Beberapa peserta seleksi perangkat desa dari beberapa desa di Lasem melakukan pertemuan, pada Selasa (16/11/2021) di sebuah kedai di Desa Soditan Lasem, guna membahas rencana audiensi dugaan kejanggalan proses seleksi perangkat desa kepada DPRD Rembang.
Beberapa peserta seleksi perangkat desa dari beberapa desa di Lasem melakukan pertemuan, pada Selasa (16/11/2021) di sebuah kedai di Desa Soditan Lasem, guna membahas rencana audiensi dugaan kejanggalan proses seleksi perangkat desa kepada DPRD Rembang.

Rembang – Pelaksanaan seleksi pengisian kekosongan jabatan pamong atau perangkat desa di sejumlah desa di Kecamatan Lasem diduga ada kejanggalan. Hal itu diungkapkan oleh salah satu peserta seleksi perangkat desa, Mukhlisin yang merupakan Warga Desa Jolotundo, Lasem.

Mukhlisin mengungkapkan, memang ada sejumlah dugaan yang menjanggalkan dalam pelaksanaan seleksi itu. Saat dihubungi lewat Handphone seluler (wasthap) ia membeberkan sejumlah kejanggalan itu. Seperti adanya gap yang terlalu mencolok antara skor nilai peserta yang lolos dan tidak. Menurutnya, pada nilai hasil ujian tertulis, rentang nilai antara peserta yang lolos dan tidak lolos dianggap tidak wajar.

“Nilainya terlalu ‘jomplang’, antara peringkat di atas dan di bawahnya itu terlalu jomplang,” ungkapnya.

Beberapa peserta seleksi perangkat desa dari beberapa desa di Lasem melakukan pertemuan, pada Selasa (16/11/2021) di sebuah kedai di Desa Soditan Lasem, guna membahas rencana audiensi dugaan kejanggalan proses seleksi perangkat desa kepada DPRD Rembang.

Selain itu, Mukhlisin juga mengungkapkan kejanggalan lainnya, seperti nilai salah satu peserta ada yang 0, sesaat setelah ditanyakan kepada panitia seleksi, nilainya berubah menjadi 16 poin.

“Yang jelas ada yang tidak masuk akal pada hasil nilai, di curigai ada jual beli.” Ungkapnya. Kepada awak media Selasa (16/11/21) pukul 20:40 WIB.

Kemudian ada peserta yang lolos, padahal waktu mengerjakannya tidak lebih dari 15 menit, bahkan dia juga kesulitan memasukkan email dan belum selesai mengetik.

“Yang beredar di masyarakat ujian perangkat desa memakai CAT (Computer Assisted Test), tetapi di sana (Lokasi Ujian, red.) pakainya CBT (Computer Based Test), bisa dikendalikan admin,” terang Mukhlisin.

Baca Juga  Mahasiswa KKN UIN Walisongo Gali Potensi Anak Pedurungan Tengah dengan Kompetisi

Atas kondisi itu, Mukhlisin bersama sejumlah peserta seleksi perangkat desa lainnya, yang tergabung di dalam Forum Milenial Kecamatan Lasem akan mengajukan audiensi kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Rembang.

Mereka menuntut, pihak terkait melakukan pengusutan atas sejumlah dugaan kejanggalan yang muncul, serta menunda pelantikan peserta yang lolos seleksi calon perangkat desa.

Dalam forum pertemuan yang dilakukan di sebuah kedai di Desa Soditan-Lasem, pada Selasa (16/11/2021) dihadiri oleh 20-an peserta, dari beberapa desa di Kecamatan Lasem.

Seperti dari Desa Kajar, Ngemplak, Jolotundo, Soditan, dan Desa Sumbergirang. Mereka ini adalah peserta seleksi perangkat desa yang tidak lolos.

Hingga berita ini diterbitkan, Plt Camat Lasem Mohammad Mahfudz saat dimintai tanggapannya melalui pesan singkat belum ada respon.

KKN RDR 77 UIN Walisongo adakan Kolaborasi Donor Darah dengan PMI dan Pesantren

Previous article

GPII Putri Jateng Adakan Lomba Cover Shalawat, Cek Siapa Saja Pemenangnya

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in News