*Oleh: Harianto, Jurnalis budaya di Lombok Research Center (LRC)
Kita sering bicara soal sumber air, tapi jarang sungguh-sungguh mendengarkan suara batin warga lokal yang merawatnya.
Dalam rapat-rapat resmi, diskusi soal air biasanya berhenti di angka: debit sekian liter per detik, kualitas layak atau tidak, jarak jangkau ke rumah warga.
Di beberapa desa di Kabupaten Lombok Timur, Provinsi NTB memandang air tak hanya dihitung dalam kubik. Ia punya nama. Ia punya cerita. Dan yang paling penting: ia punya hubungan dengan orang-orang yang hidup di sekitarnya.
Saya masih ingat satu pagi di Pesanggarahan Desa Aikmel, saat warga menggelar ritual Saur Sesangi di dekat mualan atau mata air. Anak-anak duduk di bawah pohon beringin, para ibu membawa bunga dan diletakkan di tepi mata air.
Doa dilantunkan pelan dalam bahasa Sasak lama yang tidak semua anak-anak itu pahami, tapi mereka tahu ini penting. Mereka diam, menyimak. Tak satu pun bermain-main atau tertawa keras. Seolah mereka tahu ini bukan tontonan. Ini bagian dari hidup mereka.
Di desa-desa seperti Aikdewa, Jurit Baru, Sembalun, Sapit, dan Tetebatu—tradisi seperti ini masih berjalan. Kadang dalam bentuk lengkap, kadang sudah mulai luntur. Tapi nilainya tetap terasa. Mereka menyebutnya Ngalun Aiq, Ngayu-Ayu, Nyelamet Reban atau Ngansor Gadang.
Ritus bukan hanya seremoni, tapi cara orang-orang desa menjaga relasinya dengan alam. Sederhana, tapi dalam. Tak perlu ada seminar untuk menjelaskannya, karena maknanya ada di tubuh, di ingatan, di ruang hidup sehari-hari.
Dalam diskusi akademik, kita mengenal istilah “ekologi spiritual”. Tapi bagi warga desa, konsep itu sudah lama dijalankan, tanpa perlu nama. Mereka tahu air harus dirawat, dihormati. Tidak bisa sembarangan ditebang pohon-pohon yang berada di sekitarnya, tak boleh ada sampah atau limbah yang dibuang di hulunya.
Ada keyakinan yang ditanamkan dari kecil—bahwa kalau tidak dijaga, mata air bisa marah dan hilang atau tak mengalir lagi. Bukan dalam pengertian mistik semata, tapi dalam rasa tanggung jawab kolektif.
Sayangnya, pembangunan modern kerap melupakan rasa. Ia terlalu sibuk pada struktur dan target. Dalam draft teknokratik RPJMD Lombok Timur 2025–2029, misalnya, kita sering bicara soal ketahanan sosial, soal budaya lokal, tapi ritus seperti ini jarang betul-betul masuk ke meja perencanaan daerah. Padahal, justru di sinilah akar dari ketahanan itu berada.
Mata air tidak hanya butuh bendungan. Ia butuh penghormatan. Ia butuh orang-orang yang merasa punya hubungan dengannya. Infrastruktur penting, ya. Tapi tanpa ikatan sosial dan emosional, semua itu bisa cepat rusak. Jika tak ada rasa, tak ada tanggung jawab. Jika tak ada tanggung jawab, maka air hanyalah soal teknis, bukan soal hidup.
Di tengah krisis iklim dan kekeringan yang makin sering terjadi seperti sekarang ini, justru sistem nilai seperti ritus selamatan mata air inilah yang menyimpan daya tahan. Ia mungkin tidak bisa diukur dengan angka, tapi ia terasa di kehidupan sehari-hari.
Jika kita mau lebih jujur, banyak tradisi-tradisi lama yang disisihkan dari perhatian kebijakan, bukan karena tak relevan lagi, tapi karena mungkin tak mudah diukur. Dan mungkin juga karena itulah ia tak tersentuh di rencana kebijakan. Tradisi hanya dianggap pelengkap, bukan sebagai sumber pengetahuan.
Padahal, ketika warga berkumpul dan memeluk kembali relasinya dengan mata air, itulah pendidikan ekologi dalam bentuk paling murni. Tak butuh modul, tak butuh proyek.
Bayangkan jika ritus seperti ini jadi bagian dari kurikulum lokal. Atau masuk dalam pelatihan desa ramah lingkungan. Kita tidak mulai dari nol. Kita tinggal mendengar. Mencatat. Lalu memberi ruang.
Kalau tradisi ini hanya jadi tontonan wisata, maka maknanya hilang. Kita hanya memungut kulitnya. Yang tersisa hanya foto dan dokumentasi.
Tapi ketika mata air berhenti mengalir bukan karena kemarau, melainkan karena manusia berhenti merawatnya secara spiritual, sosial, dan emosional—maka yang kering bukan hanya tanah. Ingatan kita pun ikut mati.
Air, bagi saya, adalah simpul kebudayaan. Ia menyatukan manusia dengan alam, dengan leluhur, dengan anak-anak yang akan hidup di masa mendatang. Dan menjaga air—bukan hanya soal kebijakan lingkungan. Ia soal kesadaran. Soal cinta. Dan seperti cinta, ia butuh ruang untuk didengar.***






