Sudah menjadi watak manusia untuk mencintai hal-hal duniawi. Tak satupun manusia yang bisa melepaskan diri dari kecintaan dan kesenangan duniawi. Misalnya kekuasaan politik, jabatan, harta, lawan-jenis, prestise dan sebagainya. Agar tetap pada koridor keseimbangan dan tidak terjerumus pada kesenangan yang berlebihan, dibuatlah aturan. Selain aturan dari Allah berupa agama (Islam) juga ada perangkat aturan hukum yang dibuat manusia (hukum positif).
Terlalu kuatnya cinta terhadap dunia tidak jarang mendorong manusia abai terhadap aturan agama (Islam) dan juga hukum positif. Akibatnya, pengetahuan tentang benar dan salah versi agama maupun hukum positif, tidak menjamin seseorang mematuhi aturan. Dampak karambolnya, banyak orang sudi melakukan apa saja untuk mendapatkan sesuatu yang dengan melanggar hukum atau bukan haknya sekalipun. Bahkan berusaha mengubah kebatilan menjadi kebenaran, kebenaran menjadi kebatilan lewat rekayasa hukum. Fenomena semacam itu sangat mudah ditemui di tengah-tengah masyarakat, baik di bidang politik kekuasaan, persaingan jabatan, bisnis, dan lainnya. Contoh terang-benderang atau cetho welo-welo, bagaimana seorang DPO bisa dihapus red notice-nya oleh seorang petinggi penegak hukum, misalnya. Jika dipikir, sebenarnya apa lagi yang dicari dalam hidupnya. Jabatan sudah di tangan, harta dan penghasilan sudah tidak kurang, prestis dan kehormatan di mata manusia sudah dimiliki, wibawa sudah berlebih. Karena nafsu duniawinya yang menghegemoni maka terjadilah rekayasa kebenaran seperti itu. Rasulullah pernah menjelaskan sebagai berikut.
عن بلال بن أبى الدرداء عن أبيه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: حبك الشيء يعمي ويصم
Dari Bilal bin Abu Darda’ dari ayahnya dari Kanjeng Nabi saw. beliau bersabda: kecintaanmu kepada sesuatu bisa menjadikan buta dan tuli.
Yang lebih parah, jika, manusia yang telah dikuasai oleh nafsunya bertemu dengan penegak hukum yang tidak berintegritas. Dalam bahasa orang di kampung saya bermental telo. Itu bagaikan tumbu entuk tutup (tempat nasi bertemu dengan penutupnya) jadi sudah sangat klop sekali dalam merekayasa kebatilan menjadi sebuah kebenaran. Karena itu layak jika Kanjeng Nabi sangat mengkhawatirkan umatnya, jika muncul orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya dan penegak hukum yang dzalim, sebagaimana dikutip oleh Ibnu al-Jauziy dalam buku Dzamm al-Hawa.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن أخوف ما أخاف علي أمتي حكم جائر وزلة عالم وهوى متبع
Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya yang sangat saya khawatirkan dari hal-hal yang saya khawatirkan terjadi pada ummatku, adalah penegak hukum yang dhalim, orang alim tapi pendosa dan hawa nafsu yang selalu diperturutkan.
Berkenaan dengan itu, Ibnu Jauziy dalam buku beliau Dzamm al-Hawa pernah mengingatkan kecintaan dunia dengan memperturutkan hawa nafsu itu, menjadikan orang tidak lagi berpikir nalar tapi menjadikannya masuk di pusaran kegilaan. Orang berilmu pun menjadi berperilaku yang bertentangan dengan ilmunya. Berikut ini kutipannya.
واعلم ان الهوى يسرى صاحبه فى فنون ويخرجه من دارالعقل إلى دائرة الجنون
Ketahuilah bahwa hawa nafsu itu mengantarkan pemiliknya pada keindahan-keindahan, lalu mengeluarkannya dari dunia nalar menuju pusaran kegilaan
وقد يكون الهوى في العلم فيخرج بصاحبه إلي ضد ما يأمر به العلم
Kadang-kala dalam konteks ilmu, hawa nafsu itu mendepak pemiliknya untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ilmu
وقد يكون في الزهد فيخرج إلي الرياء
Kadangkala dalam konteks zuhud, hawa nafsu itu mendepak pemiliknya menuju pamer
Terakhir, dalam QS. al-Baqarah [2]: 188 Allah telah memperingatkan agar tidak melakukan rekayasa yang jahat untuk mendapatkan sesuatu yang sifatnya duniawiy. Ini menunjukkan bahwa pada sebagian diri manusia ada kencenderungan memperturutkan hawa nafsunya dengan melakukan rekayasa-rakayasa hukum atau proses peradilan. Berikut ini kutipan ayatnya.
ولا تأكلوا أموالكم بينكم بالباطل وتدلوا بها إلى الحكام لتأكلوا فريقا من أموال الناس بالإثم وأنتم تعلمون
Janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain di antara kalian dengan cara batil dan (janganlah) kalian membawa (urusan) harta itu kepada hakim, agar kalian dapat memakan harta sebagian dari kalian dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kalian mengetahui.
Demikain Hikmah Jumat kali ini, semoga bermanfaat dan kita senantiasa dihindarkan dari memperturutkan hawa nafsu, dan terhindar dari merekayasa kebatilan menjadi kebenaran atau sebaliknya. Aamiin. Billaahi fii sabiilil Haq.







