Cerpen ini mengisahkan tentang seorang anak tunggal yang bersekolah di sekolah berasrama. Namanya Ozora Zelda. Saat itu, usianya dua belas tahun. Bersekolah di sekolah berasrama bukanlah alasan baginya untuk bersedih, karena jauh dari orangtuanya. Sebelum ia bersekolah di sana, dia selalu memunyai sedikit waktu untuk bertemu orangtuanya. Saat ia kecil, masih terlalu kecil untuk ditinggalkan, orangtuanya selalu sibuk, lantas menitipkannya di tempat penitipan anak.
Kemudian apabila orangtuanya sudah pulang dari bekerja, itu adalah momen ia bersama orangtuanya. Selalu seperti itu, besok, dan besoknya, hingga pada saat usianya lima tahun. Ayahnya pergi. Ketika itu, ia tak tahu mengapa Ayahnya pergi, Bundanya juga tidak memberi jawaban saat ia bertanya,
”Mengapa Ayah pergi sangat lama, Bunda?”
Saat ia kelas lima SD, ia baru tau bahwa Ayahnya pergi dan menikah dengan perempuan yang ternyata Zelda mengenalinya. Bahkan, Zelda telah memunyai saudara tiri.
Hari demi hari berlalu, dan hidupnya selalu begitu. Tak ada yang berbeda, kecuali satu ; Ayahnya tak lagi di sisinya. Minggu berkumpul menjadi bulan, bulan merangkai tahun, bertahun-tahun berlalu. Keseharian Zelda hanyalah bangun tidur, naik bis, sekolah, naik bis lagi, kemudian saat sore ia harus berangkat les hingga larut malam, sampai kembali tidur.
Sekarang, Zelda bersekolah di sekolahan berasrama. Dia tak sesedih temannya, karena dia sudah terbiasa jauh dari orangtuanya. Tapi saat perjalanan menuju sekolah berasrama, dia menangis tersedu-sedu di dalam mobil. Hanya sebentar, karena setelah itu ia tertidur pulas sampai tempat tujuan.
Sore hari, seperti biasanya, di sekolah berasrama yang dekat dengan hutan. Setiap sore pasti muridnya sedang bermain-main. Tapi, sore ini, beberapa murid bercanda keterlaluan, hingga membuat salah satu murid menangis. Tak sengaja, Zelda sedang berjalan di depan koridor kamar Davva, murid yang dibercandai hingga menangis.
“Va, kenapa kamu menangis?” Zelda menghampiri Davva, duduk di sebelahnya.
Yang menjawab pertanyaan Zelda bukanlah Davva, karena Davva masih memalingkan pandangannya dari siapapun, dan masih menangis tersedu-sedu.
“Kasihan sekali dia. Ibunya telah pergi selamanya sejak ia kecil. Bukankah begitu, teman-teman?” Andre yang menjawab, kemudian ia tertawa dengan genknya.
“Kalian tidak boleh seperti itu!” Wulan yang tadi berjalan di samping Zelda membentak Andre dan genknya. Yang dibentak, malah menjawab, memancing amarah.
“Lantas apa yang akan kamu lakukan jika kami melakukan hal ini?” tanya Andre.
“Aku akan melaprokanmu dan genk berandalanmu pada guru agar dihukum!” ucap Wulan setengah berteriak.
Dasar tukang ngadu!” Jaza menimpali, salah satu anggota genk berandal yang diketuai Andre.
Huh andaikan Andre dan genknya tidak berprestasi, pasti sudah dikeluarkan dari sekolah berasrama ini sejak lama, kata Zelda dalam hatinya. Zelda menunduk melihat lantai. Di bawahnya ada kertas, Zelda mengambilnya, lantas membacanya dalam hati.
Puisi, Davva yang menulisnya.
Tak pernah aku merasakan pelukmu
Merasakan cium kasih sayangmu
Kau membelai lembut rambutku
Tak pernah aku merasakan semua itu
Karena Ibu
Kau tak lagi di sisiku
Alam yang berbeda memisahkan aku dan Ibu
Entah kapan kita akan bertemu
Satu hari yang begitu berarti
Kau mendekapku sebelum kau pergi
Tapi aku masih jauh dari mengerti
Akan kesempatan terakhir kali di bumi
Ibu
Terima kasih atas pengorbanan nyawamu
Demi aku, anak terakhirmu
Semoga kelak di syurga, kita bertemu
Terima kasih, Ibu
Lengang. Tangis Davva berhenti sejak dia melihat tangan Zelda meraih kertas bertuliskan puisi Davva di atas lantai. Sejenak, saat Zelda mendongak. Wulan berseru,
“Kamu ikutan menangis?!” kepada Zelda, yang sebenarnya tidak menangis, matanya hanya berkaca-kaca.
“Zelda tidak menangis! Matanya hanya berkaca-kaca,” syukurlah ada Davva yang menjelaskan,
“Wulan itu kalau berbicara, entah dia sedang terkejut atau biasa saja. Dia selalu meninggikan nada dan suaranya. Kalau dia diajak bisik-bisik tidak akan bisa. Bisik-bisik yang sifatnya rahasia, kalau yang membisiki Wulan malah menjadi rahasia umum. Hahaha..”
Tidak ada percakapan lagi setelah Davva bercerita, dan beberapa kalimat penyemangat dari Wulan dan Zelda. Oleh karena itu, keduanya melanjutkan perjalanan menuju kantin. Sampai di kantin, Zelda melihat dan memerhatikan dengan seksama. Dita, Umi, dan saudara-saudara Dita yang datang menyambang di waktu yang hampir akhir tahun.
Raut muka Zelda berubah. Tersenyum tipis. Sekarang ia melebarkan senyumnya, mumpung Wulan tak sedang di sisinya. Wulan sedang memilih-milih yang akan ia beli. Zelda duduk di meja yang tak jauh dari pintu masuk. Kantin ini sangat luas, Zelda masih memunyai kesempatan untuk tersenyum lebar, karena Wulan masih berkeliling di bagian tempat rak jajan.
Bukan tanpa alasan, mengapa Zelda tiba-tiba tersenyum saat melihat uminya Dita. Karena Zelda tahu betapa kuatnya umi Dita menjalani hidup. Merawat anak yang jumlahnya lebih dari lima. Merawat Dita dan adik-adiknya yang sifatnya setan saja tak ingin berdekatan. Setahun yang lalu, abi Dita meninggal karena serangan jantung. Seorang istri pastilah merasakan sedih yang menjadi-jadi saat suaminya pergi. Tapi, demi anak-anaknya, dia harus menahan rasa sedih itu. Menguburnya dalam-dalam.
Sejak saat itu, umi Dita yang membanting tulang menafkahi anak-anaknya yang semuanya masih sekolah. Untungnya, gaji umi Dita memadai. Alhamdulillah,
DOK!
“Yoh, kan, baru ditinggal sebentar kok sudah senyum-senyum sendiri? Ngeliat siapa sih?” tiba tiba Wulan datang dan mengetuk meja. Membuat senyum Zelda memudar.
“Memperhatikan abangnya Dita ya kamu?” Wulan menebak. Zelda menggeleng, kemudian menjawab,
“Aku salut dengan umi Dita. Ada ya, orang sesabar dan sekuat beliau,” jawaban yang membuat batin Wulan berkata,
“Tadi tentang Davva yang ditinggal ibunya saay baru lima menit selesai melahirkan Davva. Sekarang, tentang umi Dita yang the best bagi Zelda. Ih, ini hari apa? Tanggal berapa? Dan bulan berapa sih?”
“Ya sudah yuk! Langsung ke lab komputer!” ajak Zelda.
Lab komputer tidak seramai biasanya sore ini. Di pojok depan, saat Zelda membuka pintu, dia melihat Kak Tyas sedang mengoperasikan komputer. Zelda dan Wulan menilik meja yang kosong. Tak lama, ia menemukan meja, dekat dengan meja Kak Tyas. Belum sampai Zelda dan Wulan duduk, Kak Tyas berteriak, membuat Zelda dan Wulan tak jadi duduk,
“AAAAA!” teriak Kak Tyas.
“Kenapa, Kak?” tanya Zelda.
Kak Tyas menoleh, menatap Zelda dan Wulan,
“Ohh, tidak apa. Aku hanya terkejut,” jelas Kak Tyas. Kemudian ia lanjut menjelaskan,
“Kakakku salah masuk gerbong kereta,” Zelda dan Wulan ber-oh pelan,
“Kakak Kak Tyas, kalau ada apa-apa melapor ke grup keluarga ya?” tanya Wulan yang melirik ke layar komputer yang sedang dioperasikan Kak Tyas.
“Iya,” sahut Kak Tyas.
“Kita sama, aku juga demikian.”
Seperti itu ya rasanya jika anggota keluarganya banyak. Kalimat itulah yang sedang dikatakan Zelda di dalam hati.
“Kok kamu melamun?” pertanyaan Wulan memecah batin Zelda.
“Tidak. Aku tidak melamun.”
Kak Tyas, kakak kelas yang berjarak tiga tahun dengan Zelda dan Wulan itu tahu maksud dari ekspresi Zelda. Kak Tyas juga tahu, Zelda anak tunggal dan ayahnya telah pergi, semenjak usia Zelda lima tahun.
“Maaf, Zelda. Kami tidak bermaksud….” Zelda mengangguk pelan.
Hari apa ini? Mengapa hari ini membuat Zelda teringat akan kenangan menyakitkan, saat ayahnya pergi dan menikah lagi?
Oleh : Maghfiratunni’mah, Sanja kelas 9 SMP Alam Planet Nufo, Sekretaris Umum Komisariat Ikatan Pelajar Putri Nahdhatul Ulama (IPPNU) Planet Nufo, Menteri Kebersihan Pondok Planet Nufo 2022/2023







