Mencari Hikmah dari Musibah (Wawancara Eksklusif dengan Pengasuh Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO, Dr. Mohamamd Nasih, M.Si.)

Covid-19 telah mengubah banyak aspek kehidupan selama hampir dua tahun terakhir. Virus yang bermula dari Wuhan ini telah menjadi musibah di seluruh penjuru dunia. Namun, di balik musibah, sesungguhnya selalu ada berkah. Tergantung bagaimana manusia menghadapinya. Jika serius mencarinya, maka hikmah itu akan benar-benar nyata bisa dirasa.

Berikut ini wawancara eksklusif baladena.id dengan Pengasuh Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO Mlagen Rembang, Dr. Mohammad Nasih, M.Si., atau yang sering disapa Abana atau Abah Nasih.

Baladena: “Bagaimana menghadapi musibah Covid-19 yang tak kunjung usai, bahkan dikabarkan akan ada varian baru yang harus kita waspadai”.

Abana: “Namanya saja musibah, ya harus kita hadapi sebagai musibah. Kita mesti menghadapinya dengan sepenuh kesabaran. Sabar harus kita pahami secara benar sebagai daya tahan tinggi. Dalam konteks musibah covid-19 ini, kita tentu saja harus bersikap secara benar. Sebagai manusia yang dikaruniai Allah akal untuk memahami sains dan teknologi, tentu saja kita harus menggunakannya untuk menghadapinya. Jangan menghadapi musibah dengan cara pandang yang tidak tepat. Banyak orang bahlul mengatakan bahwa takut hanya kepada Allah, bukan kepada virus. Itu tanda mereka jarang baca al-Qur’an, sehingga gagal memahaminya dengan benar. Kalau kita tidak memahami permasalahan ini, kita ikut saja kepada yang memahaminya dengan baik dan dapat kita percaya. Sebagaimana orang awam agama, mengikuti orang yang benar-benar alim dalam bidang agama. Dan bukan taqlid buta.”

Baladena: “Jadi harus berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi ya?”

Abana: “Ya iya. Ini persoalan yang murni berkaitan dengan pengembangan sains dan teknologi. Bahwa kejadian ini adalah konspirasi, bisa saja. Tapi faktanya memang ada. Dan saya sekeluarga pernah mengalaminya juga. Alhamdulillah bisa melewatinya dengan selamat. Namun, ada juga sahabat dekat saya, bahkan sudah melebihi saudara saya sendiri, Mas Arif Budiman, yang mengajak saya mendirikan Planet NUFO, meninggal karena virus ini. Ini berarti bahwa virus ini benar-benar musibah bagi kami. Namun, saya juga mendapatkan banyak hikmahnya”

Baladena: “Apa itu hikmahnya? Mohon berbagi ya, Bah.”

Abana: “Hikmah dalam konteks apa ini. Banyak juga soalnya. Mungkin yang paling signifikan, hikmahnya berkaitan dengan kehidupan saya dengan Planet NUFO ya. Saat musibah covid, Planet NUFO baru masuk tahun kedua. Santri-muridnya baru 100-an. Asetnya juga belum banyak. Karena ada covid ini, saya tidak diizinkan istri saya masuk rumah sebelum melakukan isolasi selama dua pekan. Awal-awal dulu kan mencekam sekali ya, sehingga kami ketat sekali. Apalagi istri dan adik-adik ipar saya adalah dokter dan kami tinggal di rumah yang sama. Rumah mertua indah ceritanya ini. Jadi, karena disuruh isolasi, daripada saya sendirian di rumah sebelah, mending saya isolasi di Planet NUFO saja. Saya benar-benar mengisolasi diri di rumah kapsul nomor 6 dan tidak melakukan interaksi sama sekali dengan penghuni lainnya di NUFO. Saya keluar, jalan-jalan di depan NUFO dengan prokes ketat. Dan itu pun di alam terbuka, karena posisinya di luar desa. Posisi Planet NUFO kan di tengah sawah. Setiap jalan atau duduk di depan NUFO, saya mendapatkan inspirasi baru, di antaranya memelihara domba dengan efisien. Caranya dengan menyewa lahan-lahan yang bisa ditanami tebu. Dengan begitu, domba bisa digembalakan di dalamnya. Hasil tebunya tetap seperti biasanya. Jadi, keuntungan bertambah. Dari tebu iya, dari domba juga. Masih dapat kohe domba lagi. Anak-anak juga pasti senang melihat banyak domba. Banyak domba itu membuat mereka berani berpikir besar, bahwa kalau memelihara domba harus banyak, jangan cuma tiga-lima ekor. Kalau sedikit, kapan kaya rayanya?
Jadi, karena covid ini, saya bisa mengamati secara langsung setiap hari selama dua pekan aktivitas para ustadz/ah dan murid-santri di Planet NUFO. Biasanya, baru sehari semalam sudah ditelpon istri saya, ditanya kapan pulang. Tapi saat itu malah ditelpon tidak boleh pulang. Saya godain saja dia sekalian, bahwa saya sudah mau pulang, kangen dia dan anak-anak. Tapi istri saya melarangnya. Hahahaha.

Saya mencipta beberapa lirik lagi. Satu lirik mars Planet NUFO, dan beberapa lagu religi bertema cinta saat saya sekeluarga terkena Covid-19. Saat itu, kami sekeluarga melakukan isolasi mandiri di rumah. Karena terdiagnosisnya tidak bersamaan antara istri saya dan saya, maka kami sempat berbeda kamar tidur. Nah, pada saat sendiri itu saya mencipta lagu. Mars Planet dan NUFO berjudul “Tanda Alam” dan “Mengingat-Mu” sudah bisa dinikmati di youtube.”

Baladena: “Apa lagi, Bah?”

Abana: “Oh ya. Awal-awal Planet NUFO, para santri shalat Jum’at di Masjid Desa Mlagen. Namun, karena Covid-19 kan tidak boleh berkerumun, bahkan shalat Jum’at sempat diliburkan. Karena tidak ada shalat Jum’at di masjid desa, maka kami melakukan shalat Jum’at di pondok. Mengapa ini jadi berkah? Kalau kami tidak shalat di masjid desa tanpa sebab, pasti kami akan dicurigai macam-macam. Padahal tidak ada yang macam-macam itu. Planet NUFO kan terbuka untuk siapa pun. Tidak berafiliasi kepada ormas atau orpol mana pun, walaupun saya aktivis ormas keagamaan dan juga partai politik. Tapi saya tidak mau anak-anak ideologis saya menjadi berpikiran sempit. Mereka harus terbuka. Saya ini, meminjam Kahlil Gibran, harus menjadi busur panah yang mampu melesatkan anak-anak panah ke segala penjuru. Nah, pesantren harus memberikan perspektif itu dengan baik. Di antara sarananya adalah melalui khotbah Jum’at. Kalau khotbah Jum’atnya monoton dan eksklusif, bisa menyebabkan masalah. Itulah sebab, di antara elemen penting pesantren, di samping kurikulum, kiai/guru/ustadz, asrama, adalah masjid. Masjid di samping untuk mendirikan shalat, juga berfungsi sebagai sarana untuk mentransformasikan pandangan-pandangan keagamaan. Nah, karena bermula dari masalah Covid-19, kami sekarang tetap shalat Jum’at di masjid pondok dan tidak ada masalah sama sekali. Apalagi santri-muridnya sekarang sudah hampir 200 orang. Kalau separuhnya laki-laki shalat Jum’at di masjid desa, mungkin juga tidak muat kan.
Dengan shalat Jum’at sendiri di masjid pondok, anak-anak bisa mengalami jadi khatib. Namanya saja sekolah alam. Bukan hanya bermakna sekolah di alam terbuka, tetapi juga meng-alam-i. Kalau shalat Jum’at di masjid desa, mana bisa mereka jadi khatib dan imam shalat Jum’at. Kan sudah diatur takmir masjid dan petugasnya adalah mereka yang dipilih dan dianggap sebagai pemuka masyarakat desa. Dan semuanya senior. Nah, di pondok, petugas khotbah, imam, dan muraqqi, bisa dibagi-bagi agar semuanya pernah mengalami. Dengan begitu, mereka sudah terbiasa. Tidak akan canggung lagi jika sewaktu-waktu mendapatkan tugas di mana pun dan kapan pun.
Berkah di balik musibah tidak hanya dalam masalah ini. Yang lain juga banyak. Misalnya, gagal dalam usaha. Kami kan punya banyak usaha. Tidak semuanya langsung berhasil. Tapi kami menganggap kegagalan bukan sekedar musibah, tetapi adalah penyemangat untuk mencari cara agar berhasil. Masa’ ada orang lain yang berusaha yang sama berhasil, tapi kami gagal. Misalnya, pelihara domba tiba-tiba, pada tahun ketiga kurus-kurus dan banyak yang bulunya brodol. Akhirnya kami melakukan evaluasi dan menggandeng IPB University Bogor untuk melakukan pengabdian di Planet NUFO. Mahasiswa IPB belajar ngaji di NUFO, dan mereka bisa mengajari para santri-murid bertani dan beternak secara saintifik. Jaringan keluarga bertambah. Alhamdulillah. Semuanya pokoknya harus ditemukan hikmahnya. Tidak boleh hanya pasrah. Harus usaha terus. Pasrahnya hanya dalam konteks paradigma bahwa semuanya Allah telah atur dengan aturan yang terbaik.

(Red/AHA)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *