Konsep keluarga sakinah adalah konsep yang harus dipahami oleh setiap orang baik perempuan maupun laki-laki sebelum menikah. Apa sebenarnya arti kata sakinah?

Ahmad Warson Munawir dalam Kamus Arab-Indonesia Terlengkap (1997) mencatat sebagai berikut: Sakinah dalam kamus Arab berarti; al-waqaaraththuma’ninah, dan al-mahabbah. Arti masing-masing dari kata-kata di atas adalah ketenangan hati, ketentraman, dan kenyamanan. Keluarga yang tenang, tentram, dan nyaman adalah keluarga yang sakinah.

Dalam Tafsir Al-Kabir, Imam ar-Razi menjelaskan istilah “sakana ilaihi” yang berari berarti merasakan ketenangan batin. Satu istilah lain yakni “sakana indahu” berarti merasakan ketenangan fisik. Tenang dalam keluarga sakinah adalah tenang secara fisik dan batin.

Pengertian dari konsep keluarga sakinah erat kaitannya dengan makna perkawinan dalam Islam. Perkawinan adalah pertemuan dua hati yang saling melengkapi satu sama lain.  Perkawinan mesti dilandasi dengan rasa cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah).

Abdul Muhaimin As’ad dalam buku Risalah Nikah Penuntun Perkawinan (1993) mencatat bahwa setiap calon pasangan suami istri yang akan melangsungkan atau akan membentuk mahligai rumah tangga akan selalu bertujuan untuk menciptakan keluarga yang sakinah.

Apa sebenarnya pengertian keluarga sakinah?

Keluarga sakinah terdiri dari dua suku kata yakni keluarga dan sakinah. Pengertian keluarga adalah masyarakat terkecil, minimal terdiri dari pasangan suami-istri sebagai intinya dan ditambah anak-anak yang dilahirkan sang istri.

Setidak-tidaknya, keluarga adalah sepasang suami-istri. Baik keluarga yang sudah memiliki anak atau belum mempunyai anak. Keluarga yang dimaksud adalah suami-istri yang terbentuk melalui perkawinan.

Ada titik penekanan bernama perkawinan. Apabila tidak melalui perkawinan, maka tidak bisa disebut sebagai keluarga. Perempuan dan laki-laki yang hidup bersama tidak dinamakan keluarga apabila tidak diikat oleh perkawinan.

Perkawinan diperlukan untuk membentuk keluarga, sebagaimana firman Allah Swt. yang telah menjelaskan dalam al-Qur’an dalam surat Ar-Rum (30): 21 sebagai berikut:

 وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

Ahmad Mubarok menjelaskan dalam buku Nasehat Perkawinan dan Konsep Hidup Keluarga (2006) bahwa dalam ayat tersebut terkandung tiga makna yang dituju oleh sebuah perkawinan. Tiga makna yang dimaksud adalah sebagai berikut:

Baca Juga  Allah Memberi Ujian Agar Kita Berubah, Bukan Menyerah!

Pertama, “litaskunu ilaiha” yang berarti “supaya tenang”. Maksud adalah supaya perkawinan mmapu menyebabkan ketenangan jiwa bagi yang melaksanakannya.

Kedua, “mawaddah” yang memiliki makna “membina rasa cinta”. Akar kata mawaddah adalah wadada yang berarti membara atau menggebu-gebu. Bisa juga berarti meluap tiba-tiba.

Oleh karena itulah, saat pasangan muda rasa cintanya sangat tinggi, maka akan ada rasa cemburu yang begitu dalam.

Sementara itu, apabila rasa sayangnya masih rendah, maka akan banyak terjadi benturan sebab belum mampu mengontrol rasa cinta yang terkadang sangat sulit terkontrol.

Ketiga, “rahmah” yang memiliki arti sayang. Jika ada pasangan muda yang rasa sayangnya demikian rendah sementara rasa cintanya sangat tinggi.

Dalam perjalanan hidup, semakin bertambah usia pasangan, maka kasih sayang akan semakin naik dan mawaddahnya semakin menurun.

Tatkala melihat kakek-kakek dan nenek-nenek yang terlihat mesra berduaan, maka sebenarnya hal tersebut bukan gejolak wujud cinta atau mawaddah. Apa yang ada pada diri mereka adalah sayang yakni rahmah. Tingkatan rasa sayang tersebut tidak mengandung rasa cemburu.

Jika ayat di atas benar-benar dipahami, maka kita akan mengakui bahwa apa yang menjadi idaman dari banyak orang saat ini adalah sama dengan apa yang Allah Swt. dinyatakan sebagai tujuan suami-istri.

Tujuan yang dimaksud adalah adanya ketentraman dalam rumah tangga. Selain ketentraman, ada juga damai serasi dan hidup bersama dalam suasana cinta-mencintai.

Bukankah Islam pun menginginkan bahwa antara suami-istri agar bisa saling percaya, saling menghargai, saling menghormati, saling membantu, dan saling menasehati? Sebab, letak ketentraman bersemayam di dalam hati.

Siapa yang tak mendambakan keluarga yang sakinah dalam rumah tangganya? Setiap Muslim dan Muslimah tentu mendambakannya. Untuk itu, konsep dan hal-hal yang berkaitan dengan keluarga sakinah baik secara teori maupun praktiknya mesti dipahami dengan baik.

Konsep keluarga sakinah memiliki spektrum yang sangat luas. Ada banyak pengertian dan pembahasan yang menjelaskan dalam pengertian maupun pelaksanaannya.

Di bawah ini akan coba dijelaskan serba-serbi keluarga sakinah yang harus kamu tahu:

Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Urusan Haji Nomor: D/7/1999 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembinaan Gerakan Keluarga Sakinah Bab III Pasal 3 menyatakan bahwa:

“Keluarga yang dibina atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi hajat spiritual dan material secara layak dan seimbang, diliputi suasana kasih sayang antara anggota keluarga dan lingkungannya dengan selaras, serasi, serta mampu mengamalkan, menghayati dan memperdalam nilai-nilai keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia.”

Baca Juga  Mengkader Muslimah Siap Nikah: Rekayasa Sosial Kanda Nasih

Keluarga sakinah bisa diartikan sebagai unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anaknya hidup secara harmonis, diliputi rasa kasih sayang, terpenuhi hak materi dan spiritual dan di dalamnya ketenangan, kedamaian serta mengamalkan ajaran agama sekaligus merealisasikan akhlak mulia.

Sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap orang yang memasuki pintu gerbang pernikahan akan memimpikan keluarga sakinah sebab merupakan pilar pembentukan masyarakat ideal yang dapat melahirkan keturunan yang shalih dan salihah.

Di dalamnya, kita akan menemukan kehangatan, kasih-sayang, kebahagiaan dan ketenangan yang akan dirasakan oleh seluruh anggota keluarga. Setiap keluarga pasti menginginkan tercapainya kehidupan yang bahagia, sejahtera dan damai (sakinah, mawaddah warahmah).

Kehidupan rumah tangga yang bahagia, sejahtera dan damai akan melahirkan masyarakat yang rukun, damai, adil dan makmur (baldatun thaiyyabatun wa rabbun ghafur). Sebab, masyarakat terdiri dari keluarga-keluarga, keluarga adalah pusat semua dari kegiatan masyarakat.

Maka, keberadaan keluarga yang sakinah sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat sebab efeknya sangat kuat dan penting untuk mengeratkan masyarakat melalui pelaksanaan ajaran agama Islam.

Mari mempraktikkan konsep keluarga sakinah. Menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga tercipta bukan saja lingkungan keluarga yang sehat dan baik tapi juga selamat baik dunia maupun akhirat.

Konsep Keluarga Sakinah

Bagaimana sebenarnya konsep keluarga sakinah dalam Islam? Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Urusan Haji Nomor: D/7/1999 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembinaan Gerakan Keluarga Sakinah Bab III Pasal 3 menyatakan bahwa:

“Keluarga sakinah adalah keluarga yang dibina atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi hajat spiritual dan material secara layak dan seimbang, diliputi suasana kasih sayang antara anggota keluarga dan lingkungannya dengan selaras, serasi, serta mampu mengamalkan, menghayati dan memperdalam nilai-nilai keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia”.

Terkait konsep keluarga sakinah, Quraish Shihab dalam Pengantin al-Qur’an: Kalung Permata Buat Anak-anakku (2007) menuliskan bahwa setiap keluarga pasti menginginkan tercapainya kehidupan yang bahagia, sejahtera dan damai atau sakinah, mawaddah warahmah.

Kehidupan rumah tangga yang bahagia, sejahtera dan damai akan melahirkan masyarakat yang rukun, damai, adil dan makmur yakni baldatun thaiyyabatun wa rabbun ghafur. Oleh sebab itulah masyarakat terdiri dari keluarga-keluarga, keluarga adalah pusat semua dari kegiatan masyarakat.

Dalam banyak teori sosilologi disebutkan bahwa individu adalah kunci utama agar struktur atau masyarakat bisa terjaga kebaikannya. Kemudian, struktur-struktur kecil dalam masyarakat juga akan menopang kebaikan tersebut.

Kita semua tahu, struktur paling kecil salam masyarakat adalah rumah tangga, sebuah keluarga. Apabila dalam satu keluarga tidak jelas juntrungannya, bagaimana jika dihadapkan pada struktur yang lebih luas yakni masyarakat?

Baca Juga  Hijrah dan Simplifikasi Agama

Maka, benar apa yang dituliskan Quraish Shihab dalam buku pengantin al-Qur’an bahwa konsep keluarga sakinah adalah hulu dari hilir di mana baldatun thayyibun wa rabbun ghafur bermuara. Masyarakat yang rukun, damai, adil, dan makmur terwujud karena praktik konsep keluarga sakinah.

Ciri-ciri Keluarga Sakinah

Keluarga dianggap sakinah apabila berada dalam situasi yang tentram, saling cinta kasih, fungsional, dan bertanggung jawab.

Keluarga sakinah adalah keluarga yang anggotanya saling memberikan ketenangan dan ketenteraman, serta terpenuhinya segala unsur hajat hidup baik spiritual maupun material secara layak dan seimbang

Agus Riyadi dalam Bimbingan Konseling Perkawinan menuliskan tentang ciri-ciri keluarga sakinah. Keluarga disebut keluarga sakinah jika ada ciri-ciri sebagai berikut:

Pertama, kehidupan beragama dalam keluarga. Kedua, mempunyai waktu untuk bersama. Ketiga, mempunyai pola komunikasi yang baik bagi sesama anggota keluarga.

Keempat, saling menghargai satu dengan yang lainnya. Kelima, masing-masing merasa terikat dalam ikatan keluarga sebagai kelompok.

Keenam, bila terjadi suatu masalah dalam keluarga mampu menyelesaikan secara positif dan kontruktif.

Sementara itu, untuk membangun keluarga yang sakinah ada tiga cara yang mesti dilakukan. Berikut cara-caranya:

Pertama, pasangan suami isteri harus saling berkomunikasi dan bermusyawarah supaya semua permasalahan akan bisa diatasi dengan baik.

Kedua, pasangan suami isteri harus saling mengingatkan terhadap tujuan pernikahan supaya rintangan dan gangguan apapun akan bisa dihadapi bersama-sama.

Ketiga, pasangan suami isteri harus saling bahu membahu mewujudkan cita cita rumahku surgaku.

Keluarga sakinah mempunyai peran dan fungsi untuk membentuk manusia-manusia bertaqwa.

Ciri-ciri keluarga sakinah mesti dibarengi dengan merumuskan simpul-simpul dalam keluarga sakinah.

Membentuk masyarakat yang sejahtera juga dilakukan dengan merumuskan simpul-simpul yang bisa mengantar pada keluarga sakinah sebagai berikut:

Pertama, dalam keluarga ada mawaddah warahmah.

Kedua, hubungan suami suami istri harus atas dasar saling membutuhkan.

Ketiga, suami istri dalam bergaul memperhatikan hal-hal yang secara sosial dianggap patut (ma’ruf).

Keempat, berdasarkan hadits Nabi, pilar keluarga sakinah ada lima yaitu berpegang pada agama, muda menghormati yang tua dan tua menyayangi yang muda, sederhana dalam belanja, santun dalam bergaul, dan selalu introspeksi.

Selain ciri-ciri keluarga sakinah, ada pula empat faktor yang mendatangkan kebahagiaan keluarga.

Keempat faktor tersebut adalah suami dan istri yang setia, anak-anak yang berbakti, lingkungan sosial yang sehat, dan dekat rizkinya.

sumber https://bincangsyariah.com/

Evaluasi Sesi Ke 2 Tim KKN MIT DR Ke 12 Kelompok 40 Bersama DPL

Previous article

KKN MMK DR Biologi UIN Walisonggo Gelar Acara Webinar Wirausaha

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Syariah