MAKIN MENYERIUSI PESANTREN PERKADERAN

Baladena.ID/Istimewa

Baladena.ID – Kesadaran tentang pentingnya kaderisasi santri, membuat Dr. Mohammad Nasih, M.Si. al-Hafidh terpanggil untuk mendirikan Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang pada medio 2011. In put awal calon kader saat itu adalah lulusan SMU atau sederajat yang diberi beasiswa kuliah di IAIN (sekarang UIN) Walisongo Semarang. Namun, sejak lima tahun terakhir, mahasiswa yang digembleng di Monasmuda Institute juga berasal dari berbagai perguruan tinggi, di antaranya Undip, Unissula, Udinus, dan juga Unwahas. Rumah perkaderan ini bisa dikatakan sebagai pesantren plus, karena semua materi ajar di pesantren bisa didapatkan di sini.

Karena merasa bahwa kaderisasi perlu dilakukan lebih dini, suami dr. Oky Rahma Prihandani, Sp.A., M.Si.Med. itu, pada 2019 juga mendirikan Pesantren dan Sekolah Alam Nurul Furqon di Mlagen, Pamotan, Rembang, Jateng atau yang lebih dikenal dengan Planet NUFO. Bahkan sebagian santri yang masuk di Planet NUFO adalah anak-anak aktivis HMI dari berbagai penjuru nusantara. Justru hanya beberapa gelintir saja yang berasal dari Rembang. Karena fokus yang makin tajam pada upaya kaderisasi, Pengajar ilmu politik di Fisip UMJ dan Pascasarjana UI itu kini tidak lagi memenuhi undangan syuting ceramah di TV.

Apa yang membuat bapak lima anak bernama depan Atana dan Atena itu kini makin serius melakukan kaderisasi di pesantren? Berikut petikan wawancara baladena.id dengan pria yang oleh para santrinya akrab disapa Abah Nasih atau Abana itu:

Baladena.id: “Abah Nasih, apa yang menjadi latar belakang mendirikan pesantren perkaderan?”

Bacaan Lainnya

Abana: “Latar belakangnya ya fakta jumlah kader muslim ini masih sangat kurang. Kader itu artinya kan kerangka, frame, atau figura. Figura berfungsi untuk membuat kertas lembek yang ada di dalamnya menjadi tegak, tidak bengkok bahkan tertekuk. Umat ini memerlukan kader pemimpin yang bisa mengarahkan mereka ke jalan yang lurus, tidak bengkok atau belok-belok. Karena itu, seorang kader harus berkualitas andal. Ilmunya harus berbasis al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw.. Keduanya harus jadi koridor. Pemahamannya harus benar. Bukan hanya mengklaim berbasis al-Qur’an dan Sunnah, tetapi ternyata salah. Mengatakan bersanad sambung sampai kepada Rasulullah, tetapi pemahamannya tidak tepat. Itu yang menyebabkan umat ini tertinggal dalam seluruh aspek kehidupan. Dan inilah yang kita alami hari ini. Wa bil khusus muslim Indonesia.”

Baladena.id: “Apa buktinya bahwa banyak pemahaman keliru di kalangan umat ini, Bah? Agar tidak dianggap sebagai tuduhan tak berdasar.”

Abana: “Buktinya sederhana. Kita mulai dari premis bahwa “Islam ini ajaran yang benar” ya. Di antara janjinya adalah menjadikan umatnya sebagai umat terbaik. Faktnya, sekali lagi, umat ini tertinggal dalam hampir seluruh aspek kehidupan. Itu menunjukkan dua kemungkinan. Ajaran Islam sudah dipahami dengan benar, tetapi tidak dijalankan. Atau yang kedua, banyak ajaran Islam yang dipahami secara keliru, alias disalahpahami, sehingga implementasinya pasti tidak sesuai dengan yang diinginkan oleh Allah dan RasulNya. Tentu saja, baik yang pertama maupun yang kedua, ini adalah masalah. Dan saya lebih banyak melihat yang kedua yang sedang terjadi. Banyak sekali pemahaman kita yang keliru.”.

Baladena.id: “Sederhana tapi logis memang, Bah. Lalu bagaimana solusinya?”

