertua, ia sudah melanglang buana dan malang melintang melalui berbagai fase kehidupan bernegara dan bermasyarakat dengan berbagai macam tantangan dan rintangan disetiap jamannya. Kita suka mengenal istilag setiap jaman ada masanya dan setiap masa ada jamannya. Maksud dari istilah ini bisa diartikan secara sederhana yaitu bahwa disetiap waktu pasti ada orang yang berperan mengisi perjalanan roda waktu tersebut. Bicara soal HMI, ia tentu sudah melahirkan banyak tokoh intelektual yang memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan bangsa dan negara, untuk mencapai pase tersebut sudah dapat dipastikan ia berusaha keras dan belajar sungguh sungguh ketika digembelng menjadi kader di HMI, ini menandakan bahwa proses perkaderan di HMI melalui pola rekrutmen yang beragam sangat berkualitas jika dilihat dari sejarahnya kebelakang.

Dewasa ini seiring dengan perkemangan jaman, terjadi semacam reduksi atau penurunan kualitas kader. Penyebabnya bermacam-macam bukan hanya ada di sistem dan stategi perkaderan yang dibangun, tapi bisa jadi karena memang kualitas calon kadernya yang kurang secara kualitas baik itu dalam ranah intelektual maupun mental.

Memang itu haruslah disadari oleh organisasi wabil khusus HMI dalam hal ini bahwa bagaimana ia bisa menjadi magic box yang ketika orang biasa masuk kedalamnya maka ketika ia keluar ia akan menjadi orang luar biasa dengan segudang pengetahuan. Tidak dipungkiri, itu ada memang yang semacam itu tetapi secara jumlah selalu saja itu mengalami penurunan dari yang sebelum sebelumnya. Secara bijaksana saya sebagai kader HMI menyadari betul apa yang menjadi kelemahan dalam proses pengkaderan yang dijalankan pada masa sekarang. Apa itu?

Pertama, bahwa HMI dalam proses rekrutmen pengkaderan sekarang ini sering melakukan pendekatan terhadap lawan jenis yang ini dinilai tidak efektif, terutama laki-laki terhadap perempuan. Kenapa hal ini menjadi masalah? Tentu ini adalah sebuah masalah karena ketika diawal yang menjadi alasan calon kader ikut berorganisasi adalah bukan ketertarikannya terhadap organisasi tersebut, tetapi karena memang ada satu hal, jelaslah disini terajadi semacam mis orientasi yang pada akhirnya ketika terjadi ketidakharmonisan hubungan antara orang-orang tersebut maka akan berimbas pula kepada semangat ia untuk tetap berorganisasi. Nah, solusinya adalah bagaimana para pengurus dan kader yang sudah sah tergabung di HMI bisa disadarkan dirinya bahwa strategi tersebut adalah salah dan tidak tepat, kemudian harus dibangun kebiasaan orang tertarik kepada HMI itu adalah karena kualitas para kader-kadernya yang mempuni baik dalam bidang keilmuan di kampus dan diluar kampus. Kembali meningkatkan daya baca adalah bagian dari solusi yang tidak bisa terpisahkan dari permasalahan pertama ini.

Kedua, HIM ketika merekrut calon kader selalu membangga-banggakan para senior yang sukses menjadi pejabat, pengusaha tanpa ia ceritakan bagaimana prosesnya sehingga ia bisa sampai pada titik tersebut. Nah yang kedua ini juga sering terjadi di HMI, hal yang sangat disayangkan adalah ketika orang bangga terhadap hasil bukan terhadap proses.

Ketiga, ketika dikampus khususnya ia sering offside artinya apa yang ditawarkan kepada mahasiswa calon kader adalah sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan HMI, misalnya mahasiswa diiming imingi dengan jaminan Nilai IPK bagus karena di satu kampus misalnya banyak dosen yang berlatar belakang HMI. Inilah tiga alasan yang menurut penulis dinilai sebagai sebab yang memberikan sumbangsih pengaruh besar terhadap kualitas kader di HMI, jika strategi yang dipakai hanya itu-itu saja maka tinggal menunggu waktu HMI akan mati dimakan rayap. Pengkaderan adalah jantung organisasi, kualitas kader dan pola rekrutmen yang dibangunpun memiliki keterkaitan satu sama lain.

Solusi umum yang harus diciptakan adalah bagaimana kita semua selaku kader HMI untuk membangun kesadaran bahwa berorganisasi adalah suatu kebutuhan, serta bagaimana kita bisa fokus kepada proses saat ini dan bukan kepada hasil dimasa yang akan datang. Mari jaga HMI dengan tetap melakukan rekrutmen pengkaderan dan proses pendidikan kader yang profesional serta menjunjung tinggi nilai nilai intelektual agar tujuan mewujudkan lima kualitas insan cita bisa tercapai.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *