Daya Pikir Para Aparat

“Tanggapan monoton para aparatur dan jawaban irrasional para wakil rakyat”

Indonesia tengah dilanda kerisauan ekonomi dan kelangkaan tindakan rasional pemerintah. Berembelkan kesehatan rakyat, pemilu dapat ditunda dan periode dapat bertambah. Pemerintah saat ini keluar dari batas konstitusi, terkesan identik dengan era kegelapan kemerdekaan. Berdalih janji-janji yang manis lagi menggiurkan, setelah terpilih berubah menjadi  orang tuli dan buta.

Mahasiswa kini bangkit di atas tuntutan penderitaan ekonomi, krisis kepastian janji, dan wacana kehancuran negeri. Bernaung di atas bendera panji dan bendera merah putih, Mahasiswa berpanas-panasan demi makna kata keadilan dan kesejahteraan. Namun sayang sangat disayangkan, tanggapan diluar nalar yang didapat, pemerintah terkesan seperti anak-anak yang tengah mengejek mobil-mobil yang berlalu-lalang, mana kala salah satu mobil berhenti, mereka saling menyalahkan.

Berlagak bak akting aktor papan atas, ketika di depan selalu terkesan sebagai korban yang paling benar. Namun, di belakang menjadi salah satu anjing peliharaan, berkata seakan tidak pernah terlibat. Sistem negara sudah seperti mainan anak kecil, digunakan sebentar setelah itu rusak, sudah seyogyanya masyarakat sadar akan kerapuhan negara ini, jangan hanya menjadi buih di air yang kotor.

Bacaan Lainnya

Aparatur hanya menjadi robot-robot wakil rakyat, hanya melaksanakan perintah tanpa ada tanggapan perlawanan atas ketidaksesuaian konstitusi. Jikalau mereka berpendapat, sangat mudah ditebak! Pasti pendapat mereka memiliki makna keberpihakan terhadap kabinet, bertujuan untuk menjatuhkan pendapat para kontra yang tak terlalu mengancam jalannya kabinet. Mungkin hanya Mahasiswa saja yang mampu memahami situasi negara saat ini dan berkeinginan untuk merubah kondisi yang mencekik leher-leher rakyat kecil.

Penghilangan serta penangkapan kerap kali terjadi ketika konstitusi perlu diperbaiki. Bukannya menangkap para tikus malah menangkap para kucing. Berbicara para kucing, di Indonesia sudah marak kucing-kucing manja, dikasih ikan oleh para tikus keparat sudah nurut tak mau bergerak, hanya mementingkan diri sendiri, naifnya mereka merasa seperti orang-orang yang lebih baik dan lebih tahu tentang bagaimana seharusnya negara ini berjalan.

Siapa lagi yang akan disalahakan selain para aparatur negara? Bertugas sebagai penertib dan penegak hukum, konyolnya akhir-akhir ini mereka seakan tak memiliki pengetahuan yang cukup dan rasionalisasi alasan mengapa harus bertindak, contohnya saja penetapan tersangka terhadap korban yang telah membunuh pelaku pembegalan dengan dalih main hakim sendiri. Jika seperti itu, haruskah korban yang terbunuh? Haruskah pelaku sebagai pembunuh? Jika seperti itu, saya sarankan para penangkap tadi perlu diberi vitamin agar kognisinya berjalan baik dan sebagaimana mestinya.

Dari jaman dahulu hingga pandemi telah berlalu, wacana pemberantasan korupsi digaung-gaungkan dengan suara yang lantang bak pejuang kemerdekaann. Namun, kenyataan atau malah kutukan politisi negeri yang sendari dulu hanya berjanji tanpa ada realisasi. Setelah jadi malah mencari proyek untuk direalisasi demi keuntungan sendiri. Berembel demokrasi tapi nyatanya malah kolusi. Hanya seputar janji, tidak harus menepati, biarin rakyat miskin sampai mati yang penting diri ini kaya mlintir meski di atas kaki para pengemis.

Miris, rakyat dibutakan Kiai yang beralasan dengan kalimat “nderek sarunge Kiai”. Paradigma feodal bukan sebagai perbaikan ahlak, tapi untuk kehormatan dan kepentingan finansial, Ulama haruslah kaya dan berkuasa. Jika kaya, tak dapat dipengaruhi, dan jika berkuasa, dapat mempengaruhi seluruh negeri.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *