Rahmatan lil ‘Alamin : Manifestasi Juru Selamat Terbaik

Konotasi pahlawan yang kerap tebersit dalam akal kita saat memperbincangkannya, adalah sosok yang memiliki jiwa kepahlawanan. Sedangkan jiwa kepahlawanan itu sendiri merupakan sebuah keberanian, kegelisahan, kekuatan, dan kehendak yang tertanam dalam diri seorang pahlawan untuk mempertahankan sebuah kebenaran. Dunia saat ini telah menjelma wadah di mana kebenaran sangat mahal harganya, maka perlu ada kesetiaan yang berkewajiban untuk memperjuangkannya. Pahlawan adalah pelakunya.

Jika kita merujuk pada konteks nasionalisme, pahlawan adalah sebuah tanda jasa yang berhak disandangkan bagi siapa saja yang mempertahankan kemerdekaan suatu bangsa sampai titik darah penghabisan. Mereka gelisah, bila saudara setanah airnya masih saja berada dalam kendali para penjajah. Kegelisahan mereka mengalir menjadi semangat juang yang kemudian berhasil mengantarkan bangsa menuju pintu kemerdekaan, baik fisik, maupun pola pikir masyarakatnya. Sampai tiada lagi belenggu yang mengikat hak mereka.

Tak lepas dari itu, tentu saja pahlawan memiliki segudang sifat yang baik untuk kita teladani. Tak perlu heran mengapa doktrin kepahlawanan nasional tercantum dalam silabus pendidikan negara kita, karena kaderisasi jiwa kepahlawanan perlu diberlakukan. Hal ini menjadi salah satu pedoman berharga dalam berkehidupan, karena hal-hal yang termuat adalah sikap-sikap terpuji dan layak untuk diterapkan. Namun ternyata para pahlawan pun memiliki sosok pahlawan yang besar pengaruhnya dalam kehidupan mereka, bahkan dunia. Siapakah gerangan? Beliaulah, nabi Muhammad SAW.

Sekilas tentang Muhammad SAW, bernama lengkap Muhammad bin Abdullah bin Hasyim. Terlahir dari rahim seorang wanita bernama Siti Aminah, dalam garis keturunan penguasa Mekkah pada saat itu. Kakeknya, Abdul Muthalib, adalah pemimpin kaum Quraisy dan penjaga Kabah. Muhammad adalah nabi terakhir dengan tanda kenabian terbesar berupa Al-Quran. Ya, nabi adalah manusia.

Agama Islam mengajarkan akidah yang menyangkut kepercayaan dan keteguhan hati para penganutnya dengan apa yang mereka anut. Kepercayaan adalah dasar dalam berislam. Sedangkan salah satu cabang dari akidah adalah rukun iman, enam obyek yang mutlak umat islam percayai sampai akhir hayat mereka. Percaya kepada rasulullah, Muhammad SAW adalah bunyi rukun iman yang keempat.

Dari hal ini akan muncul sebuah pertanyaan. Seberapa krusial eksistensi nabiullah Muhammad SAW sebagai manusia yang berpengaruh pada keimanan seorang mukmin? Jawabannya, teramat sangat penting.

Nabi Muhammad SAW terlahir sebagai nabi terakhir, sekaligus penyempurna dari ajaran nabi-nabi sebelumnya. Beliau adalah kekasih Allah. Ilmu langit dan bumi ia peroleh langsung dari Allah, melalui perantara Malaikat Jibril, yang kemudian melewati fase mutawwatir (turun-temurun), hingga dihimpun, dan dibukukan, seperti Al-Quran konvensional yang masih menjadi pedoman umat Islam hingga saat ini.

Dengan Al-Quran sebagai sumber pokok hukum yang terbaik, Muhammad SAW memperjelas dan menjabarkan kepada umatnya juga dengan cara yang terbaik, menjadi sunnah-sunnah rasulullah yang patut diteladani oleh seluruh umatnya. Selain menambah amal baik dan pahala, mengikuti sunnah rasulullah juga berdampak baik bagi yang menerapkannya. Terutama dalam hal ibadah dan muamalah.

Sebenarnya, ajaran yang dibawakan oleh Muhammad SAW adalah ajaran yang terbaik. Doktrin mutakhir untuk seluruh manusia sepanjang zaman. Ajaran yang kelak akan membawa kemerdekaan bagi umat manusia. Ajaran berupa seruan penyelamat, kedamaian yang datang langsung dari Yang Maha Kuasa. Terus berpegang pada Al-Quran yang Jibril hantar ke dalam hati sucinya, kebenaran yang mutlak, maka Muhammad SAW menjadi pahlawan dengan sebaik-baik suri tauladan bukan hanya bagi umatnya saja, namun seluruh manusia.

Mengapa bisa? Sudah 14 abad Al-Quran turun ke Bumi, hingga saat ini belum ada pantangan, perdebatan dan, logika yang dapat mematahkan atau merevisi teks otentik Al-Quran. Hal ini membuktikan, bahwasanya Al-Quran memiliki korelasi terhadap segala sesuatu yang ada di dunia. Ayat kauniyah adalah sifatnya, yakni ayat di Al-Quran yang tanda-tandanya dapat kita temukan di dunia, jika dipahami dan dikontemplasikan secara mendalam, maka kita dapat membuktikan kebenarannya dengan kemapanan sains dan teknologi. Ini adalah salah satu cara Nabi Muhammad SAW dalam meyakinkan target dakwahnya saat itu.

Michael Hart, seorang astronom berkebangsaan Amerika Serikat, mendeklarasikan sebuah pernyataan di dalam Most Influental Person, buku ciptaannya yang memuat 100 orang paling berpengaruh, bahwa Muhammad SAW menduduki peringkat pertama sebagai manusia paling berpengaruh bagi dunia. Fatwa ini turun tidak jauh karena dinamika dakwahnya yang menakjubkan.

Beliau pemrakarsa ekspansi raksasa islam hingga ke Persia, Syam, Mesir, dan beberapa daerah di Afrika Utara. Tersebab ajarannya menjunjung tinggi Diin as-Salam, bahwa islam adalah agama yang senantiasa memeluk kedamaian, maka dengan mudah ajarannya diterima oleh masyarakat sebagai target dakwah saat itu. Setelah menjadi negara-negara islam, Muhammad SAW mulai melakukan brain rewashing dengan nilai-nilai islam dan sunnah-nya di setiap aspek, baik dalam berdagang, berpolitik, beribadah, hingga bermuamalah.

Walaupun beberapa tahun setelahnya, Muhammad SAW harus menemui ajalnya pada 8 Juni 632 Masehi, di Madinah. Selagi ilmu pengetahuan dan sunnahnya mendarah daging di dalam raga dan hati para sahabat beserta pengikutnya, maka islam dipastikan akan selalu berjaya. Dibuktikan dengan penyebarluasan islam yang digerakkan kembali oleh umatnya, bukan hanya seputar Benua Asia ataupun Timur Tengah, bahkan hingga ke benua biru Eropa. Cordova di Spanyol, Istanbul di Turki, adalah segelintir bukti bahwasanya corak keislaman akan terus berjaya, selama umat islam masih berpegang teguh pada Al-Quran dan as-Sunnah.

Mari kita berpikir sejenak, kita beralih ke zaman pertengahan awal (476-800), tepatnya berada di masa islam jaya di bawah naungan dinasti Abbasiyah, bertepatan dengan dark age di Eropa Barat. Mengapa bangsa Eropa, yang mayoritas dihuni oleh orang-orang beragama nonislam mengalami zaman kegelapan, sementara di sisi lain, peradaban islam justru berkembang, dan menyentuh zaman keemasaan? Satu jawabannya, mereka tak memiliki pedoman hidup terbaik, sebagaimana yang Muhammad SAW ajarkan secara mutawwatir kepada umatnya.

Roma mengalami vacuum of power, tersebab oleh pecahnya perang di mana-mana, sehingga kondisi Roma kala itu sama sekali tidak kondusif. Tidak ada guru maupun juru selamat terhadap tata cara berkehidupan pada saat itu. Akibatnya, kebodohan merajalela. Penimbunan kotoran terjadi di mana-mana, menimbulkan beberapa penyakit berbahaya, seperti tifus yang banyak merenggut korban jiwa. Di Hongaria sana, hadir seorang tokoh kontroversial bernama Elizabaeth Bathory, penguasa istana Čachtice yang terkenal karena obsesinya untuk mendapatkan darah segar para budaknya yang masih gadis sebagai resep kecantikkan dan awet muda.

Di Baghdad, dinasti Abbasiyah tengah menikmati hegemoni keemasan dan kemajuan pesat dalam aspek pemikiran, sains, dan teknologi. Berbagai penemuan dan terobosan yang kelak dijadikan basis keilmuwan mulai muncul berhamburan dari kecerdasan para penghafal Al-Quran. Atas dasar islam, mereka berjaya. Atas dasar Al-Quran dan as-Sunnah, mereka merdeka. Mereka belajar bagaimana berthaharah (bersuci) dan manfaatnya dalam kehidupan, sehingga mereka sehat sentosa. Mereka mempelajari bagaiamana cara memperlakukan manusia dengan sebaik-baiknya. Dalam naungan islam, manusia merdeka.

