Berbohong dari Covid-19

Oleh: Dr. Achmad Maimun, M.Ag, Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Dakwah IAIN Salatiga

Banyak orang menderita karena terdampak baik langsung maupun tidak langsung oleh Covid-19. Orang sakit karena terpapar Covid-19 bahkan ada yang meninggal, itu terdampak langsung. Yang tidak langsung, misalnya pengemudi becak, dokar, ojol, angkot, bus, atau lainnya. Pemasukan mereka merosot drastis karena sedikitnya pengguna jasa mereka. Pedagang asongan di bang jo, bus dan terminal juga terdampak tidak langsung. Penjaja makanan kecil di sekolah juga terdampak secara tidak langsung. Dalam perspektif Islam fenomena semacam itu bisa disebut dengan bala’, ujian atau cobaan bagi manusia.

Setiap orang berbeda dalam menyikapi ujian atau cobaan yang diakibatkan oleh Covid-19 ini. Ada yang tenang selalu bertaqaarrub kepada Allah dan tetap berusaha maksimal untuk mengantisipasi segala kemungkinan, dengan mengikuti anjuran pemerintah. Ada yang takut berlebihan sampai tega menolak jenazah yang terpapar Covid-19. Ada pula yang gundah-gulana, gelisah sehingga harus berbohong dan tidak jujur kepada petugas medis bahwa dirinya terpapar Covid-19. Meskipun kebohongan demikian itu membahayakan sesama, tetap saja dilakukannya. Dampaknya, banyak petugas medis yang terpapar Covid-19, bahkan diantara yang meninggal sangat mungkin sebab awalnya adalah kebohongan semacam itu.

Sikap yang ditunjukkan oleh seseorang dalam menghadapi ujian ini, menggambarkan status ujian bagi dirinya. Apakah cobaan tersebut sebagai balasan atas dosa-dosanya, ataukah sebagai kafarat dan pembersih atas dosa dan kesalahannya atau sebagai wasilah untuk keluhuran derajatnya di sisi Allah. Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy, sebagaimana dikutip oleh Imam Abdul Wahhab asy-Sya’raniy dalam al-Minan al-Kubra menjelaskan klasifikasi ujian bagi manusia dan responnya sebagaimana kutipan berikut ini.

فإن البتلاء على ثلاثة أحوال تارة يكون عقوبة ومقابلة لجريمة ارتكابها, أو معصية اقترفها وتارة تكون تكفيرا وتمحيصا وتارة تكون لارتفاع الدرجات وتبلغ المنازل العاليات. ولكل من هذه الاحوال علامة. فعلامة الابتلاء على وجه العقوبة والمقابلة عدم الصبر عند وجود البلاء, وكثرة الجزع والشكوى إلى الخلق. وعلامة الابتلاء تكفيرا وتمحيصا للخطايا وجود الصبر الجميل من غير شكوى ولا إظهار جزع ولا ضجر إلى الأصدقاء والجيران, وعدم ثقل الطاعات على بدنه. وعلامة الإبتلاء لارتفاع الدرجات وجود الرضا والموافقة وطمأنينة النفس وخفة الاعمال الصالحة على القلب والبدن

Cobaan hidup itu ada tiga klasifikasi. Adakalanya ia merupakan sanksi atau balasan atas dosa atau maksiat yang telah dilakukan. Adakalanya sebagai penutup dan pembersih dosa yang pernah dilakukan dan terakhir bisa pula menjadi wasilah untuk meningkatkan derajat seseorang sampai pada status yang luhur. Untuk setiap klasifikasi tersebut ada indikatornya.

Indikator bahwa cobaan itu sebagai balasan dosa adalah jika dalam menyikapinya tidak ada kesabaran, banyak gelisah-galau, dan banyak mengeluh kepada orang lain. Sedangkan ujian yang menjadi penutup dan pembersih dosa, tandanya sabar, tidak banyak mengeluh, tidak menampakkan kegundahan dan kegelisahan kepada orang lain, dan tidak merasa berat dalam menjalankan ketaatan kepada Allah. Sedangkan tanda ujian menjadi wasilah meningkatnya keluhuran derajat adalah adanya keihklasan dan keridhaan menerima ujian, jiwanya tetap tenang, dan hati dan badannya tetap merasa ringan untuk beramal shalih.

