Di sebuah peternakan, hiduplah seekor Anak Domba bernama Beni. Beni tinggal di peternakan bersama ibunya. Setiap sore ketika domba-domba keluar untuk merumput, Beni ikut pergi bersama ibunya. Beni adalah anak domba yang manis, selalu ingin tahu dan suka keluyuran. Kebetulan, di dekat padang rumput ada sebuah hutan lebat. Beni sering masuk hutan dan berjalan-jalan sebentar. Sebenarnya ibu Beni selalu melarangnya masuk hutan, tetapi Beni selalu pergi dengan alasan ingin bermain.
Suatu hari, Beni sedang berjalan-jalan dan mengobrol dengan dua burung temannya, dia mendengar cerita dari burung temannya bahwa ada padang bunga di tengah hutan. Beni pun langsung ingin mengunjungi dan bermain di padang bunga tersebut sore nanti. Sore harinya, semua domba dikeluarkan untuk merumput, termasuk Beni dan ibunya. Ketika sampai, Beni langsung mengikuti ibunya dan merumput sebentar, lalu setelah ibunya lengah, Beni langsung menyelinap menuju hutan. Beni pun mulai berjalan, dia sudah tahu jalannya karena tadi pagi, salah satu temannya memberi tahu dia harus lewat jalan mana.
Begitu sampai di padang bunga tersebut, Beni begitu terpesona melihatnya. Ada bunga berwarna putih, pink, merah, biru, dan lainnya. Namun yang membuat Beni terpesona adalah seekor serangga dengan sayap warna-warni yang beterbangan di dekat bunga. Sayap serangga itu ada yang berwarna putih dengan garis hitam, ada yang orange dengan bercak hitam, ada juga yang cokelat seperti daun kering. Beni langsung asyik bermain disitu. Dia mencoba meniup salah satu bunga yang berwarna putih, dan kelopak bunga itu pun langsung terbang.
Beni juga berlari-lari mengelilingi padang bunga. Angin sore di padang yang sangat sejuk, membuat Beni semakin betah dan asyik bermain. Ketika Beni sadar hari sudah petang, Beni pun langsung pulang, namun dia tidak terbiasa berjalan di hutan pada malam hari. Sehingga, Beni tersesat. Dia sungguh bingung sekarang, rasanya seperti berputar-putar, terus kembali ke tempat yang sama. Hari sudah malam, tetapi Beni masih di dalam hutan, ia mulai tahu kenapa ibuya melarangnya masuk hutan. Binatang malam mulai bergerak mencari mangsa, sedikit suara saja bisa membuat Beni gemetar ketakutan.
Karena kelelahan, Beni duduk di bawah salah satu pohon, dan mulai mencoba membayangkan andai ia mematuhi nasihat ibunya. Ia pasti akan baik-baik saja sekarang, berada di peternakan yang hangat dan tidur dekat ibunya. Beni menyesal kenapa harus masuk ke hutan. Tiba-tiba Beni melihat sepasang mata bersinar yang memandang kearahnya, Beni gemetar ketakutan.
Beni ingin lari, tetapi kakinya gemetar dan berat digerakkan, sepasang mata itu lalu mendekati Beni, Beni semakin ketakutan. Saat ia sudah pasrah hendak dimakan oleh Srigala, Beni mendengar sebuah suara yang menyapanya. “Hei Domba kecil, kamu sedang apa disini?”, Beni terkejut karena suara itu terdengar ramah, tapi ia masih belum berani membuka mata. ”Jangan takut Domba kecil, aku tidak akan menyakitimu, bukalah matamu!”, bujuk suara itu.
Beni pun mencoba membuka mata, dia bisa melihat sepasang mata bersinar itu menatap kearahnya. “Jangan takut, aku bukan binatang buas, aku Cici si Kucing”. “Kucing?” tanya Beni. “Aku belum pernah melihatmu”, lanjutnya. “Tentu saja, aku selalu aktif di malam hari, kalau siang aku tidur”, jawab Cici. ”Namamu siapa? Kenapa bisa disini?” tanya Cici.
“Namaku Beni, aku disini karena tersesat”, lalu Beni pun menceritakan semuanya. ”Ooh begitu. Kamu datang darimana?”, tanya Cici. “Aku dari peternakan”, jawab Beni. “Aku bisa mengantarmu kesana”, lanjutnya. “Benarkah? Kau sungguh bisa?” tanya Beni. “Iya, ikut aku!” kata Cici.
Cici tertawa saat Beni gemetar karena melihat seekor Kelelawar melintas. “Itu namanya Kelelawar, tenang saja, dia tidak berbahaya kok”, kata Cici. Beni pun kembali berjalan, setelah kaget karena tiba-tiba ada bayangan hitam terbang diatasnya. Hutan memang diterangi Bulan, tapi tidak terang, cahayanya remang.
Malam mulai larut, tapi Cici dan Beni masih terus berjalan. Sesekali mereka berhenti, tapi kemudian berjalan lagi. Beni mulai heran karena mereka masih belum sampai juga. Beni pun bertanya: “Cici, kenapa kita belum sampai?” katanya. “Kenapa? Kamu sudah capek ya?” Cici bertanya balik. “Sepertinya aku tidak terlalu jauh waktu pergi dari padang rumput”, kata Beni. “Sebenarnya, jarak hutan dan peternakan memang tidak terlalu jauh”, kata Cici. “Tapi aku memilih jalan memutar, karena kalau kita melewati padang rumput, kita akan terlihat dan mungkin diterkam”, jelas Cici panjang lebar.
“Ooh, begitu”, kata Beni. Mereka pun terus berjalan. Beberapa saat kemudian, “Beni, lihat!” kata Cici. “Peternakan!, kita sudah sampai!” seru Cici. “Mana?” tanya Beni sambil berlari. “Wah, iya benar!” kata Beni girang. “Kalau begitu aku pergi dulu”, kata Cici. “Eh, sebentar Ci! Karena kamu sudah mengantarku, kau pasti lelah. Istirahatlah dulu di peternakan!”, kata Beni. “Baiklah”, kata Cici.
Beni dan Cici pun masuk ke kandang Domba, dan menemui Ibu Beni yang terlihat menunggu sedari tadi. “Beni!” kata ibu Beni. “Kemana saja kamu? Ibu sudah hendak mencarimu!”. “Maaf bu, tadi Beni tersesat di hutan, tapi sudah diantar kesini oleh Cici.” “Siapa Cici?” tanya ibu Beni. “Teman Beni bu”. “Ayo Ci, kesini!”
“Ooh, jadi namamu Cici ya?” tanya ibu Beni. “Iya bu”, kata Cici. “Terimakasih ya, sudah mengantar Beni. Maaf merepotkan Cici”. “Tidak apa-apa bu, saya tidak merasa direpotkan kok.” “Iya bu! Lagi pula, Beni jadi punya pengalaman saat di hutan”. Kata Beni. “Oh ya?” “Iya bu”. Begitulah, malam itu Beni pun bercerita tentang pengalamannya di hutan. Dalam hati, Beni berjanji akan mematuhi nasihat ibunya, juga tidak akan keluyuran lagi.








gejolak rindu untuk Bundanya terbendung wabah corona…..
dituangkan dlm sebuah karya…….
smg sehat dan bersahaja Mb Anet….
doa ayah Bunda…..
Mb anet. Terus berkarya ya