MANAJEMEN NIAT DALAM BERKEHIDUPAN

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Artinya :

“Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

 

Hadits di atas memiliki tingkat rasionalitas yang tinggi. Karena pada hakikatnya, segala perbuatan dan amalnya berkaitan erat sekali dengan niat kita dalam melakukan segala pekerjaan. Secara etimologis, niat bisa diartikan sebagai maksud atau tujuan suatu perbuatan yang disengaja, keinginan dan kehendak hati dalam melakukan suatu pekerjaan berdasarkan kesadaran. Namun, secara terminologis belum ditemukan definisi yang khusus mengenai niat, sehingga bila ditemukan fatwa-fatwa dari orang-orang mengenai definisi khusus dari niat yang berlawanan secara bahasa, maka orang tersebut sebetulnya tidak memiliki alasan kuat yang dapat dipertanggungjawabkan, sebagaimana yang dijelaskan oleh Dr. Umar al-Asyqar dalam buku Maqashidu al-Mukallafin.

Dalam buku Fiqh Niat prakarsa Isnan Ansory menjelaskan bahwa Imam al-Qarafi al-Maliki mengungkapkan dalam kitab adz-Dakhirah, bahwa niat berarti tujuan yang diinginkan oleh hati manusia melalui perbuatannya. Menurut Nawawi Ichsan, ia mengatakan bahwa niat dapat diartikan sebagai maksud untuk melakukan sesuatu dan bertekad bulat untuk menjalankannya. Pendapat lain juga mengatakan, bahwasanya niat adalah maksud yang terdapat dalam hati seseorang untuk melakukan sesuatu yang ingin dilakukan.

Beberapa fatwa dan tafsiran dari beberapa tokoh di atas, dapat ditarik kesimpulan, bahwa niat bisa didefinisikan sebagai kehendak hati yang kuat untuk melakukan suatu perbuatan. Niat tentu dilakukan secara sadar, karena dalam menentukan niat melibatkan hati di sana, sehingga dampak yang terjadi adalah perbuatan yang disengaja.

Dalam kehidupan Islam, perihal niat ini seringkali dianggap sebagai perkara yang remeh temeh untuk diulas dan dibenahi. Padahal niat itu sendiri menjadi rukun pertama dalam setiap ibadah-ibadah fardhu maupun yang sunnah. Seperti contoh, rukun pertama dalam berpuasa adalah niat untuk berpuasa, rukun pertama dalam salat dhuha adalah niat untuk salat dhuha. Tentu saja, tanpa didasari niat, segala macam ibadah tidak bernilai apa-apa, sehingga yang kita dapatkan hanyalah kesia-siaan dan rasa lelah. Naudzubillah min dzaalik.

Membahas perkara niat, ternyata niat tidak hanya menyangkut kegiatan-kegiatan agamis dan kewajiban kita untuk beribadah sebagai umat Islam saja, namun semua perbuatan yang bermanfaat, pada dasarnya dapat bernilai ibadah hanya dengan memperbaiki manajemen niat kita dalam melakukannya. Seperti contoh, kita sebagai murid yang wajib ber-thalabul ilmi dapat mengatur niat kita dalam menuntut ilmu, yakni untuk memperbaiki pola pikir kita, sehingga kita dapat bersumbangsih dalam memajukan kecerdasan ummat, dan juga bangsa.

Sebagaimana yang diterangkan Ust. Muhammad Abdurrazaq di tengah pembelajaran Ushul Fiqh.

Ia berfatwa, bahwasanya di yaumul mizan nanti, manusia akan dihadapkan dengan tiga kotak yang berisikan amal dan perbuatan mereka selama masih hidup di dunia. Kotak yang pertama adalah kotak putih yang berisikan amal-amal terpuji dan ibadah, kotak yang ketiga berisikan amal tercela, dan yang terakhir adalah kotak tak berwarna yang berisikan amal dan perbuatan yang tiada nilainya. Sekiranya yaumul mizan dapat dimetaforakan secara demikian.

Kesengsaraan terbesar manusia saat hari itu, bukanlah terhadap banyaknya kotak hitam yang mereka peroleh, atau sedikitnya kotak putih yang mereka dapatkan, melainkan melimpahnya kotak tak berwarna yang sejatinya berisikan amal-amal ibadah, yang terpuji, namun tidak dilandaskan dengan niat ibadah. Pada intinya, mereka hanya mendapatkan seonggok kesia-siaan. Ini dapat menjadi sebuah renungan untuk membangun sebuah catalyst (titik balik yang kuat) bagi kita dalam mengelola niat.

Dalam Islam, hakikat dari penciptaan manusia, adalah untuk beribadah kepada Allah (Adz-Dzaariyaat 51:56). Kata ibadah, merujuk pada KBBI, berarti perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah SWT, yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya. Dalam hal ini, ibadah dapat dilakukan dengan selalu menyertakan Allah dalam segala pekerjaan.

Ibadah tidak melulu soal perkara wajib dan sunnah sebagaimana yang tertera dalam beberapa sumber syara’ yang pokok (al-Qur’an dan as-Sunnah), namun secara kontekstual, ibadah juga dapat diartikan sebagai suatu kegiatan positif yang dilandasi dengan niat ibadah, dan semata hanya mendamba ridha-Nya.

Bagaimana caranya? Gampang saja, karena dalam setiap apa yang kita lakukan dapat bernilai ibadah. Bahkan satu kali kaki kita melangkah, itu juga dapat bernilai ibadah. Caranya, sebagai berikut,

  1. Sadar

Dengan cara membuka penuh pintu hati kita sampai pada tahap semua perbuatan yang kita lakukan, mulai dari yang remeh temeh hingga pada ibadah secara syara’ terawasi sepenuhnya, sehingga dengan mudah bagi kita untuk mengelola niat.

  1. Atur Niat

Setelah kesadaran terkumpul secara optimal, dengan mudah kita dapat memantapkan niat dalam segala perbuatan sebagai ibadah. Banyak sekali contohnya, seperti melangkahkan kaki untuk mandi, dengan kesadaran penuh, kita niatkan langkah kaki ini untuk mandi, agar dapat ber-thalabul ilmi dengan kondisi prima, agar dapat mengajar dengan performa yang terbaik, dan beribadah dengan sangat khusyuk.

Bisa pula dengan mengatur niat makan kita, agar dapat beribadah secara maksimal, dan agar dapat menangkap ilmu pengetahuan dengan sempurna. Bisa pula dengan mengatur niat minum, agar terjauh dari dehidrasi, sebagai bentuk rasa syukur kita terhadap kesehatan yang Allah beri. Itu semua sudah dikategorikan sebagai ibadah.

  1. Biasakan

Bisa karena terbiasa bukan? Oleh karena itu, biasakan diri kita untuk mengatur niat. Dengan membiasakan diri, inshaAllah, kebiasaan ini akan terus mengakar hingga menjadi sebuah karakter terpuji yang senantiasa tertanam dalam diri kita.

Orang yang paling mulia di sisi Allah, ialah orang yang senantiasa bertakwa. Mereka, orang-orang yang hatinya selalu diselimuti oleh cinta pada-Nya, dan rasa takut akan murka-Nya. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah menjauhi kesadarannya akan dzikirnya, akan ibadahnya, dan imbalan bagi mereka adalah surga dengan kenikmatan yang tiada habisnya, bahkan mereka kekal di dalamnya. Bukankah ini yang menjadi keinginan kita semua? Oleh karena itu, perbaiki niat kita, maka akan meningkat pula ketakwaan kita pada-Nya.

 

Oleh : Aletheia Raushan Fikra Ukma, Wakil Ketua OSIS Terpilih SMAN 1 Sulang, Ketua Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) Ranting IPM Planet Nufo, Penulis 2 Buku : Mengkaji Hari, Arsip Insomnia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *