Semua peradaban yang pernah muncul di bumi, pernah mengalami kemajuan yang begitu pesat, seperti peradaban di Romawi, Persia, Cina, dan Andalusia, misalnya. Pada masanya, tempat-tempat itu mengalami perkembangan yang begitu pesat. Kemajuan peradaban tersebut diindikatori dengan kemakmuran, kemajuan ilmu pengetahuan, keamanan, dan juga kesenian. Setidaknya indikator-indikator tersebut harus menjadi budaya yang melembaga di tengah kehidupan bermasyarakat.
Faktor yang paling mempengaruhi kemajuan sebuah peradaban adalah adab. Sebab peradaban berasal kata adab. Maka, adab adalah norma yang harus dijunjung tinggi oleh penduduk suatu negeri, agar mereka mampu menciptakan sebuah peradaban yang unggul. Jika adab mulai dipandang sebelah mata, maka kemunduran seuatu negeri pasti akan terjadi. Maka, tidak heran jika peradaban-peradaban yang penulis sebutkan di atas mengalami kemunduruan, sebab adab mulai ditiinggalkan.
Dalam hal ini, adab yang penulis maksud bersumber dari tuntunan kehidupan umat manusia secara universal, yaitu al-Qur’an. Sebab, jika dibandingkan dengan yang lainnya, peradaban yang bersumber al-Qur’an dapat menciptakan peradaban yang jauh melampaui zamannya. Piagam Madinah adalah salah satu contoh hasil dari peradaban yang diciptakan berdasarkan tuntunan al-Qur’an. Piagam Madinah adalah konstitusi pertama yang ada di dunia.
Jika kebiasaan manusia saat itu adalah melakukan kerusakan di muka bumi dan gemar menumpahkan darah, Muhammad tampil lebih maju dibandingkan yang lain. Muhammad membentuk pakta integritas yang mampu menyatukan persaudaraan sesama manusia. Muhammad melakukan hal tersebut dikarenakan mengikuti panduan yang telah tertulis di dalam al-Qur’an.
Kemudian beberapa peradaban selanjutnya muncul di beberapa daerah, di Bagdad, Andalusia dan Mesir, misalnya. Peradaban-peradaban tersebut muncul karena mengikuti panduan di dalam al-Qur’an. Jika dahulu umat Islam mampu menciptakan peradaban yang begitu maju, namun mengapa hingga saat ini justru sebaliknya. Umat Islam mengalami ketertinggalan yang begitu jauh dibandingkan dengan umat laiinnya. Nampaknya ini terjadi akibat kesalahan dalam memahami apa yang maksud di dalam al-Qur’an.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” QS adz-Dzariyat ayat 56
Ayat ini menegaskan bahwa manusia diciptakan oleh Allah semata-mata mengabdikan dirinya kepada Allah ta’aala. Ayat ini biasa dimaknai oleh sebagian umat Islam dengan manusia diciptakan hanya untuk beridabadah kepada Allah saja. Sedangkan urusan-urusan selain beribadah, mereka tinggalkan. Pemahaman mereka berangkat dari pemaknaan terhadap hamba. Hamba memiliki arti yang sama dengan budak. Sebagaimana seorang budak pada umumnya, mereka akan menggantungkan apa yang mereka terima dari tuannya. Dan mereka melakukan kepasrahan secara total dengan sebenar-benar kepasrahan tanpa melakukan usaha apa pun.
Pemahaman inilah yang membuat umat Islam mengalami kemunduran. Pemahaman seperti ini biasa dinamakan dengan paham Jabariyah. Secara harfiah, Jabariyah berasal dari kata ja-ba-ra, yang berarti keterpaksaan. Paham yang memandang bahwa alur kehidupan manusia mutlak ditentukan oleh Tuhan.
Manusia tidak memiliki daya. Segala yang dilakukan oleh manusia adalah kehendak Tuhan. Secara historis, paham ini mudah dimanfaatkan oleh para penguasa. Pada dinasi Umayyah misalnya, Muawiyah mencari dukungan politik kepada para pemberontak, orang Syi’ah, untuk melegitimasi kekuasaannya. Muawiyah berkata, “Sesuatu yang terjadi pada diriku ini merupakan ketetapan Tuhan”.
Jika paham ini tetap diteruskan keberadaanya, akan membuat umat Islam semakin tertinggal. Sebab sejatinya, Allah telah memberikan anugerah yang tidak dapat dijumpai selain pada manusia, yaitu akal. Akal dipergunakan agar manusia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Jika akal tidak diberikan secara maksimal, sunggu merugilah manusia tersebut. Sebab hanya dengan itu manusia dibedakan dengan makhluk-makhluk lainnya.
Oleh karena itu, muncullah paham yang menjadi antitesa dari paham ini, Qadariyah. Secara harfiah Qadariyah berasal dari kata qa-da-ra yang berarti berkehendak. Paham yang memandang bahwa segala sesuatu yang terjadi pada manusia berasal dari kehendak pribadinya. Manusia memiliki andil yang begitu besar dalam menentukan apa yang akan terjadi pada dirinya. Tanggung jawab sepenuhnya berada di tangan manusia. Namun, pemahaman ini memiliki titik yang sangat ekstrim, yaitu Tuhan tidak memiliki andil untuk mencampuri urusan manusia.
Maka dalam konteks berkehidupan yang baik, tentunya demi menciptakan peradaban Islam kembali ke masa lalu (golden age), kedua paham ini harus dipadukan, agar memiliki keseimbangan. Manusia menentukan apa yang akan terjadi dengan sepenuh tenaga, setelah itu berdoa sepenuh hati kepada Allah, agar kelak Allah membantu memperlancar segala urusan. Hal ini senada dengan pepatah, “Usaha tanpa doa, sombong. Doa tanpa usaha, bohong”. Waalahu a’lam bi al-showwab.