Tak perlu melampau jauh. Salah satu bukti terkonkret nabi Muhammad SAW yang bahkan masih difungsikan hingga kini adalah Piagam Madinah, atau acap disebut dengan Konstitusi Madinah, undang-undang yang diciptakan oleh Muhammad SAW dengan persetujuan dari semua kubu penting di Madinah dahulu (Bani Aus, Bani Khazraj, Ansar, Muhajirin, dan beberapa kaum Yahudi yang berada di Madinah). Piagam Madinah terbentuk sebagai landasan konstitusi, sekaligus peningkatan norma-norma dan hukum yang kemudian disepakati dan diterapkan bersama.

Kini, hasil adaptasi dari Konstitusi Madinah dikenal dengan Human Rights atau Hak Asasi Manusia (HAM). Salah satu konsep yang bersifat normatif yang berisikan pasal-pasal, bahwasanya setiap manusia memiliki hak yang harus dipenuhi. Sampai saat ini, HAM masih menjadi acuan dalam hukum perdata dan pidana di seluruh tatanan dunia. Muhammad SAW menyadari tentang pergolakan masalah di dunia, salah satu faktor besarnya adalah kekeliruan manusia dalam segi muamalah. Kita manusia, makhluk sosial, membutuhkan manusia lainnya. Tentu, ada aturan mainnya.

Sekali lagi. Ini membuktikan bahwasanya Muhammad SAW mendakwahkan ajarannya bukan hanya untuk kaumnya saja. Muhammad SAW adalah rahmatan lil alamin, manifestasi rasa sayang dari Allah bagi seluruh alam. Ya, bagi seluruh elemen yang ada di bumi, baik tumbuhan, hewan, juga manusia. Manusia maksum yang mampu memerdekakan dunia, kecanggihannya dalam hidup menjadi sebuah syariat yang patut manusia imani dan terapkan dengan tujuan merdeka, itulah Muhammad SAW.

Ada beberapa dampak lain dari pengaruh ajaran Muhammad SAW. Mengutip dari sejarah Dinasti Abbasiyah, masa-masa di mana para ilmuwan muslim sedang gencar-gencarnya melakukan penelitian dan hipotesis terhadap ajaran Islam terhadap realitas, sehingga tercipta banyak sekali penemuan dan teori. Dengan menjadikan Al-Quran sebagai sumber, Ibnu Musa al-Khawarizmi dapat menemukan angka nol dan toeri algoritma, Ibnu Sina dengan ilmu bedah dan kedokteran, serta Abbas bin Firnas dengan pesawat terbangnya yang terinspirasi dari surah An-Nahl ayat 79:

 

لَمْ يَرَوْا اِلَى الطَّيْرِ مُسَخَّرٰتٍ فِيْ جَوِّ السَّمَاۤءِ ۗمَا يُمْسِكُهُنَّ اِلَّا اللّٰهُ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ

 

“Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dapat terbang di angkasa dengan mudah? Tidak ada yang menahannya selain Allah. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang beriman.”

Tidak hanya sampai di situ. Proses perkembangan janin di dalam rahim pun ditemukan setelah kehadiran sains dan teknologi yang canggih, sehingga terciptalah USG (ultrasonografi) yang berfungsi untuk melihat janin dengan cara memanfaatkan getaran ultrasound terhadap cairan gel tertentu, sehingga transduser dapat merekam getaran dan mengubahnya menjadi gambar yang tersaji di monitor. Ternyata, surat Al-Muminun sudah menjelaskan secara rinci bagaimana sebuah insan tercipta dan berkembang selama berada di dalam kandungan, dan surat Al-Muminun sudah turun beratus-ratus tahun sebelum mesin USG ditemukan. Tidak percaya? Bukalah Al-Quran dan lihat. Dahsyat bukan?

Pahlawan terbaik adalah manusia yang memiliki impact besar terhadap khalayak dunia, berdedikasi besar terhadap kehidupan dan kemerdekaan seluruh manusia, menjadi suri tauladan paling relevan dengan semua kalangan, gender, dan kondisi fisik manusia. rahmatan lil alamin adalah yang utama. Bagaimana menurut kalian?

 

Oleh : Aletheia Raushan Fikra Ukma, Wakil Ketua OSIS Terpilih SMAN 1 Sulang, Ketua Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) Ranting IPM Planet Nufo, Penulis 2 Buku : Mengkaji Hari, Arsip Insomnia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *