Seorang Profesor dan Kiai, Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, Guru Besar UIN Surabaya, menyatakan kesaksian dalam sebuah podcast yang viral di media sosial, bahwa proses Muktamar ke 34 di Lampung, yang mempertarungkan Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj dengan KH. Yahya Cholil Staquf, merupakan Muktamar yang penuh dengan risywah, terutama dilakukan oleh kubu Gus Yahya. Mulai dari booking pesawat dan hotel, berikut keteribatan mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, yang disebutkan oleh Prof. Imam melakukan “pemalakan” kepada para pejabat Kemenag.
Praktik risywah tersebut menurut saya perilaku yang zalim, dengan kata lain sangat menyakiti NU. Bagaimana mungkin ormas keagamaan NU, yang dielu-elukan sebagai ormas keagamaan keramat justru dirusak oleh para elitnya sendiri, demi kedudukan dan jabatan dunia. Risywah sendiri dalam Islam merupakan praktik suap dan sogokan, untuk mengondisikan sesuatu demi tercapainya tujuan tertentu. Apakah mungkin Prof. Imam bohong? Saya meyakini tidak. Bahwa praktik risywah dalam setiap kontestasi Muktamar NU itu bukanlah rahasia umum.
Jangankan tingkat Pengurus Besar, praktik zalim risywah serupa sangat mungkin terjadi dalam level Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang, bahkan sampai level Majelis Wakil Cabang (Kecamatan). Sungguh tidak habis pikir, momen sakral Muktamar NU justru dikotori dengan praktik korup laiknya Kongres partai politik. Dan yang lebih mirisnya lagi adalah mereka mengaku para ulama dan santri, mereka yang ahli Al-Qur’an, hadis dan kitab kuning.
Pantas saja kalau gonjang-ganjing kasus demi kasus yang meledak belakangan ini tidak lain adalah bom waktu dari akumulasi budaya organisasi yang kotor dan rusak. Yang paling menyakitkan lagi adalah bahwa NU ini merupakan organisasi para ulama, bermakna kebangkitan ulama, sungguh ini bukan hanya telah menyakiti NU itu sendiri, melainkan juga menyakiti para muassis, Islam, Indonesia dan umumnya warga Nahdliyin di seantero pelosok negeri.
Kalau kita perhatikan lagi, setelah upaya pemenangan Gus Yahya menjadi Ketua Umum PBNU, didukung oleh mereka yang juga mengaku keluarga, saudara dan para pengikut ideologis KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Sebuah buku diterbitkan secara khusus berjudul “Menghidupkan Gus Dur” karya penulis AS Laksana. Buku itu merupakan bagian narasi kampanye Gus Yahya di mana ia seolah-olah akan menjadi Gus Dur sebagaimana ia dulu menjadi Ketua Umum PBNU.
Memang Gus Yahya pernah menjadi Juru Bicara Gus Dur saat ia menjadi Presiden, tetapi siapa yang menjamin ia akan menjadi sosok Negarawan sekelas Gus Dur, sampai misalnya ia didukung oleh keluarga Gus Dur pun, semuanya tidak menjamin. Apalagi faktanya di lapangan menunjukkan demikian. PBNU semakin tidak terkendali, sampai berujung pada konflik internal yang entah mau kapan berakhirnya. Niat baik berkaitan dengan khidmat kepada para ulama NU, ternyata omong kosong belaka.
Andai saja KH. Hasyim Asy’ari dan Gus Dur masih hidup, saya yakin, keduanya akan merasa sakit, melihat NU dibawa secara ugal-ugalan. Apalagi Gus Yahya sering kali terlihat membeberkan sejumlah budaya buruk organisasi yang lain seperti “ngemis-ngemis” proposal, sehingga dari budaya buruk itu yang akhirnya membuat PBNU termotivasi untuk menerima jebakan konsesi tambang dari Pemerintah. Apakah ini akhir dari keramatnya NU? Indikasi-indikasinya sangat jelas mengarah ke sana.
Mari kita saksikan tontonan drama apalagi yang akan diperlihatkan oleh para elit PBNU dalam konflik internal dan segala keruwetan lainnya. Yang jelas, PBNU ke depan sudah tidak layak lagi dijadikan teladan, entah untuk waktu berapa lama, karena akan sulit mengembalikan keberkahan NU sebagai organisasi yang menjadi benteng terakhir kekuatan civil society kalau faktanya demikian menyakitkan. Kini, NU telah porak-poranda bukan oleh HTI, FPI, Salafi Wahabi, dan kelompok Islam lain yang selama ini diasosiasikan negatif sebagai perusak Islam dan Negara, ternyata NU sendiri tidak kalah rusak. Semoga hukuman ini akan mejadi momen hijrah dan pertobatan nasuha untuk NU, elit dan warganya.
Wallahu a’lam
Mamang M Haerudin (Aa)
Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Al-Insaaniyyah.







