Semarang – Pada Sabtu (02/08/2025), Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Posko 98 UIN Walisongo Semarang melakukan observasi ke usaha mebel milik Bapak Edi yang berlokasi di Dusun Pringsari, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang.
Kunjungan ini bertujuan mengenal lebih dekat proses produksi dan tantangan yang dihadapi pelaku UMKM di bidang permebelan.
Bapak Edi menceritakan bahwa awal mula ia terjun ke dunia meubel bukanlah karena perencanaan matang, melainkan ketidaksengajaan.
“Awalnya saya terjun ke dunia permeubelan karena ketidaksengajaan. Dulu usaha ini milik orang tua, tapi bangkrut kurang lebih dua tahun saat saya masih SMP. Dari kecil saya sudah terbiasa membantu orang tua, jadi sedikit demi sedikit saya bisa. Waktu bangkrut, masih ada sisa empat almari dari kayu sengon, kemudian saya finishing dan coba posting di media sosial. Ternyata laku. Dari situlah saya mulai tertarik dengan bisnis meubel ini,” ungkapnya.
Pria yang dikenal tekun ini mengaku lebih senang menghabiskan waktunya untuk bekerja dibanding bersantai.
“Saya itu tipe orang yang suka bekerja daripada main, jadi waktu saya untuk kerja, kerja, dan kerja,” ujarnya dengan tegas.
Produk yang dihasilkan pun cukup beragam, mulai dari kursi, almari, meja rias, pintu, hingga meja makan.
Menurutnya, setiap musim membawa tren penjualan yang berbeda. Menjelang Lebaran, misalnya, meja makan menjadi produk yang paling laris diburu pembeli.
Dalam proses produksi, Bapak Edi mengutamakan kualitas bahan. Ia memilih menggunakan kayu jati untuk mengikuti perkembangan zaman sekaligus menghindari limbah yang dapat mengganggu kesehatan pernapasan.
“Setiap produk memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Waktu pengerjaan tiap produk berbeda-beda tergantung tingkat kesulitan produk yang diinginkan, untuk finishing sendiri bisa memakan waktu 4–7 hari, tergantung musim,” tutur Bapak Edi.
Namun, perjalanan bisnisnya tidak selalu mulus. Ia menghadapi tantangan besar berupa persaingan harga yang ketat di pasaran.
Banyak penjual lain menawarkan produk dengan harga jauh di bawah pasaran. Meski begitu, ia punya trik tersendiri untuk menjaga kepercayaan pelanggan.
“Trik dan cara untuk mengatasi permasalahan persaingan kualitas dan harga adalah memantapkan pelanggan dengan memberikan pengertian bahwa produk bervariasi sesuai tingkat kesulitan pengerjaan dan faktor lainnya,” jelasnya.
Selain memproduksi sendiri, Bapak Edi juga kerap membeli produk mentah dari pengrajin lain untuk kemudian ia finishing sesuai standar kualitasnya.
Strategi ini tidak hanya memperluas variasi produk, tetapi juga membantu rekan pengrajin lain memasarkan hasil kerja mereka.
Kunjungan mahasiswa KKN Posko 98 UIN Walisongo ini menjadi kesempatan bagi mereka untuk belajar langsung tentang manajemen produksi, pemilihan bahan, serta strategi bertahan di tengah persaingan pasar.
Melalui observasi ini, diharapkan para mahasiswa mendapatkan wawasan yang bermanfaat untuk mengembangkan UMKM di masa depan.
Kini, berkat kerja keras dan ketekunan sejak usia muda, usaha mebel milik Bapak Edi di Pringsari, Pringapus, Kabupaten Semarang, semakin berkembang.
Pemasaran melalui media sosial yang awalnya dilakukan secara sederhana, kini menjadi senjata utama dalam menjangkau pembeli dari berbagai daerah.
Kisahnya menjadi bukti bahwa ketekunan, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi dapat mengubah keterpurukan menjadi kesuksesan.







