Interovet, sikap yang tidak selamanya dimiliki oleh setiap orang, tapi mayoritas memilikinya. Interovet merupakan sikap diam diri terhadap persoalan yang dihadapi. Ia malu akan mengumbar-umbar atau bahkan tidak berani mengungkapkan permasalahan sendiri kepada orang lain.
Sikap interovet ada kalanya menguntungkan diri sendiri karena menjadikan pribadi yang kebal terhadap masalah yang dihadapi. Ia mampu menyelesaikan permasalahan tersebut tanpa sepengetahuan atau meminta bantuan orang lain. Tidak hanya itu, salah satu keuntungan sikap interovet adalah menjadi pribadi yang tangguh ketika mendapat celaan orang lain. Ia pun bisa dipercaya untuk menyembunyikan hal-hal yang bersifat pribadi.
Lain halnya dengan pribadi yang interovet namun dalam dirinya lemah terhadap ucapan-ucapan dari luar. Lemahnya hati yang tidak kuat menerima kalimat-kalimat lawannya, sedangkan sikap interovetnya telah mendarah daging menyebabkan hati yang sakit dan berdampak pada diri yang lemah. Karena ketidakbiasaan menyelesaikan masalah dengan mentransfer kepada orang lain, menjadi peluang para penyakit untuk menempel pada tubuh.
Jika seseorang yang memiliki sikap interovet berat, tetapi lemah menghadapi masalah sendiri dan takut untuk menceritakan dengan orang lain, maka menulis adalah cara terbaik bagi dirinya. Dengan menulis, seseorang bisa mengutarakan isi hatinya dalam untaian kata-kata. menulis adalah cara terbaik untuk meluapkan apa yang menjadi resahan pada dirinya sendiri. Berpuluh-puluh kata yang tergores kan dalam lembaran-lembaran tidak akan terbeberkan pada orang lain.
Menulis menjadi teman sejati bagi pribadi yang memiliki sikap interovet. Ia tidak akan mengkhianati penulisnya dalam kedustaan yang diada-adakan, sebab ia menjadi bukti apa yang telah ia terima dari penulisnya. Selagi penulis tidak membengkokkan alur, tulisan tersebut akan selamanya tetap sesuai apa yang ia tuturkan dalam kata.
Oleh karena itu, pentingnya setiap orang memiliki sahabat pena, karena sahabat pena inilah yang dirasa salah satu cara terbaik untuk menyimpankan kata yang di transferkan oleh seorang penulis. Bernama sahabat karena sahabat adalah teman yang terdekat pada diri seseorang. Teman yang dapat dipercaya untuk menjadi pendengar setia dalam perjalanannya. Sahabat pena serasa malaikat yang siap menjadi motivator dalam hidupnya. Bahkan ketika sedang jatuh, ia tidak akan meninggalkan dirinya untuk bangun kembali. Oleh karena itu menulis menjadi sahabat setia untuk menemani hidup seseorang serta tidak menolak atas cerita yang telah diungkapkan si pelaku tersebut.
Bergeser sedikit dari teman sejati, menulis adalah sahabat pena yang membantu dalam mencerdaskan generasi-generasi. Karena, berjuta-juta tulisan merupakan gerbang menuju sebuah karya. Dalam hal ini sahabat pena menjadi produsen untuk menghasilkan buku. Buku adalah jembatan ilmu. Sahabat pena menjadi jembatan untuk membangun peradaban baru lewat buku. Segala bentuk tulisan menyimpan ilmu-ilmu pengetahuan. Tidak hanya dalam bentuk satu sisi namun dari segala sisi pengetahuan.
Maka gak heran, ilmuwan-ilmuwan hebat pada zaman dahulu banyak menghasilkan karya buku-buku. Yang pada saat itu muncullah berbagai ilmu pengetahuan yang membawa kejayaan umat Islam dunia. Karena adanya perang secara besar-besaran, Islam mengalami kemunduran dan buku-buku tersebut berhasil direbut oleh orang-orang Barat.
Betapa pentingnya menulis membawa seseorang menuju kepada sebuah kejayaan dunia yang hakiki. Tenaga menulis yang hanya mengandalkan pikiran, mata, dan tangan untuk bekerja, menghasilkan sebuah perubahan yang besar yang belum semua orang bisa, tetapi ada beberapa orang yang berhasil melakukan perubahan tersebut.
Kumpulkan ceritamu, tulislah, benih-benih keilmuan akna muncul. Mungkin tidak berarti dalam diri sendiri, namun bisa bermakna dalam kehidupan orang lain. Goreskan untaian katamu dalam tumpukan lembaran kosong. Mungkin satu kata dianggap biasa oleh diri penulis, tetapi beda konteks untuk menambah pengetahuan baru pada lawan bicaranya.
Oleh: Hanik As’adah







