Wabah dan Sikap Ilmiah
Ilustrasi

Sikap ilmiah dalam menghadapi dan mengatasi pandemi Covid-19 sangat dibutuhkan. Sikap ilmiah ini penting karena beberapa alasan, diantaranya agar tidak menyebabkan kerusakan yang lebih besar.

Dalam hal ini, Islam memberikan petunjuk bagi umatnya untuk menanyakan sesuatu pada ahlinya. Allah berfirman: “Maka bertanyalah kepada ahli ilmu, jika kamu tidak mengetahui”. (QS. An-Nahl: 43). Ahlu al-Zikr (orang berilmu, pakar dalam bidangnya), dalam hal ini adalah dokter epidemi, yang memang mengetahui seluk-beluk virus.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa dalam urusan pandemi Covid-19 misalnya, tak ada salahnya kita menaati petunjuk medis dalam menghadapinya. Tokoh agama atau lembaga agama, bisa memainkan perannya sebagai penguat atas apa yang disampaikan oleh ahli medis, selama himbauannya tidak bertentangan dengan agama. Inilah diantara sikap ilmiah dalam menghadapi wabah.

Sikap antisains dalam menghadapi wabah seperti Covid-19 sungguh akan menimbulkan bahaya yang lebih luas. Dalam titik ini, penulis akan memberikan informasi bahwa Amerika Serikat, negeri yang sangat masyhur karena superioritasnya di hampir seluruh bidang kehidupan termasuk ilmu pengetahuan, babak belur dan ter-gopoh-gopoh dihajar Covid-19.

Data per 10 Juni 2020, sebagaimana dikutip dari VAO, pada Kamis 11/6/2020, di Negeri Paman Sam, Covid-19 sudah merenggut nyawa lebih dari 115 ribu orang. Ahmad Arif  dalam artikelnya “Kepemimpinan Antisains” yang terbit dalam kolom Catatan IPTEK di harian Kompas edisi 14 April 2020 menyebutkan bahwa gelombang kasus Covid-19 di AS yang begitu dahsyat lantaran gaya kepemimpinan Donald Trump, yakni antisains. Gaya Trump yang doyan menolak ilmu pengetahuan juga dapat ditelisik dari keyakinannya bahwa pemanasan global itu tidak ada.

Baca Juga  Mahasiswa KKNRDR UIN Walisongo Sebarkan Masker Gratis kepada Penduduk

Di ranah nasional, kepemimpinan antisains juga terlihat dari langkah yang ditempuh oleh pemerintah dalam menghadapi Covid-19. Hal ini terlihat dari pernyataan Presiden, Wakil Presiden hingga menteri-menterinya, sebelum ditemukan adanya masyarakat yang positif Covid-19, mereka dengan gagah mengatakan bahwa Indonesia kebal terhadap Covid-19 dan cenderung menyepelekannya. Hingga akhirnya, Covid-19 benar-benar menjamah Indonesia. Elite yang sebelumnya terlihat jumawa, kini menjadi panik karena Covid-19. Padahal, para ilmuan sudah memberikan peringatan jauh-jauh hari akan adanya potensi serangan Covid-19 ke Indonesia.

Hampir senada dengan sebagian elite negeri ini, para penceramah juga mengatakan bahwa Covid-19 adalah tentara Allah dan cukup hanya didoakan saja, niscaya ia akan lenyap. Sikap anti-sains ini seharusnya tidak timbul di kalangan umat Islam karena isyarat Alquran tentang ilmu pengetahuan sudah jelas sekali. Misalnya sebagaimana terpatri secara kuat dalam kata “iqra’”—wahyu pertama turun–, yang menurut Ibnu Faris memiliki makna “menghimpun”. Artinya, perintah tersebut sesungguhnya merangsang umat Islam untuk menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui, dan menyelidiki secara detail tentang segala sesuatu.

Covid-19 yang membuat sebagian besar negara di dunia tak berdaya dalam menghadapinya, sudah seyogyanya umat Islam menunjukkan bahwa umat Islam dengan petunjuk ilmu pengetahuan dalam Alquran, dapat menawarkan solusi dalam masalah global ini. Untuk itu, mendialogkan Alquran dengan sains harus terus dilakukan. Sebab, sebagaimana dikatakan oleh Quraish Shihab, iman tanpa ilmu sama dengan pelita di tangan bayi. Begitu pula ilmu tanpa iman, bagaikan pelita di tangan pencuri. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Muhammad Najib
Co.Founder/CEO Baladena.ID

    Pandemi; Meningkatkan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

    Previous article

    ADHII dan APPHEISI Mengadakan Kolokium Hukum Islam Indonesia

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi