KONTRIBUSI STRESS TERHADAP DIET

Beberapa orang melakukan diet, dengan makan-makanan sehat, tidak minum es, tidak makan gorengan, tidak makan mie, pokoknya segala makanan yang tidak sehat dihindari. Beberapa orang juga sadar dan takut akan bahaya dampak dari diet terlalu keras adalah sakit. Oleh karena itu, menerapkan diet dengan makan teratur. Namun, karena tuntutan tugas dan kerja yang mengharuskan bergadang dan tidak tidur sama sekali selama 24 jam dengan mengonsumsi kopi.

Sudah makan sehat dan diet, sudah merasa stress, tapi berat badan ternyata tidak turun, malah dilihat kebanyakan orang bobotnya sepertinya bertambah. Sengaja tidak menimbang berat badan karena sudah yakin dengan pola makan sehat yang diterapkan.

Mengonsumsi kopi bisa menjadi sebab gagalnya diet. Karena, jika kopi yang dikonsumsi adalah jenis kopi yang kadar gulanya tinggi seperti kopi Good Day dan sejenisnya sangat kurang sehat bagi tubuh, ditambah jam tidur yang berantakan karena bergadang membuat metabolisme tubuh juga berantakan.

Kopi memang sangat baik untuk mengakitfkan saraf-saraf yang membuat rasa kantuk hilang dan semangat dalam menugas atau mengerjakan sesuatu di malam hari bahkan tanpa tidur sama sekali. Namun, berhati-hatilah bagi yang memiliki penyakit Gerd (asam lambung) sangat tidak dianjurkan bahkan dilarang untuk mengonsumsi kopi. Hal ini disebabkan dalam kopi terdapat kandungan Asam klorogenat dan Kafein yang merangsang produksi asam lambung.

Bacaan Lainnya

Sudah makan sehat dan diet, tapi masih bergadang dan sering minum kopi akan membuat diet gagal dan berat badan bukan turun, tapi malah bertambah berat badan. Walaupun, sudah diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup, jika kebiasaan bergadang dan minum kopi belum bisa dihilangkan, maka diet tidak akan berjalan dengan baik.

For your information, terlalu sering minum kopi akan berdampak pada kesehatan reproduksi, jika mengonsumsi kopi dengan frekuensi sehari hanya secangkir masih diperbolehkan. Mengonsumsi kopi pahit seperti kopi hitam tanpa gula itu lebih baik, dari pada variasi aneka rasa kopi yang tinggi gula.

Ade Rai mengatakan: “Pemahaman adalah fondasi sebuah kepatuhan. Kelaparan terbesar adalah kelaparan akan arti dan makna.”

Sudah melakukan kalori defisit, rutin olahraga (kardio, jalan, hit kardio), intermittent fasting, pokoknya semua upaya telah dilakukan, tapi berat badan tidak mau turun, apa yang salah sebenarnya?

Ade Rai mengatakan: “ Sehat itu bersahabat dengan pertemanan hati, sakit bersahabat dengan perlawanan hati, menjadi sehat bukan tujuan, menjadi langsing bukan tujuan, menjadi sehat adalah syarat. Mulut menjadi sumber kesehatan, tapi kelihatannya lebih banyak menjadi sumber kesakitan.”

Tubuh ciptaan Allah ini terlalu cerdas untuk dibohongi. Segala hal yang dilakukan dengan susah hati atau keterpaksaan, maka tubuh akan menciptakan barrier (hal-hal yang menjauhkan dari tujuan), dan 95% orang yang diet gagal. Semakin dekat dengan berat badan ideal, maka kesulitan akan lebih tinggi.

Tubuh memiliki respon terhadap situasi tertentu. Misalnya, sudah melakukan segala daya dan upaya, tapi tubuh tidak seperti apa yang diinginkan, dalam hal ini berarti kita dalam fase stress.

Ketika keadaan stress, tubuh akan menciptakan homeostasis dengan kehadiran kortisol. Pada saat itu terjadi perlawanan hati  yang diwakili oleh hormon kortisol yang muncul ketika tubuh dalam keadaan stress. Jika hormon stress telah hadir, maka tubuh akan membutuhkan lebih banyak tenaga. Analoginya seperti ini, tubuh: “ Eh, lihat tuh, si Mila sedang stress kasihan. Yuk, naikkin gula darahnya.”

Ketika stress energi akan turun dan dinaikkan tenaganya dengan bantuan hormon stress yaitu hormon kortisol, sehingga menyebabkan walaupun tidak makan, tapi kadar gula darah tetap tinggi, karena energi dibentuk dari glukosa. Hal ini otomatis, jika sedang diet tapi stress, maka kadar gula darah atau energi tubuh berupa glukosa tetap tinggi. Kenapa bisa terjadi? Jawabannya, karena tubuh ciptaan tuhan yang amat cerdas.

Homeostasis merupakan proses dan mekanisme otomatis untuk mempertahankan kondisi konstan agar tubuh dapat berfungsi normal, meskipun terjadi perubahan pada lingkungan di dalam atau di luar tubuh. Jadi, tubuh akan mencari lokasi sumber daya energi dari mana yang bisa didapatkan.

Semakin sedikit otot tubuh, maka metabolisme akan turun (melambat). ketika melakukan pembatasan kalori yang terus dipaksakan. Dalam hal ini terjadi keharusan yang dipaksakan seolah-olah “ Tidak boleh ya!”

Pembatasan kalori yang terus dipaksakan dengan tujuan berat badan turun, dalam hal ini berarti kadar lemak yang ingin diturunkan. Kemudian terjadi masalah, lemak tubuh tidak mau turun, karena ketika melakukan pembatasan kalori, tubuh akan mengatakan: “ Ini sedang di restict loh, dan tidak tahu sampai kapan.”

Tujuan utama adalah membakar lemak, tapi di sisi lain, lemak adalah cadangan energi, maka tubuh akan memekanisme sendiri bahwa, “ Tubuh tidak mau melepas lemak, silakan saja cari yang lain.” Jika hal ini terjadi akan menyebabkan otot dan air turun.

Proses diet harus dilakukan dengan keadaan bahagia artinya dalam pertemanan yang saya kutip dari perkataan Ade Rai di paragrap ketujuh dan sembilan. Semua hal memang harus dijalani dengan rasa bahagia dan pertemanan serta pemahaman terhadap apa yang sedang dilakukaan saat ini, agar sampai pada tujuan yang diinginkan.

Kegagalan diet bukan karena strategi yang salah atau tumpul, melainkan dalam pemaknaan dalam strategi yang salah. Ketika belajar memahami tubuh, sama halnya seperti belajar memahami Handphone, aplikasi, skill dan teknologinya semua telah ada, tapi jika tidak dicharger, maka Hp itu tidak akan berfungsi. Tubuh manusia pun sama di satu sisi ada yang dinamakan anatomi secara fisiologis dan anatomi secara energi.

Sebuah penutup dan pengingat betapa besar dan lebih canggihnya ciptaan Allah dibandingkan ciptaan manusia dalam Qur’an surah Al-Ikhlas ayat empat yang artinya “ Tidak ada sesuatu apapun yang dapat menyetarai kuasa Allah.”

 

Oleh: Faizatul Kamilah, Disciple Angkatan 2021 Monashmuda Institute Semarang, Mahasiswi Program Studi Gizi Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Walisongo Semarang

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *