Wawancara Eksklusif dengan Ustadz Abdul Rozaq, Kepala Sekolah Planet NUFO

Awalnya, Sekolah Alam Planet NUFO didirikan untuk mendidik anak-anak para pendiri sendiri, ditambah dengan para peserta program tahfidh 10 bulan yang pada umumnya lulusan SMU. Namun, seiring waktu berjalan, banyak teman para pendiri dan guru NUFO yang semuanya adalah mantan aktivis mahasiswa mengirimkan anak-anak mereka untuk belajar di sana. Bahkan mereka berasal dari berbagai penjuru Indonesia. Letak Planet NUFO yang terpencil di pedalaman Kabupaten Rembang justru dianggap sebagai tempat yang sangat tepat sebagai kawah candradimuka untuk menghafalkan al-Qur’an dan melatih kualitas kepemimpinan. Jarak seolah tak berarti lagi, karena transportasi telah makin mudah. Letak yang terpencil juga sudah tidak masalah, karena ada googlemap yang bisa menunjukkan secara akurat sampai lokasi tanpa khawatir tersesat walaupun tak perlu bertanya.

Baladena: “Ustadz, kenapa Planet NUFO memilih lokasi di bumi pelosok Rembang ini?”

AR: “Haha. Pertanyaan yang menarik ini. Menjatuhkan Planet NUFO di titik ini bukan tanpa pertimbangan mendalam. Sebenarnya kami, para guru kuliah S1 dan S2 di Semarang. Namun, para pendiri berpikir bahwa kota sudah tidak kondusif untuk tempat belajar anak-anak. Sudah banyak pencemaran, baik udara maupun suara. Terlebih lagi, sulit mendapatkan tanah yang luas yang sangat diperlukan anak-anak bisa meng”alam”i. Sebab, sesuai dengan nama sekolah kami, sekolah alam, maka diperlukan alam yang luas untuk benar-benar bisa mengalami. Bukan sekedar berteori. Dengan berbagai pertimbangan, tempatnya yang di sini ini, di luar kampung, di areal lahan pertanian. Di sini kami semua bisa benar menghirup udara bersih, dan bisa memandang ke mana saja tanpa batas.”

Baca Juga  Asosiasi Dagang Negara-negara Arab Kompak Boikot Produk Prancis, Indonesia Kapan?

Baladena: “Kan sudah ada banyak sekolah. Kenapa bikin sekolah lagi. Apakah ada target besar Planet NUFO?”

AR: “Tentu saja. Awalnya target ini bersifat terbatas untuk anak-anak para pendiri. Namun, setelah dijalani, ya harus diterapkan untuk semua yang sekolah dan nyantri di sini. Awalnya, ceritanya Abah Arief Budiman berdiskusi dengan Abah Nasih (Dr. Mohammad Nasih) tentang bagaimana caranya agar puterinya, Aisya, yang sekarang sudah kelas II SMP di sini bisa menempuh pendidikan kurikulum nasional sembari menghafalkan al-Qur’an? Jawabannya adalah membangun lingkungan sendiri yang didesain untuk itu. Ketemulah format sekolah alam ini. Sekolah yang diintegrasikan dengan pesantren. Pagi sampai siang belajar sebagaimana sekolah biasa; selebihnya waktu digunakan untuk belajar materi-materi keislaman, mulai dari ilmu alat bahasa Arab dan kajian al-Qur’an, hadits, dan kitab-kitab kuning lainnya. Dengan kemampuan ini, mereka akan mampu mengakses al-Qur’an dan sunnah Nabi yang sesungguhnya mengandung banyak inspirasi untuk pengembangan sains dan teknologi. Dengan ungkapan yang lebih singkat, kami ingin melahirkan generasi muda anak bangsa yang memiliki: pertama, pengetahuan yang luas yang berbasis al-Qur’an, kedua, keterampilan tinggi dengan kreativitas dan innovasi yang berbasis sains dan teknologi terbaru, ketiga, mental baja dan akhlaq paripurna. Mental dan akhlaq yang dibutuhkan oleh para pemimpin masa depan”.

Baladena: “Berarti di sini diajarkan membaca kitab kuning juga ya?”

AR: “Benar. Bahkan yang kami adopsi adalah metode utawi iku sebagaimana pesantren salaf yang berdasarkan data yang kami punya ternyata paling bisa membuat santri memahami i’rab atau tata bahasa Arab yang fasih bagi santri dari mana saja penjuru Indonesia. Hanya saja, kami menekankan pembelajaran semi privat 1 guru mengajar maksimal 4 orang murid. Sebab, cara belajar massal sebagaimana selama ini terjadi, minim sekali menghasilkan santri yang bisa membaca kitab kuning. Tak lebih dari 2 persen. Ini menjadi pertimbangan dasar kami, sehingga pengasuh di sini lebih banyak berfungsi sebagai motivator, pembangun konstruksi berpikir, dan teladan nyata dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam bekerja. Sebab, sebagai figur sentral, para santri mencontoh apa yang mereka lihat secara langsung pada pengasuh dan para guru. Kami melihat itu pada semangat anak-anak menanam pohon dan sayuran, juga beternak domba, karena pengasuh memberikan contoh konkret. Dan ini memang jadi target besar kami, melahirkan SDM yang berilmu dan berharta, yang dengan keduanya bisa diandalkan untuk bisa menjadi pemimpin, berkuasa.

Baca Juga  Signifikansi Kaderisasi Kaum Muda Islam

Baladena: “Wah, canggih sekali ya. Lalu bagaimana mendesain semua itu?”

AR: “Sejak awal tentu saja kami sudah punya imajinasi tentang desain itu. Lalu kami buat formatnya dan kami turunkan dalam bentuk progran pendidikan yang konkret dan terencanakan. Namun, ternyata di tengah jalan, kami mendapatkan sesuatu yang tak terduga yang memperkuat nuansa pendidikan di sini, terutama dalam hal menghafal al-Qur’an dan berwirausaha. Para peserta program tahfidh 10 bulan membuat lingkungan Planet NUFO selalu hidup selama 24 jam, karena mereka disibukkan dengan aktivitas menambah hafalan, setoran hafalan minimal 1 juz sekali duduk di depan pengasuh, dan muraja’ah. Ini membuat para santri remaja tertular semangat. Demikian juga program wirausaha dengan beternak domba, sinergis dengan pembangunan karakter kepemimpinan yang diinspirasi oleh hadits Nabi: “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, kecuali ia adalah penggembala kambing”. Anak-anak di sini, semuanya punya domba gembalaan.

Baladena: “Mereka angon kambing? Orang tuanya membolehkan?”

AR: “Justru mereka sangat mendukung. Sebagian murid di sini adalah anak para aktivis. Ada anak aktivis HMI, Muhammadiyah, NU, dan berbagai partai politik. Kami terbuka untuk semuanya. Mereka yang memiliki wawasan keislaman yang baik, langsung menangkap bahwa ini adalah pembangunan karakter kepemimpinan dari doktrin Islam. Dan yang tidak memiliki wawasan itu, tetapi aktivis, mudah untuk dijelas. Sementara yang berasal dari golongan bawah juga senang karena anak-anak mereka diberi pelajaran wirausaha sejak dini. Para ortu yang mampu secara ekonomi, membelikan sendiri dombanya. Sedangkan yang tidak mampu, kami sediakan domba dengan pola menggaduhkan. Hasilnya dibagi dua. Lulus sekolah dari sini, mereka sudah punya aset sendiri. Bisa sampai puluhan juta. In syaa’a Allah. Di sini kami mendorong mereka semua untuk menjalani organisasi ekstra sekolah dengan aktif di organisasi sesuai dengan kultur keluarganya. Yang Muhammadiyah kami dorong aktif di IPM, yang NU ya di IPNU, dan yang bukan keduanya atau karena pilihan sendiri bisa di PII. Dan mereka kami latih dan biasakan untuk senantiasa menjalin sinergi antar organisasi, bukan bersaing saja. Dari sinilah, dengan persatuan dan sinergitas yang kuat, kami berharap, kejayaan umat Islam akan terwujud. ***

Redaksi Baladena
Jalan Baru Membangun Bangsa Indonesia

Ilmui Gempa, Kuatkan Iman

Previous article

Dalil Aksi Demonstrasi dalam Alquran

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in News