(Wawancara dengan Dr. Mohammad Nasih, Pengasuh Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO (Nurul Furqon) Mlagen, Rembang dan Guru Utama di Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Darun Nashihah Monasmuda Institute Semarang)
Bukan tak sering, umat Islam menghadapi kenyataan pahit, di antaranya orang yang telah dianggap sebagai kiai, ajengan, ustadz, atau sebutan-sebutan lainnya terlibat dalam—bahkan secara langsung melakukan—penipuan atau tindakan kriminal lainnya. Dan yang menjadi korbannya adalah umatnya sendiri. Seringkali jumlahnya tidak sedikit, tetapi mencapai ribuan, bahkan puluhan ribu. Kenapa itu bisa terjadi? Berikut ini wawancara baladena.id dengan Dr. Mohammad Nasih, atau akrab disapa Abah Nasih atau juga Abana.
Baladena: “Abana, akhir-akhir ini, sering terjadi kasus tindakan penipuan dengan segala bentuknya yang dilakukan oleh pemuka agama. Kalau kita ketik di google misalnya, penipuan berkedok syari’ah, muncul banyak kasus. Sebenarnya ini fenomena apa?”
Abana: “Sesungguhnya itu adalah fenomena lama. Terjadi pada semua agama. Kalau kita melihat sejarah perjalanan sampai sahabat Salman al-Farisi masuk Islam, di sana ada kisah seorang pendeta yang sangat ia percaya, ternyata hobynya mengumpulkan harta kekayaan dari umat. Umat yang sudah miskin dan susah disuruh berderma, sementara dia sendiri menimbun kekayaan. Tidak hanya itu, para elite agama ini, bahkan oleh al-Qur’an disebut sebagai pihak yang menghalangi dari jalan Allah. Ini kritik keras al-Qur’an loh.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۗ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, (al-Taubah: 34)
Dalam konteks ini, bukan melulu karena agamanya yang salah, tetapi yang pasti adalah karena orangnya yang memang bermasalah. Dan yang muncul itu sesungguhnya adalah semacam fenomena gunung es. Jika didalami lagi, kita akan menemukan lebih banyak lagi kasus lainnya”.
Baladena: “Kenapa bisa terjadi begitu? Memang sebagiannya adalah kalangan awam, tetapi tidak sedikit pula yang terpelajar.”
Abana: “Anda benar. Mayoritas memang kalangan awam dalam arti yang seluas-luasnya. Namun, yang anda sebut sebagai terpelajar tadi adalah terpelajar dalam disiplin apa? Saya melihat yang tertipu dari kalangan terpelajar itu juga awam dalam pengetahuan keislaman. Jadi golongan yang tertipu itu bisa kita golongkan secara lebih rinci lagi.
Pertama, golongan yang malas belajar Islam. Mereka ini maunya hanya ngaji nguping saja. Padahal sebenarnya sebagian mereka kalua mau belajar dengan sungguh-sungguh ya bisa. Wong mereka ini berpendidikan tinggi. Karena awam dalam bidang agama ini, mereka tidak bisa membedakan mana materi yang berbobot dan mana yang mengada-ada. Mana yang benar dan mana yang salah. Pokoknya kalau keluar dari mulut orang yang sudah dikenal sebagai ustadz, apalagi popular di media sosial, ya dianggap benar saja. Kalau sudah begini, mereka juga akan berpikir, tidak mungkin guru menipu. Padahal, dalam kenyataannya kan tidak begitu.
Kedua, terobsesi untuk hidup kaya tanpa usaha keras. Ini masalah yang menurut saya sangat berat. Banyak umat yang keracunan paradigma tentang bisa kaya tanpa usaha. Dan contohnya juga ustadz-ustadz, baik yang tidak menipu atau tidak menipu mereka itu. Mereka melihat kehidupan mereka mudah, mewah, bebas dari kata susah. Karena itu, mereka juga ingin meniru mendapatkan kemudahan dan kemewahan itu. Dikiranya kemudahan dan kemewahan itu didapatkan hanya karena do’a. Semua itu sesungguhnya bisa dianalisis dengan ilmiah. Elite-elite agama itu kan memiliki pengikut. Pengikut mereka itu menjadi sumber kekayaan mereka. Makanya, mereka akan berusaha membuat pengikut mereka itu fanatik. Semakin fanatik, mereka akan rela melakukan apa saja, memberikan apa saja yang mereka punya agar mendapatkan keberkahan yang sama. Saya tegaskan di sini, tidak semuanya begitu, hanya sebagiannya saja. Al-Qur’an di atas bahkan mengatakan sebagian besarnya. Ini berhubungan dengan faktor berikutnya, yaitu:
Ketiga, tidak sedikit oknum dengan kedok agamawan yang melakukan kapitalisasi agama untuk kemewahan hidupnya. Imam al-Ghazali sudah mengingatkan tentang keberadaan ulama’ yang beliau sebut sebagai ulama’ dunia. Ini adalah faktor eksternal ya. Jadi, walaupun ada oknum ini, tapi kalau pemahaman keagamaannya baik, ya tidak akan mempan.
Baladena: “Wah, kalau begini, umat mestinya kritis ya? Padahal untuk kritis kan perlu pinter. Sementara, sepertinya untuk mengarah kepada keadaan itu sepertinya masih jauh. Lalu solusi alternatifnya bagaimana?”
Abana: “Teladan utama kita kan Rasulullah. Lihat Rasulullah, bagaimana beliau menjalani hidupnya. Beliau makan dari mana? Apakah beliau hidup berlebihan? Rasulullah sejak kecil telah berlatih menjadi orang yang mandiri. Sejak usia belia, belum sampai 4 tahun sudah pandai menggembala domba, bahkan ada satu versi sejarah yang mengatakan bisa menundukkan unta. Dan itulah sebabnya, beliau diajak oleh kafilah dagang yang dipimpin oleh Abu Thalib, karena beliau yang masih sangat belia, usia kira-kira 8-12 tahun sudah bisa menjadi penakluk unta. Kalau sekarang ya berarti jadi mekanik, karena unta pada saat itu digunakan sebagai kendaraan. Sekarang diangkut pakai mobil. Lalu beliau jadi fund manager andalan. Ibu Khadijah sampai terkagum-kagum dan kemudian berinisiatif menikah dengannya. Seorang pemuda dengan kemampuan dagang mengagumkan, menikah dengan perempuan terkaya, lalu belasan tahun kemudian menghabiskan harta mereka untuk dakwah. Bukan sebaliknya, tadinya biasa-biasa saja, atau bahkan miskin dan banyak utang, lalu menjadi pendakwah agama dan jadi kaya raya. Nah, sekarang lihat saja kehidupan kesehariannya. Jika punya penghasilan yang jelas, telah dimulai sejak lama sebelum beraktivitas sebagai guru, pengajar, atau pendakwah agama, dan melakukannya tanpa minta imbalan, nah itu layak diikuti. Jika urusan duit ini tidak beres, ya jangan diikuti.
Dalam konteks ini, panduan al-Qur’an juga sangat jelas. Ayat ini sering dibaca oleh mereka yang suka Yasinan.
اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُون
Ikutilah orang yang tiada minta bayaran kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Yasin: 21)
Maka jadi pendakwah, guru, dan penyebar agama ini sesungguhnya tidak ringan. Sebab, tidak boleh menjadikan agama ini sebagai barang jualan. Peringatan ini sangat realistis dan factual, karena agama memang bisa menjadi barang jualan yang tidak akan ada usangnya. Akan selalu laku sepanjang sejarah kehidupan manusia. Bahkan, pada zaman Yunani, Socrates telah memperingatkan bahwa ada orang-orang yang menurutnya menjadi pedagang “barang-barang rohani”. Mereka itu adalah para sofis, sukanya membual, demi mendapatkan uang. Mereka mengajar retorika berkeliling kota untuk mendapatkan bayaran, bukan untuk mengajak kepada kebenaran.
Baladena: “Apa pesan-pesan Abana agar umat kita ini tidak mengalami penipuan lagi di masa depan?”
Abana: “Pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Tapi prinsipnya jangan ada kultus individu. Semakin mengkultuskan orang, semakin besar potensi ditipu orang. Sebab, kultus itu sesungguhnya hanya milik orang bodoh dan suka membodohi. Dan agar terbebas dari itu ya harus rajin dan istiqamah dalam belajar dan mengajar. Mencari ilmu, dari ayunan sampai mati. Dengan cara yang benar, dimulai dari ilmu alatnya. Agar pemahaman Islam benar-benar utuh dan mendalam.” (AH)