Ketidakjujuran kepada petugas medis, bisa jadi sebagai dampak dari kepanikan, kegelisahan dan kegalauan seseorang ketika terpapar Covid-19. Orangnya hanya berorientasi untuk kepentingannya, tanpa mempedulikan dampak kebohongannya yang akan menimpa orang lain. Imam Ghazali dalam Ihya Ulumiddin, Juz 5 pernah menjelaskan bahwa pada umumnya kebohongan yang dilakukan oleh manusia diorientasikan untuk keuntungan dirinya sendiri semata. Berikut kutipannya.

وأكثر كذب الناس إنما هو لحظوظ أنفسهم ثم هو لزيادة المال والجاه ولأمور ليس فواتها محذورا حتى إن المرأة لتحكي عن زوجها ما تتفاخر به وتكذب لأجل مراغمة الضرات وذلك حرام

Kebanyakan manusia berbohong itu hanyalah demi keuntungan pribadi mereka, lalu untuk pertambahan harta kekayaan serta meningkatkan reputasi. Bohong juga untuk menghindari hilang sesuatu (kepentingan). Hingga seorang perempuan menceritakan (dengan bohong) tentang keadaan suaminya agar ia bisa berbangga dengannya atau berbohong karena ia tidak suka atas madharat, dan yang demikian itu haram hukumnya

Hukum bohong itu pada prinsipnya bergantung pada konteks. Karena itu ada bohong yang mubah, wajib dan ada pula yang haram. Keharaman kebohongan itu berbanding tegak lurus dengan bobot madharat yang akan ditimbulkannya. Semakin berat madharat yang ditimbulkannya maka bobot keharamannya semakin berat. Haram banget kir-kira begitu. Imam Ghazali melanjutkan penjelasannya sebagai berikut.

أن الكذب ليس حراما لعينه بل لما فيه من الضرر على المخاطب أو على غيره فإن أقل درجاته أن يعتقد المخبر الشيء على خلاف ما هو عليه فيكون جاهلا وقد يتعلق به ضرر غيره

Sesungguhnya bohong itu haram bukanlah karena bohongnya itu sendiri, melainkan karena madharat yang ada di dalamnya yang akan menimpa lawan bicara atau orang lain. Derajat terendah dari bohong itu adalah (jika) ada seorang pemberi info meyakini sesuatu berbeda dengan yang ada, ini artinya ia tidak mengetahui sesuatu hal secara persis. (Bobot bohong) itu bergantung pada madharat yang akan menimpa orang lain

Nah, jika demikian orang yang menyembunyikan bahwa dirinya terpapar Covid-19 yang berakibat menularnya virus pada petugas medis dan bahkan diantaranya ada yang meninggal, bobot kebohongannya sebanding dengan dampak madharat yang ditimbulkannya. Karena itu bobot kebohongannya tidak bisa disamakan dengan kebohongan penjual sayur atas harga kulakan dagangannya, karena dampak kebohongan dari Covid-19 kepada petugas medis bisa sangat fatal. Maka jujurlah dan jangan berbohong.

(Barangkali) Dalam konteks semacam inilah Sayyidina Ali memberikan warning, bahwa kebohongan itu adalah seberat-berat dosa di sisi Allah, sebagaimana dikutip oleh Imam Ghazali berikut ini.

فقد قال علي رضي الله عنه أعظم الخطايا عند الله عز وجل اللسان الكذوب وشر الندامة ندامة يوم القيامة

Imam Ali ra. mengatakan bahwa dosa terbesar di sisi Allah Azza wa Jall adalah mulut yang berbohong, sedangkan sejelek-jelek penyesalan adalah penyesalan di hari kiamat

Demikian Hikmah Jum’at kali ini semoga dengannya Allah memberikan manfaat, dan wabah Covid-19 ini tidak menjadikan manusia menjadi pembohong. Semoga Allah menyelamatkan kita dari wabah ini dan menyelamatkan kita dari wabah kebohongan. Billaahi fii sabiili al-haq.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *