Tetap Bersatu Meskipun Berbeda

Cerita tentang diriku sudah dimulai sejak kedatanganku di dunia ini. Aku terlahir di sebuah keluarga sederhana. Ibuku seorang pedagang dan ayahku seorang peternak kambing. Aku mempunyai dua saudara.

Saudara pertamaku berjenis kelamin laki-laki. Namanya Suhan. Kak Suhan dan Aku hanya pernah bertemu dua kali Karena kami hidup di daerah yang berbeda. Sejak kecil dia tinggal bersama nenekku dari ayah.  Sedangkan aku tinggal bersama kedua orang tuaku. Umur kami juga terpaut jauh yaitu kurang lebihnya 30 tahun.

Saudara keduaku berjenis kelamin Perempuan. Namanya Gusia. Aku dan dia bagaikan Ibu dan Anak karena sejak kecil dia yang merawatku. Umur kami terpaut 17 tahun. Dia bekerja sebagai kepala sekolah paud di desaku.

Hari berganti hari,  minggu berganti minggu,  bulan berganti bulan,  tahun berganti tahun, aku tumbuh dan berkembang. Rasa Penasaranku akan sesuatu terus muncul di dalam benakku. Bahkan aku akan mencari itu sampai jelas bagiku. Terutama masalah agama Islam.

Aku yang dulunya tidak mengaji kini sudah bisa mengaji. Semua ini aku dapatkan berkat kedua orang tuaku. Mereka selalu Mbiasakan diriku untuk mengaji.  Bahkan mereka rela meluangkan waktu untuk mengantar diriku ke tempat mengaji dan menunggu sampai selesai.  Disamping itu, aku juga sudah bisa sholat sejak Taman kanak-kanak. Hingga suatu hari………..

“Ail,  apa cita-citamu?” tanya tetangga Saudara perempuanku.

Aku berkata,”Aku bercita-cita menjadi seorang guru,  Lek.

“Guru apa,  il ?” tanyanya ulang.

“Guru yang mampu di segala bidang, Lek,” Jawabku.

Lalu dia berkata, “setelah lulus SD kamu mau sekolah dimana? “

“setelah SD aku akan sekolah MTs di Kec. Lasem. Kemudian SMA N 1 Rembang. Lalu kuliah dan mondok. Setelah itu aku mau bekerja dan menikah. “ responku.

“Bagus itu,  il.“

الله اكبر الله اكبر adzan dhuhur sudah berkumandang menandakan waktu sholat. Waktu itu aku tidak sholat berjama’ah karena aku tidak terbiasa sholat dengan tetangga Mbkku. Setelah adzan berkumandang,  aku dan tetanggaku melanjutkan tanya jawab.

“Sholatmu sudah penuhkan (tidak kosong di beberapa waktu)?” lanjutnya.

“tentu,  Lek.”

“Beneran itu? Atau jangan-jangan kamu bohong il,” Penekanannya seolah tak percaya padaku.

“Benar. Saya tidak bohong,  Lek,” Belaku.

“ Berarti kamu tadi subuh sholat? “ tanyanya kepadaku.

“tentu lah.“

“memakai qunut atau nggak? “

“pakai,  Lek.”

“Ibumu pakai qunut nggak? “tanyanya kembali

“iya,  Lek,”jawabku sembari bingung memikirkan kata qunut.

Setelah kejadian itu aku selalu memperhatikan Ibuku setiap kali sholat subuh. Memang benar,  ada satu hal yang tidak aku sadari sedari kecil yaitu Ibuku sholat subuh tidak menggunakan qunut.  Penasaran mulai menghantuiku berhari-hari. Hingga akhirnya aku berani bertanya kepada Ibuku tentang kenapa Ibu tidak menggunakan qunut saat sholat subuh.

“Ibu,  Ibu kok tidak memakai qunut saat sholat subuh. Kenapa? “tanyaku penasaran

“tidak apa apa sayang. Sholat subuh itu boleh pakai qunut dan tidak.”Ibuku menjelaskan.

“ohhh,  begitu ya Bu. Terima kasih atas infonya.

“iya,  sayang.”

Semenjak itu aku tak peduli lagi tentang qunut dan tidak qunut. Bahkan akupun terkadang tidak qunut saat sholat.

Masa SMA kini sudah lewat. Sekarang sudah berganti masa kuliah. Aku kini tinggal disebuah asrama bernuansa islam. Disinilah saya paham semuanya. Paham akan perbedaan organisasi islam. Terkhusus Muhammadiyah dan NU.

Sekarang aku tahu kenapa kedua orang tuaku tidak pernah mengajarkanku tentang apa itu Muhammadiyah dan apa itu NU. Sebab bagi kedua orang tuaku yang penting itu islam dan menjalankan segala syariat yang ada. Kedua, orang tuaku ternyata berorganisasi Muhammadiyah karena itulah mereka selalu dipandang sebelah oleh tetangga kami yang berorganisasi NU. Namun setelah mengetahui ini aku justru bangga dengan orang tuaku. Sebab mereka selalu mengajarkanku akan indahnya perbedaan.

 

Oleh; Lia Puji Lestari

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *