Tak Semestinya Mencinta

Matahari sudah bangun dari tidurnya.sinarnya kembali menerangi bumi,membuat embun-embun di dedaunan berjatuhan ke tanah.orang-orang sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing,berlalu lalang kesana kemari.begitulah suasana pagi di kota yang terkena dengan julukan kota kembang itu.

“della!!!Bangun dell,udah jam 6 nih…ntar kita telat!!!”

“Huuhh…Apaan sih Ra masih!masih ngantuk tauuk!”

“Ihh…ayo dong bangun!ntar kita telat!”

“iya-iya gue bangun,dasar bawel.”

“Haha…Nah gitu dong!Ya udah, Lo mandi sana, gue mau ke bawah, gak usah lama-lama oke!!!”

“Iya-iya Araminta wardah Dhawiyah Baweliyah…”

“EH eh Apaan tadi?Baweliyah?Sejak kapan nama gue ganti?”

“Haha…sejak lo selalu ganggu pagi gue”

“Ettdah…Dasar lo ahhh…ya udah sana mandi!!!”

Ara menuruni satu persatu anak tangga di rumah mewah itu.Ia menuju rang makan dan disana sudah ada seorang wanita yang sudah berkepala tiga.

“Pagi tante.”

“Pagi Ara, gimana ? Della udah bangun?”

“Udah dong tan,siapa dulu dong yang bangunin,  Ara gitu!!!Hehe…”

“Iya dehh…Ara emang yang paling bisa.”

“Iya dong tante…”

“Tapi si Della kok belum turun ya? Molor lagi mungkin.”

“Tau tuh tan…”

Tiba-tiba Della datang dan langsung memotong omongan Ara,

“Ayo pada gomongin apaan ? pasti pada ngomongin Della kan?!!”

“Ihh…pede amat sihhh…”

“Iya tuh ra, Della kepedean ya!”

“Ihh…kok pada gitu sihhh, mana mama Ara jahat ahh…ya udah sih,berangkat yok ra ! udah jam setengah tujuh nih…”

“Gak sarapan dulu?”

“Gak usah ma, Della pamit dulu ya!Ayo ra…”

“Pamit ya tan…”

“Iya! Hati-hati ya…”

*******************

Jam dinding menunjukkan pukul 06.50 WIB itu berarti jam pelajaran baru akan dimulai 10 menit lagi. Masih banyak murid SMA Harapan Jaya yang berada di luar kelas, walaupun kebanyakan dari mereka hanya berkomentar tanpa argumen tentang orang di sekeliing mereka dan sebagian lainnya membaca buku atau mungkin menyalin tugas temannya. Lalu Della dan Ara??? Mereka baru saja tiba disekolahan dan berjalan menyusuri koridor . Mereka memang tidak berada di ruang kelas yang sama, Della duduk di kelas XI IPA 3 sementara Ara XI IPA 1. Di tengah perjalanan ada sesosok cowok dengan tubuh tegas dan tentunya wajah tampan yang menghalangi jalan mereka.

“Pagi Dellaku” sapa Rafa

“ Pagi juga Rafa” balas Della

“Idihh!!!Apaan sih jijik banget deh!!! Alay lo ahhh” sela Ara yang risih dengan kelakuan  kedua sahabatnya.

“Biarin kali ra, lo gak pernah kasmaran sihh… hehe” ledek Rafa

“ Ettdaahhh malah ngeledek, gini-gini gue juga udah pernah kasmaran kalii”

“Lo ?!!kasmaran ?!! sama siapa ?Haha…ledek Rafa secara frontal, tapi Ara hanya terdiam lalu mengalihkan pembicaraan.

“Tau ahh!!!gue mau ke kelas dulu!Dasar nyebelin.” Ucap Ara sembari meninggalkan Rafa dan Della.

“Ett dahh…Si Ara marah tuhh Raf…kamu sihh, ngeledekin dia terus.”

“Biarin, ntar juga baikan sendiri, yang penting kamu gak marah…”

“Ealah…kan emang aku gak pernah marah, hehe…”

“Iya deh iya,Dellaku.”

“Ya udah masuk kelas sana, titip salam buat Ara ya!!! Selamat belajar Raffa!”

“Semangat belajar juga Della…”

Bel pulang sekolah sudah berbunyi, dan seperti biasanya Della selalu mengantarkan Ara pulang lalu mampir ke kosan Ara, entah itu hanya sekedar untuk bertukar cerita atau menanyakan tugas.

“Ra?!!” ucap Della

“Hmm…jawab Ara yang sedang sibuk merapikan buku-bukunya.

“Ara!!!Dengerin gue dong!”

“Iya Adara Fredella! Kenapa?”

“Ra, ntar malem gue mau jalan sama kak Ariel”

“Hahh!!! Maksud lo ?lo mau jalan berdua sama kak Ariel ?Berdua Del ?lo gak kasian sama Raffa, dia sayang banget sama lo Dell.”

“Sejak kapan lo jadi mikirin perasaannya Raffa?”

“Gak gitu maksud gue, tapi kalian berdua kan sahabat gue, tau ahh…dari pada lo negthink ke gue mending gue ke toko.”

Della membaringkan tubuhnya di kasur matanya menatap sekeliling ruangan dan berhenti pada foto yang terpajang di dinding, foto itu diambil saat mereka selesai menjalani masa orientasi. Della mengambil foto itu dan ia terkejut melihat sebuah lemari rahasia di balik figura. Dengan ragu ia membuka lemari itu, disana ada setumpuk surat. Della membuka salah satu surat itu lalu membacanya.

Dear…

Aku mencintaimu dalam sepi, menyimpan rasa ini dalam hati, tanpa ingin siapapun mengerti, cukup hati dan diriku sendiri,

Bandung,11 Januari 2014

#R.F#

Della tidak tau apa maksud surat ini, “mungkinkah ini curhatan Ara?” Batin Della. Lalu ia membuka surat lainnya.

Bandung, 25 Januari 2014

Dear…

Sekarang aku tau bagaimana perasaanku, Tapi kenapa aku harus merasakannya dengan dia???

Sedang aku tahu hatinya bukan untukku, entah apa yang harus ku lakukan, haruskah aku terus mencintainya ?

Tolong aku tuhan…

#R.F#

“Lagi-lagi R.F?” Batin Della.Hanya ada satu nama inisial R.F yang Della tau , yaitu Raffa Fajrial, pacarnya sendiri.

Mendengar ketukan pintu, dengan cepat Della menutup lemari tadi dan kembali tidur di kasur.

“Ra ?!Gue mau pulang !mau siap-siap buat ntar malem!”

“Lo serius Dell? Lo tega banget sih sama Raffa.”

“Kok lo jadi peduli banget sih sama Raffa, lo ska sama dia ?Iya?!!”

“Gak gitu Dell…gue gak suka sama Raffa.”

“Udah deh…gak uah ribet.”

“Tapi Dell…”Ucap Ara menggantung.

Sesampainya di rumah Della langsung kekamar dan merenungkan surat yang tadi ia baca.

“Apakah selama ini Ara mencintai Raffa ? Tapi sejak kapan ? lalu kenapa ? Aku sungguh tidak mengerti…”

****

Saat  jam istirahat Ara menghampiri Della di kelasnya, ia ingin menjelaskan keadaan sebenarnya. Tapi  Della malah marah-marah dan menuduh Ara suka dengan Raffa, walaupun pada kenyataannya Ara tidak menyukai Raffa tapi menyayangi dan mencintai Raffa.

Dan sejak kejadian itu, Ara menjauhi Raffa untuk membuktikan pada Della bahwa ia tidak menyukai Raffa. Tapi Ara tidak berguna karena Della memang sudah tahu kalau sahabatnya menaruh hati pada pacarnya. Della memang tidak begitu mencintai Raffa.

Hari-hari Ara berjalan dengan hampa, karena  sudah hampir sebulan ini ia tidah pernah bertegur sapa dengan Raffa. Raffa pun merasa hal yang sama, ia merasa ada yang aneh dari hidupnya, ada sesuatu yang hilang, apalagi setelah 2 minggu yang lalu sejak Della memutuskan hubungan mereka dengan alasan yang tak jelas. Ia sadar ada sosok yang ia rindukan. Ara ! Iya, sosok itu adalah Ara, Ara yang dulu selalu ada  untuk menghiburnya, Ara yang dulu selalu datang saat ia membutuhkan. Raffa berfikir mungkinkah dia yang di maksud Della ? “

“Maaf Raf, hubungan kita harus berhenti cukup sampai disini, kamu harus tahu ada orang lain yang lebih menyayangimu, walaupun kamu tidak tahu cara ia mencintaimu.”

Begitulah ucapan Della saat memutuskan Raffa.

Hari terus berlalu. Iya, hidup memang harus tetap berjalan entah saat kau merasa bahagia ataupun sedih. Setelah 2 bulan berjalan, Raffa semakin yakin Ara lah yang Della maksud dan Ara lah wanita yang ia cintai.

****

Hari ini adalah hari minggu, seharusnya sekolah libur tapi Ara tetap berangkat karena Raffa meminta Ara untuk menemuinya dikelas. Ara terus menyusuri koridor sekolahan, ia tersenyum sendiri saat mengingat saat-saat indah bersama Raffa, saat ia melihat Raffa tersenyum walaupun itu bukan untuk dirinya.

Ara menunggu Raffa di bangku taman sekolahan. Setelah 15 menit menunggu akhirnya Raffa datang dengan membawa setangkai mawar putih. Ara tidak tahu apa yang Raffa inginkan, tapi ia merasa sangat takut.

“Ra, maafkan aku…karena aku tak mengerti bagaimana caramu mencintai, maafkan aku karena aku sadar aku telah mencintaimu,…”

Ara hanya terdiam, ia bingung apa yang harus ia katakan ? Apa yang seharusnya ia rasakan ? Haruskah dia bahagia ? Tapi bagaimana dengan Della ?

“Della telah mengakhiri hubungan kami 3 bulan yang lalu, dia tau kalau kamu mencintaiku. Lalu bagaimana dengan perasaanmu ? masihkah kau simpan rasa cinta di hatimu untukku ?”

Ara tersipu malu.

“Entah lah…mungkin masih, tapi aku tak tau bagaimana cara yang benar untuk mencintaimu…” jawab Ara.

“Tak ada cara yang salah untuk mencintai, karena cinta tak pernah salah…” ucap Raffa.

“Hahaha…Btw mau sampe kapan nihh pake aku kamu ?” tanya Ara.

“Hahaha…pengennya nyampe kapan ? Tapi gue sihh, kata aku kamu gak penting, yang penting terus ajarin gue gimana cara buat lo bahagia” Jawab Raffa.

“Hahaha…sok sweet lo !!!”

“Biarin, hahaha”

Hari itu adalah awal cerita baru bagi Raffa, Ara dan Della. Dimana mereka sadar bahwa pecinta sejati akan menemukan cinta sejatinya, dimana cinta yang tulus akan mempersatukan dua insan yang memilikinya. Karena cinta tak pernah salah.

 

Oleh: Wahyu Sri Lestari, Mahasiswi UIN Walisongo Semarang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *