[blockquote footer=”Naila Aulia“]Jika hakikat manusia itu diartikan sebagai individu yang selalu mengharapkan kebahagiaan di dunia, maka aku bukanlah golongan darinya. Jika syarat menjadi manusia seutuhnya adalah harus hidup di sekeliling orang-orang terkasihnya, maka aku lebih baik mengundurkan diri dari jabatan sebagai manusia. Jika definisi dari neraka dunia ialah sebuah kehidupan yang dipenuhi penderitaan dan cobaan, maka itulah hidupku”.[/blockquote]
Kamu tau pemandangan jenis apa yang paing aku suka? Jikalau perempuan pada umumnya lebih menyukai pemandangan alam beserta bunga-bunga yang mulai bangun dari kuncupnya, maka aku jauh dari semua itu. Aku lebih suka melihat sekumpulan manusia yang nampak tertawa lepas bersama orang-orang terkasihnya. Sungguh tiada hal yang lebih indah dari pemandangan tersebut. Mata yang memancarkan kebahagiaan, bibir yang mengeluarkan candaan hangan nan manis, pipi yang nampak berkerut oleh tarikan otot-otot pipi karena tawa. Aaah… alangkah indahnya pemandangan tersebut. Bahkan aku dengan sendirinya akan ikut merasa tentram bahkan hanya dengan memandangnya.
Tidak heran tiap kali usai melihat pemandangan seperti ini aku akan ikut tertawa dengan sendirinya. Pemandangan itu seakan menghipnotisku untuk ikut tersenyum merasakan kebahagiaan tersebut. Padahal aku sendiri lupa apa arti kebahagiaan sesungguhnya. Entah sudah berapa lama istilah itu berpalig dariku, aku sampai lupa menghitungnya. Aku selalu bertanya-tanya mungkinkah dosaku terlampau besar sehingga ia menjauhiku? Ataukah mungkin aku memang terlalu hina untuk bersanding dengan kebahagiaan tersebut? Entahlah, aku pun tak mengerti, yang jelas aku sudah mulai terlatih berjauhan darinya.
Orang bijak bilang bahwa tuhan tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuannya dan segala sesuatu yang ditetapkan olehNya ialah yang terbaik bagi sang hamba. Awalnya aku yakin, sangat yakin pada ungkapan tersebut. Namun, waku dan kenyataan memaksaku untuk tidak memepercayainya lagi. Mungkin bukan dalam artian tidak percaya, namun lebih ke meragukan dan entah kapan aku bisa percaya lagi pada kalimat tersebut.
Ingatanku jatuh pada kenangan 20 tahun lalu, awal pertama aku bertemu dengan Zulkarnain. Pria sederhana dengan wibawa yang mampu meluluhkan hati jutaan perempuan. Pertemuan kami sederhana, yaitu karena kasus sandal jepit di halaman masjid agung Semarang, sandal kami kebetulan sama bedanya miliknya lebih besar saja dari milikku. Namun, dengan bodohnya aku memakai sandalnya, aku tidak menyadari kejanggalan tersebut karena sangat letih mendengar tausiyah dari Ust.Abdulah yang terkesan lama dan membosankan. Baru beberapa langkah aku melangkahkan kaki, sebuah sapaan lembut menyapa pendengaranku. Dengan santun ia menegur kesalahanku, dengan tatapan yang masih terus menunduk tanpa menatapku. Sepersekian detik tubuhku terasa beku, pesonanya terlalu kuat. Dengan segera aku tersadar dan meminta maaf kepadanya. Pria itu hanya tersenyum sambil menganguk santun seraya menjauh dari jangkauanku. Tanpa sadar, langkahku masih setia mengikutinya.
Tiba-tiba langkahku terhneti di sebuah masjid tidak jauh dari rumahku. Nampak semua orang menyalaminya dengan takzim, lalu ia membalas salam tersebut dengan sangat sopan dengan senyuman yang berseri-seri. Terdengar bisik-bisik dari para remaja perempuan di sekelilingku. Ternyata mereka membicarakan pria jelmaan Nabi Yusuf tersebut. Aku sangat berterima kasih pada merka, dari mereka aku tau banyak informasi dari pria tersebut. Namanya Zulkarnain, pemuda rantau asal Boyolali yang kini aktif mengisi kajian islami di masjid-masjid Semarang dan sekitarnya.
Aku terlalu asyik menguping permbicaraan mereka. Fikiranku mengelana bebas, membayangkan jika suatu sata nanti aku berjodoh denganya. Entah sudah berapa lama aku melamun, karena saat aku tersadar keadaan masjid sudah sepi hanya aku seorang diri didalamnya.
Ketika aku hendak membalikkan badan untuk pergi, jantungku berdegup kencang bak usai lari maraton. Zulkarnain tengah berdiri tepak di hadapanku. “Kamu mengkutiku?” tebaknya secara terus terang membuatku mati kutu. Wajahku langsung memerah tak mampu mengelak. Padahal aku terkenal ahli dalam berakting, tapi entah mengapa bila denganya aku tak sanggup sama sekali. Aku hanya mengaguk lalu berpamitan padanya, “Iya, maaf, Assalamu’alaikum”, aku pun melangkah keluar masjid dengan perasaan yang bercampur aduk.
Baru saja kakiku menapaki sandal jepit, suara lembut Zulkarnain kembali menyapaku, “Mari saya antar pulang. Tidak baik perempuan keluar sendirian malam-malam begini”. Aku tidak mau munafik untuk sekedar menolak tawarannya, karena dalam hati aku sangat bahagia bisa berjalan dengan Zulkarnain. Aku tidak peduli apa anggapannya terhadap perempuan sepertiku, perempuan yang nyaris memaakai sandal jepitnya, membuntuti dia sampai ke masjid, melamun tentang masa depan bersamanya, hingga akhirnya Zulkarnain yang harus mengantarku pulang karena sudah larut.
Perjalanan kami ke rumah hanya dihiasi oleh kesunyian yang haqiqi dengan irama jangkrik dan katak yang mengalun begitu indah. Seakan mereka ikut merasakan kebahagiaanku kini. Sesekali aku menilik wajah tampannya, namun ia tidak menoleh sama sekali, tidak ada senyuman berseri-seri seperti yang terlihat saat tadi ia menyalami para jama’ah. Apa mungkin ia memiliki kepribadian ganda? Entahlah, aku telah dibuat kesal olehnya kini, setidaknya kan ia memberiku pertanyaan sedikit saja, atau paling tidak tersenyum sedikit padaku. Atau mungkin ia marah karena aku telah mengusiknya seharian.
Tidak terasa kami sudah sampai di halaman rumahku. Di sana sudah ada abah dan umi yang nampak sibuk bercakap-cakap membahas hal penting. Mereka nampak terkejut melihat kehadiran Zulkarnain di sebelahku. “Assaalamu’alaikum, abah” ucapnya santun sambil menyalami abah. “Wa’alaikumussalam ustadz mudaku,” jawab abah sambil membalas senyuman dan sapaan Zulkarnain.
Umi ikut maju mendekati Zulkarnain, “Acaranya besok tapi kok kamu sudah datang sekarag sih, nak? Sudah jalan bareng Fatma pula”, goda umi sambil bergantian memandang wajah kami berdua. Sontak kami semua tertawa menyisakan aku yang tersenyum tertahan karena malu, aku penasan jawaban apa yang akan Zulkarnain beri pada umi, jangan sampai dia menceritakan kejadian sebenarnya pada umi. “Akan Zul ceritakan suatu saat nanti jika Fatma menyetujui lamaran saya, mi”. Mataku sontak membuka sempurna dengan telinga yang seakan-akan disengat ribuan lebah, lamar? Apa maksudnya?
Sepertinya Zulkarnain menyadari ekspresi ganjilku, karena kemudian ia refleks menoleh sambil tersenyum tipis padaku, tipis sekali hampir tidak terlihat jika saja mataku minus sedikit saja. Aku merasa ada hal penting yang mereka sembunyikan dariku saat ini. Zulkarnain kemudian menyalami kembali abah dan umi sambil pamit undur diri. Mereka bertiga nampak sangat akur, hmm andai saja suatu saat kai bisa menjadi keluarga. Astaghfirullah, tuh kan sudah berapakali aku menghalu seharian ini. Aku segera megusap wajah dan memalingkan wajah sambil menyaksikan Zulakarnain yang usai bersalaman pada kedua orangtuaku, setelah itu Zulkarnain mulai beranjak dari hadapan orangtauku dan menghampiriku sebentar.
Namun, alangkah terkejutnya aku karena saat itu juga ia mengucapkan sepatah kata yang teramat berat untuk jantungku terima. Terbukti setelah itu juga jantungku berdetak luar biasa cepatnya, menyisakan keringat dingin yang kala itu juga mengucur dari sekujur tubuhku, “Assalamu’alaikum, calon makmum”.







