DURHAKA YANG BAIK
Pengantar Ibu Menghadap Allah
Oleh: Dr. Mohammad Nasih
Pengasuh Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO (Nurul Furqon) Rembang dan Guru Utama di Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an MONASH INSTITUTE Semarang

Hubungan saya dengan ibu bukan hanya antara anak dengan ibu yang melahirkan, tetapi juga guru. Dalam fase belajar membaca al-Qur’an, saya lebih dekat ibu karena ibu lebih sabar. Berbeda dengan bapak yang ingin langsung fasih dengan standar Mbah Kiai Arwani Kudus. Baru setelah fasih membaca al-Qur’an, saya dengan sadar berpindah ke bapak yang menerapkan tajwid dengan ketat. Dalam fase setelah lulus SMU, dalam banyak kesempatan sesungguhnya “konfliktual”. Dalam banyak hal, kami berdebat panjang dan serius, bahkan sering menyisakan kesedihan ibu. Namun, setelah itu saya tetap diambilkan pisang. Cerita bahwa saat kecil dulu, saya pernah menghabiskan satu tandan pisang selalu diulang. Walaupun sudah diulang-ulang, tapi seolah belum pernah diceritakan. Mulai hari ini, tidak akan ada lagi yang mengambilkan pisang dan mengulang kisah masa kecil saya itu. Ibu telah kembali kepada Allah SWT waktu shalat tahajjud tadi.
Konflik serius saya terjadi saat awal saya kuliah dan masuk Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Keluarga saya berlatar belakang tradisi NU. Bahkan ibu adalah salah satu murid sangat dekat pasangan pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayat Lasem, Mbah Kiai Ma’shoem dan Mbah Nyai Nuriyah. Ibu saya mondok dan menghafalkan al-Qur’an di al-Hidayat pada awal tahun 1970-an sampai Mbah Ma’shoem meninggal dunia. Kehidupan keseharian dalam ibadah bias dikatakan “taqlid” kepada Mbah Ma’shoem. Di antara cerita Ibu saya pada saat saya kecil adalah cerita kebersamaannya dengan Mbah Ma’shoem dan Mbah Nuriyah. Masalahnya adalah ibu mendapatkan informasi keliru bahwa kalau masuk HMI berarti sudah tidak NU lagi. Masalah ini agak mereda setelah kami berlebaran ke Pesantren al-Hidayat, untuk sungkeman kepada Mbah Zah (panggilan akrab kami kepada Mbah Azizah, salah satu puteri Mbah Ma’shoem) dan saya sampaikan bahwa “bosnya” HMI adalah Anas Urbaningrum, menantu Kiai Attabiq Ali, yang juga adalah cucu Mbah Ma’shoem. Sebelum pulang, Mbah Zah memberi saya sarung dan peci. Walaupun ukuran pecinya sudah saya pastikan tidak cukup untuk ukuran kepala saya, tetap saya bawa. Kata beliau, agar kalau shalat saya tetap pakai peci dan sarungan. Akhirnya saya tetap bisa jadi ketua umum komisariat dan berlanjut sampai PB HMI.
Banyak isu lain yang menyebabkan antara saya dan ibu seolah menjadi seteru. Namun, yang unik adalah setelah perdebatan yang seru, seolah tidak terjadi apa-apa. Setiap kali saya berkunjung ke rumah ibu, dan duduk di depan kursi yang biasanya ibu muraja’ah seharian, ibu selalu mengambilkan jajanan apa pun yang dibawanya pulang dari acara pengajian yang mungkin dua kali sehari dijalaninya. Dan tak pernah lupa, pisang.
Ibu sangat sensitif dan tak mau saya dianggap menyebabkan konflik. Ketika saya menyampaikan maksud mendirikan Planet NUFO dengan desain sebagai pesantren dan sekolah alam berjenjang menengah, ibu langsung mencegah saya dengan dua argument utama:
Pertama, sudah ada pesantren kenapa mesti mendirikan pesantren lagi. Ibu mencurigai saya berkonflik dengan adik saya yang melanjutkan pengasuhan Pesantren al-Falah yang mantan aktivis Kohati. Saya tegaskan bahwa tidak ada konflik sama sekali dengan menunjukkan bukti-bukti konkret bahwa saya justru mendukung berbagai aktivitas Pesantren al-Falah. Namun, situasi, kondisi, dan sistem pendidikan yang saya inginkan, tidak mungkin bisa terwujud jika diselenggarakan di Pesantren al-Falah. Justru ini bisa menyebabkan hubungan yang sebelumnya baik menjadi konflik. Sebab, penanganan lembaga pendidikan yang akan saya dirikan berbeda dengan yang sudah ada. Pesantren al-Falah yang didirikan oleh bapak saya adalah pesantren konvensional dengan fokus belajar al-Qur’an dan kitab-kitab salaf. Sedangkan pesantren yang saya impikan, tidak hanya itu, tetapi juga akan membina santri-santri berpikir lebih rasional, berbudaya egaliter, melatih kewirausahaan, dan kepemimpinan organisasi. Saya sudah membagi tugas dengan dua adik saya. Ela mengurus Pesantren al-Falah. Ana yang juga mantan aktivis Kohati PB HMI yang memilih jalur usaha, dan omzetnya dalam beberapa tahun terakhir menanjak ke angka puluhan milyar, menjadi supporter pendanaan. Seluruh kebutuhan pesantren yang memerlukan dukungan finansial tidak boleh ditolak.
Kedua, di desa saya sudah ada MTs dan juga MA yang di antara tokoh pendiri utamanya adalah bapak saya. Dan bapak saya juga jadi kepala sekolah pertama. Perlu waktu yang tak sebentar untuk meyakinkan ibu saya, bahwa murid dan santri Planet NUFO nanti bukan anak-anak warga Desa Mlagen. Akan datang dari seluruh penjuru Indonesia, kecuali Desa Mlagen. Saya menegaskan bahwa lembaga pendidikan yang akan saya dirikan tidak akan mengganggu status quo yang ada di desa saya. Baru ibu kemudian agak luluh. Dan ketika Planet NUFO benar-benar sudah berdiri dan berkembang sehingga membutuhkan tanah tambahan, saya menyampaikan untuk menukar guling tanah ibu yang persis di sebelah barat Planet NUFO dengan salah satu petak tanah saya, akhirnya ibu mengatakan: “Wis nggo rak wis, Jawa: Ya sudah kamu pakai saja”. Planet NUFO jadi dua kali lebih luas karena mendapatkan tambahan tanah ibu saya. Dan setiap kali saya memberikan hadiah berupa uang yang walaupun jumlahnya tidak banyak, ibu selalu bertanya dalam Bahasa Jawa yang kira-kira artinya: “Kamu perlu banyak uang untuk ngurusi pondok, kok kamu kasih ke saya?” Biasanya saya jawab sambil tertawa: “Justru karena saya sedang butuh banyak uang, maka saya memberi hadiah ke ibu. Semoga Allah membalasnya minimal 10 kali lipat”. Saya bersikap seolah saya sedang berdagang dan mencari keuntungan dengan media hadiah yang tidak seberapa kepada ibu. Dan saya membuktikan kebenarannya.
Sebenarnya, awalnya saya sangat khawatir dengan sikap saya kepada ibu, termasuk ke dalam kedurhakaan kepada orang tua. Sebab, di dalam al-Qur’an hanya ada perintah berbuat baik kepada orang tua, dan di dalam hadits, ditegaskan bahwa di antara dosa besar adalah ‘uquuq al-waalidayn (durhaka kepada kedua orang tua). Sampai-sampai saya harus mencari referensi yang meyakinkan, dan menemukan konsep ‘uquuqun mahmuud (durhaka yang baik). (Syaikh Ibrahim al-Bayjuri, Syarh Tuhafat al-Muriid ‘alaa Jawharat al-Tawhiid, Daru Ihaya’ Kutub al-‘Arabiyyah, hlm. 124). Saya agak terkejut di tengah mengajar Tafsir setelah shubuh di Monash Institute Semarang menerima kabar ibu kembali kepada Allah. Merasa kehilangan tapi kemudian juga langsung gembira karena ibu meninggal pagi tadi waktu shalat tahajjud. Semalam masih mengajar sebagimana biasanya setiap hari membina jama’ah tilawatil qur’an di belasan desa di sekitar desa saya dengan dibonceng motor dan menjenguk saudara samping rumah yang sakit. Meninggal dengan mudah dan semoga husnul khaatimah. Aamiin.

Dr. Mohammad Nasih, M.Si.
Oleh: Dr. Mohammad Nasih, Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Pembangun Qur’anic Habits di Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE Semarang dan Sekolah Alam Planet NUFO Pilanggowok Mlagen Rembang.

    Mahasiswa KKN Reguler dari Rumah Kelompok 50 UIN Walisongo Gelar Acara Webinar dengan Tema Membangun Sikap Toleransi dalam Beragama

    Previous article

    Rayakan Hari Santri Nasional 2021, Mahasiswa KKN RDR 77 Kelompok 112 UIN Walisongo Semarang Gelar Berbagai Lomba

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi

    More in News