Abana: “Di antara yang sangat penting dilakukan pertama kali adalah melakukan rekonstruksi pemikiran religius dalam Islam yang bisa memandu mengarahkan kepada sikap yang progresif. Melakukan ini hanya mungkin apabila kita menemukan anak-anak muda yang cerdas dan berani. Merekalah yang harus kita bina secara serius dengan program kaderisasi. Jika sudah layak disebut sebagai kader, merekalah yang bertugas untuk meluruskan paradigma yang bengkok. Sebab, meluruskan yang bengkok ini tidak mudah. Salah-salah malah dimusuhi oleh banyak orang, karena mereka sudah berabad-abad dalam keadaan itu, sehingga sudah menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan itu sudah terlanjur dianggap sebagai kebenaran. Istilah yang sering kita dengar adalah menganggap benar sesuatu yang sudah kadung jadi kebiasaan. Bukan membiasakan yang benar.”

Baladena.id: “Makin penasaran ini, Bah. Contoh konkretnya apa ya, Bah?”

Abana: “Banyak sekali. Yang sederhana-sederhana saja ya. misalnya, Islam mendorong kita kaya. Tetapi umat kita ini lebih banyak yang secara ekonomi lemah. Kalah oleh umat lainlah intinya. Padahal banyak ayat al-Qur’an mendorong kaya. Jihad ya dengan harta dan jiwa. Nabi kita juga profesional sukses yang menikah dengan perempuan pengusaha kaya raya. Ini karena memahami ayat-ayat secara salah fatal. Misalnya ayat wa tazawwaduu fa inna khayra al-zaadi al-taqwaa, dipahami bahwa takwa adalah sebaik-baik bekal. Padahal ayat ini menekankan agar kita menyiapkan diri dengan sebaik-baik bekal yang bisa membuat kita jadi takwa. Dan bekal yang terbaik secara umum dalam konteks itu sampai hari ini ya masih sama, uang. Harus kaya kita. Implikasi pemahaman ini bisa tidak hanya berhenti kepada kekuatan ekonomi, tetapi juga pengembangan sains dan teknologi, karena ia memerlukan dana yang besar. Juga politik. Kalau dalam ketiga aspek ini kita kalah, ya sudah, kita ada di bawah.”

Baladena: “Apa langkah konkret Abana dalam menyeriusi pesantren perkaderan ini?”

Abana: “Pada dasarnya pesantren memerlukan kesediaan untuk membina detik demi detik. Santri-murid itu ibarat telur yang harus dierami. Boleh ditinggal oleh induk unggas, tetapi tidak boleh lama-lama. Jika terlalu lama, maka telur akan gagal menetas. Pesantren ya begitu. Apalagi pesantren perkaderan. Memerlukan sikap istiqamah kita untuk memandu secara kontinue.”

Baladena.id: “Apa suka dukanya?”

Abana: “Sukanya melihat sebagian anak-anak binaan ini mengalamai perkembangan secara signifikan. Misalnya dalam hal penguasaan teks berbahasa Arab. Dengan metode yang selalu kami kembangkan, menyesuaikan perkembangan perkembangan teknologi, kami bisa melihat perkembangan prosentase santri-murid yang bisa membaca dalam arti memahami arti kitab berbahasa Arab. Jumlah mereka sudah mencapai 40%. Padahal di pesantren pada umumnya hanya 2% saja. Karena pesantren kami tidak menjadi underbow dari organisasi, kelompok, madzhab mana pun, maka kami lebih bebas untuk melakukan perubahan apa pun, tanpa harus menenggang pihak-pihak yang disungkani. Tidak ada itu. Pokoknya, kalau kami anggap baik, maka akan kami kerjakan. Orang lain mau bilang apa saja, hanya kami dengarkan sedikit, lalu kalau ilmiah komentarnya, kami lakukan kajian. Kalau ternyata kami yang benar, kami lanjutkan. Kalau hanya sikap fanatik dari orang luar, kami anggap sebagai angina lalu saja.”

Baladena.id: “Dukanya?”

Abana: “Apa ya dukanya? Kami menikmati semua prosesnya. Berat sih memang. Tapi karena ini adalah pilihan dan panggilan hidup kami, ya kami nikmati saja. Walaupun kecil, ya kita anggap saja ini adalah bagian dari perjuangan. Setidaknya kalau boleh, disebut perjuangan melawan kebodohan dan pembodohan. Tapi kami memang masih memiliki PR besar. Kalau urusan meningkatkan pemahaman, bisa dicek secara langsung. Hasilnya, kami benar-benar senang, bahagia. Tapi urusan kewirausahaan ini saya masih merasa belum begitu berhasil. Di Monasmuda Institute misalnya, 60% mahasantri jadi dosen. Sementara yang menggeluti dunia usaha sampai sukses baru beberapa gelintir saja. Dan itu pun belum ada yang moncer. Nah, ini terobati dengan harapan baru di Planet NUFO yang sebagian santri-muridnya sudah terlihat menikmati usaha-usaha yang membuat mereka walaupun masih belia, tetapi sudah mandiri. Mereka bisa menghasilkan uang sendiri untuk memenuhi sebagian kebutuhan hidup sehari-hari mereka. Kambing-kambing mereka sudah terlihat gemuk-gemuk dan beranak-pinak. Mereka juga gemar menanam bibit tanaman untuk dijual. Walaupun masih saya yang membeli. Bisa saya jual lagi, atau saya tanam di kebun saya sendiri. Misalnya, kacang saci saya tanam di kebun saya sendiri, karena kami memang membutuhkan sangat banyak kacang ini untuk memenuhi kebutuhan pangan dengan kandungan Omega 3 yang tinggi.”

Baladena.id: “Urusan pendanaan bagaimana?”

Abana: “Alhamdulillah sampai saat ini kamu merasa cukup. Setidaknya bisa dilihat bahwa kami selalu tumbuh dan berkembang. Dari aspek fisik, tukang di Planet NUFO misalnya, dari awal berdiri sampai hari ini belum pernah libur. Berarti kan masih kuat bayar. Hahaha. Kuncinya banyak usaha banyak berdoa saja. Kami tidak pernah membuat proposal permohonan dana dalam bentuk apa pun. Sebab, kami ingin santri-murid berdaya dan memiliki kepercayaan diri tinggi. Kalau kami minta-minta, nilai yang kami tanamkan pasti jadi hambar dan terkesan omong kosong saja. Tapi kalau kami membuktikan bisa jalan sendiri dengan kaki kami sendiri, maka anak-anak juga akan semangat. Walaupun kami tidak menolak siapa pun yang ingin berkontribusi. Dengan catatan harus menyesuaikan dengan cara kami yang tidak merusak mental. Contoh kecil saja, jika ada yang akan membantu anak-anak yang berasal dari keluarga pra sejahtera atau yatim, kami tidak mengizinkan mereka menerima amplop di depan. Itu merusak mental mereka. Jumlahnya tidak seberapa, tapi efeknya bisa sangat besar. Biasanya kami beri pengertian. Kalau mau boleh. Kalau butuh foto, fotonya dengan perwakilan dari kami untuk bukti simbolis. Tapi bukan anak-anaknya. Anak-anak yang lemah ekonomi tidak boleh diposisikan makin rendah dengan cara itu.”

Baladena.id: “Jadi, dari mana sumber pendanaan selama ini?”

Abana: “Dana pribadi, keluarga, dan teman-teman saya, teman-teman istri saya, mertua saya, dan lain-lain. Mereka kan sudah tahu apa yang kami lakukan. Lalu ikut. Dan semua orang yang ada di Planet NUFO ini memiliki usaha. Walaupun kecil, mereka harus selalu produktif. Tidak boleh menjadi beban bagi orang lain. Dari sini, saya berharap akan lahir pengusaha-pengusaha dari kalangan santri. Jumlahnya harus kita dongkrak terus-menerus. Dan untuk berhasil, kita masih harus berusaha keras. Sebab, budaya kita sering dirusak oleh paradigma fatalistik yang narasinya sangat kuat di mana-mana, pengajian, khuthbah Jum’at, dll.. Intinya harus ada usaha ekstra. Tapi saya selalu optimis dan kami siap jadi pionir.” ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *