Oleh: Dr. Mohammad Nasih, Pengasuh Pesantren Planet NUFO Mlagen Rembang, dan Guru Utama Rumah Perkaderan Monasmuda Institute Semarang; Pengajar di FISIP UMJ dan Pascasarjana Ilmu Politik UI

Sebuah cerita rekaan tentang sekawanan rusa dan para pemburu bisa digunakan untuk memahami perspektif ini. Dan ini menjadi cerita satire. Suatu pagi yang cerah, di sebuah padang rumput di tengah hutan, kawanan rusa yang cukup banyak sedang menikmati rumput hijau nan segar. Pada saat itu, datanglah beberapa orang pemburu dengan dengan pakaian khas para pemburu dan senjata yang ditenteng. Setelah terdengar suara letusan senjata api, beberapa rusa ambruk, dan sebagian besar lainnya berhasil kabur menyelamatkan diri. Hari kedua hal yang sama terjadi, tetapi jumlah yang terkena tembak para pemburu lebih sedikit, karena para rusa langsung lari ketika melihat orang-orang yang sama datang. Pada hari ketiga, mereka bahkan langsung lari masuk ke hutan ketika dari jauh terlihat para pemburu datang. Hari-hari berikutnya, para pemburu harus kecewa pulang dengan tangan hampa, karena para rusa sudah mengenali mereka. Karena merasa sudah dikenali oleh para rusa, maka para pemburu menggunakan siasat baru. Mereka mengubah penampilan mengganti pakain casual mereka dengan jubah dan surban, dan senjata untuk berburu mereka sembunyikan. Benar saja, ketika mereka datang, para rusa merasa tenang-tenang saja dan tetap menikmati rerumputan di padang yang luas. Namun, tiba-tiba para rusa dikejutkan oleh suara tembakan yang membuat banyak rusa roboh bersimbah darah. Hanya beberapa ekor saja yang berhasil lari menyelamatkan diri ke dalam hutan. Di dalam keheningan hutan, mereka berdo’a kepada Tuhan: “Ya Tuhan, memang sudah menjadi takdir kami menjadi makhluk buruan. Kami menerima nasib kami ini. Kalau para pemburu itu menggunakan identitas sebagai pemburu, kami bisa lari menghindar. Namun, kalau para pemburu itu menggunakan pakaian bukan sebagai pemburu, kami jadi tidak mampu mengenali mereka dan karena itu banyak di antara kami yang menjadi korban perburuan”.

Jika dipahami secara mendalam, al-Qur’an sesungguhnya telah memberikan peringatan, bahwa di antara penyakit sebagian elite agama adalah melakukan penipuan. Dan yang ditipu adalah umatnya sendiri. Akibat penipuan itu, umat mengalami kerugian ganda: terhalang dari kebenaran dan menderita kerugian material. Kritik al-Qur’an tersebut secara literal memang atas elite agama Yahudi dan Nashrani.

Baca Juga  Seberapa Penting Ilmu Dasar untuk Memahami Islam?

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. (al-Taubah: 34)

Namun, jika dipahami pesan moralnya, sesungguhnya itu juga merupakan peringatan kepada pembaca al-Qur’an bahwa hal yang sama bisa terjadi atas umat Islam sendiri. Dan itulah yang sesungguhnya telah benar-benar terjadi.

Penipuan atas umat sesungguhnya disebabkan oleh motif untuk mengakumulasi pengaruh (kekuasaan kultural) yang arahnya bisa kekuasaan struktural atau langsung berujung materi alias uang. Tema-tema agama menjadi bahan yang tidak pernah tidak laku untuk dijual. Mungkin karena inilah, al-Qur’an menggunakan ungkapan menjual ayat-ayat dengan harga murah. Namun, sesungguhnya, sejak zaman Yunani Kuno, Socrates telah mengingatkan tentang keberadaan para sofis yang memiliki kebiasaan menjual barang-barang spiritual. Socrates mengatakan bahwa para sofis adalah pedagang yang menjual barang rohani/spiritual.

Indikasi penipuan ini mudah diidentifikasi dengan melihat gaya hidup elite agama. Jika mereka hidup sederhana dan berdakwah tanpa meminta imbalan, maka mereka adalah orang-orang yang sedang memperjuangkan agama. Namun, jika mereka menikmati kehidupan yang bergelimang kemewahan, sementara umat mereka berada dalam kemiskinan, maka mereka sesungguhnya sedang menjual agama untuk memperjuangkan diri dan keluarganya dengan berbagai modus penipuan. Namun, belajar dari kasus guru pendeta pertama yang diikuti oleh sahabat Salman al-Farisi, sebagian elite agama bisa saja menyembunyikan motif mereka dengan bergaya hidup sederhana, tetapi mereka sesungguhnya menyimpan harta kekayaan mereka dengan tujuan-tujuan yang sukar dipahami.

Karena pelaku penipuan adalah elite agama, maka umat biasanya dibuat tertipu dengan banyak hal yang bertalian dengan tema-tema keagamaan yang bersinggungan dengan kehidupan sehari-hari, di antaranya:

Pertama, tertipu dengan persoalan furu’iyah. Walaupun sudah disebut sebagai persoalan furu’iyah atau cabang, bukan ushuliyah atau pokok agama, tetapi tema-temanya selalu saja menjadi bahan perbincangan dalam forum-forum pengajian. Qunut shalat subuh, membaca frase sayyidina di dalam tahiyyat, bahkan jumlah raka’at shalat tarawih yang jelas-jelas hukum melakukan shalat di malam bulan Ramadlan itu adalah sunnah. Materi-materi tersebut seolah tidak pernah selesai dibicarakan, dan ujungnya umat dibuat tidak bisa saling memahami. Penyebabnya adalah kepentingan untuk menjadikan sebagian umat sebagai pengikut fanatik. Melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang cabang itu dijadikan sebagai indikator loyalitas.

Baca Juga  MENINGKATKAN DIRI MENJADI SOCIOPRENEUR

Kedua, tertipu dengan isu politik lokal. Spektrum dalam konteks ini sangat luas. Ada yang tertipu dengan pernyataan netral. Namun, ada yang sebaliknya tertipu karena pernyataan untuk mengarahkan dukungan kepada pihak tertentu. Pernyataan netral dalam kontestasi politik sesungguhnya adalah pilihan politik untuk membangun atau mempertahankan kekuasaan kultural yang sebelumnya telah dimiliki. Pernyataan netral, dalam kehidupan politik konfliktual, bisa membuat sebagian umat menjadi simpati, sehingga membuat elite agama memiliki pengikut dari kelompok masyarakat yang tidak mau terlibat konflik politik akibat dukung-mendukung, ditambah dari berbagai kelompok politik yang tetap membutuhkan panduan keagamaan.

Ketiga, tertipu dengan isu perbedaan firqah. Perbedaan firqah ini sesungguhnya juga berada dalam domain politik. Hanya saja bersifat trans nasional. Isu perbedaan firqah ini sesungguhnya adalah bagian dari perang proxy. Umat Islam terlalu kuat jika mereka tidak dipecah belah. Karena itu, umat Islam akan dibuat untuk saling mencurigai antara sesamanya, sehingga tidak mau bersatu. Era 1980-an, di level akar rumput, Muhammadiyah dianggap sebagai agen Wahhabi di Indonesia. Namun, upaya stigmatisasi ini tidak berhasil. Dan kini ada kelompok baru yang dianggap sebagai agen Wahhabi. Dan kelompok yang diidentifikasi sebagai Wahhabi ini bersikap sangat keras terhadap Syi’ah.

Keempat, tertipu dengan tema yang sesungguhnya tidak perlu jadi persoalan. Di antara contoh yang pernah muncul adalah kalau mengecam Yahudi dengan Israel, maka sama dengan mengecam Nabi Ya’qub, karena Isarel adalah nama alias Nabi Ya’qub. Dalam konteks ini, memang tidak sedikit tema yang diangkat dalam pengajian sesungguhnya adalah tema yang tidak perlu dibahas, sehingga hanya berdampak kepada penyia-nyiaan waktu belaka. Sesungguhnya lebih baik umat dimotivasi untuk melakukan pemberdayaan diri dibidang ekonomi dan walaupun perlahan mempelajari ilmu-ilmu dasar, agar mereka relatif mampu mencerna berbagai tema pokok keislaman yang akan terus mereka dengarkan.

Baca Juga  Pesan Politik Lagu Lir-Ilir

Kelima, tertipu dengan mitos atau cerita-cerita palsu. Lingkungan agama adalah salah satu lingkungan yang sangat sarat dengan cerita-cerita yang dibuat-buat. Sulit membedakan antara yang benar yang tidak benar. Dan cerita-cerita bohong ini hidup subur dalam lingkungan masyarakat dengan tingkat literasi yang sangat rendah. Cerita-cerita bohong dianggap sebagai sebuah kebenaran, karena ajaran agama tidak selalu harus didekati atau dipahami dengan rasio. Padahal era setelah kenabian mestinya tidak ada lagi peristiwa-peristiwa yang di luar sunnatullah. Namun, berbagai mitor sengaja dibiarkan berkembang, atau bahkan sengaja dimunculkan, untuk membangun pengaruh dalam masyarakat, sehingga bisa menambah jumlah pengikut fanatik.

Dengan posisi yang tinggi dalam masyarakat, sebagian elite agama bahkan menempatkan diri mereka laiknya nabi di kalangan sahabat-sahabatnya yang jika para sahabat nabi ingin berbincang dengannya harus mendahuluinya dengan shadaqah.

Hai orang-orang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih bersih; jika kamu tidak memperoleh (yang akan disedekahkan) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (al-Mujadilah: 12)

Patut diduga, ayat inilah yang menjadi latar belakang budaya amplop muncul. Padahal nabi tidak memakan shadaqah, dan hanya memakan hadiah. Itu artinya, hadiah yang diberikan oleh sahabat yang hendak berbincang dengan Nabi diberikan kepada selain Nabi Muhammad saw.. Dan mereka itu adalah orang-orang miskin. Dan ayat ini, karena dianggap memberatkan, kemudian dinaskh oleh ayat berikutnya. Hanya Ali bin Abi Thalib saja yang melakukannya dengan bersedekat sebesar 1 dinar.

Para elite agama yang selama ini membangun budaya yang keliru, harus segera menghentikannya. Umat harus dicerdaskan dan diberdayakan agar mereka bisa mulai berusaha bertransformasi menjadi umat terbaik sebagaimana dijanjikan oleh Allah. Jika mereka cerdas dan berdaya, maka umat Islam secara keseluruhan, baik kalangan awam maupun elitenya akan mendapatkan kejayaan secara bersamaan. Mereka akan mampu bekerjasama secara optimal dengan sesama umat dan berkompetisi untuk menunjukkan diri sebagai yang terbaik dibandingkan dengan umat yang lain. Wallahu a’lam bi al-shawab.

“Staquf”

Previous article

BPL dan Master Prematur

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Kolom