“Rindu adalah rasa yang curang, di mana rindu akan selalu bertambah tanpa tahu bagaimana caranya untuk berkurang
Bersahabat itu indah. Lebih indah jika saling membantu dan merindu. Bukan yang maju lalu pergi berlalu. Kisah persahabatan yang terjalin dari batin akan terasa sangat erat dan sulit terlepas. Walaupun jarak membisikkan bahwa persahabatan akan sedikit memudar hingga hilang tanpa bekas, namun ingatlah jarak bukan pokok permasalahannya. Tahanlah rasa rindu, karena rindu dengan orang yang benar-benar disayang itu jauh lebih sulit.
Naya, seorang maha santri di rumah perkaderan yang sangat terkenal di kota Bandung. Kota kembang yang membuatnya memiliki banyak cerita. Pengalaman hidup, ekonomi, pertemanan, bahkan cinta pun ia temukan di tempat itu. Cuaca dingin yang selalu menyelimuti di setiap tidur malamnya, jaket tebal yang ia balut di sekujur tubuhnya, semua itu ia lakukan di setiap harinya. Sampai kapan ia akan berada di tempat itu? Ingin rasanya pergi dari pada merasakan beku setiap hari.
Nita dan Nisa adalah sepasang anak kembar yang sudah memiliki hubungan dekat lahir dan batin dengannya. Bayangkan saja, mereka sudah berteman akrab sejak berumur tiga tahun. Ingat sekali ketika Nita melempar batu berukuran sedang ke pelipisnya. Sontak ia menangis kala itu juga, dan memutuskan untuk tidak berteman dengan Nita selama-lamanya. Namun, omongan itu tak pernah menjadi nyata, seperti angin lalu belaka.
Tak kuasa, di kejauhan Naya terus berdiam menahan rindu. Sudah banyak ia mengungkapkan rasa melalui putaran lagu. Yaitu lagu yang ia, Nita juga Nisa sukai sejak dulu. Ia selalu ingin keduanya datang untuk bertamu bukan sekadar untuk bertemu. Pesan yang tertulis, gambar yang terlukis, belum mampu ungkapkan pilu. Rasa khawatir akan keadaan sahabatnya, kini tak kunjung berlalu. Ia bosan dengan rasa, semua itu menyergap hingga ke kalbu. Notifikasi whatsapp yang tertera nama Nita atau Nisa, itulah yang ia tunggu. Hitam putih, warna warni pelangi, tanpa mereka berdua, baginya kini kelabu. Iya, hanyalah keduanya, yang membuatnya rindu, resah, dan selalu ingin bertemu.
Naya selalu memandangi jam tangannya setiap saat, kebetulan saat ini menunjukkan pukul 23:22 WIB, tepat 38 menit lagi adalah pergantian tanggal kelahirannya. Apa kira-kira yang akan terjadi pada hari esok. Ia berharap besok akan ada sesuatu yang membuatnya bahagia. Salah satunya adalah kabar dari kedua sahabatnya yang sekian tahun tidak berkomunikasi sama sekali dengannya.
Apakah besok akan sama bahkan mirip dengan kejadian 3 tahun lalu yang pernah ia alami ketika SMA dulu. Di guyur tepat jam 12 malam setelah menonton bersama, lemari bajunya yang disembunyikan beserta isi di dalamnya, kaus kaki hitamnya yang disembunyikan saat akan ekstra pramuka, Ketua OSIS yang menghukum dan menuduhnya pacaran karena menemukan surat cinta di dalam lemarinya, di jeburin ke dalam kolam lele, atau uangnya yang diambil dari dompetnya oleh teman-temannya? Tak perlu Naya berpikir panjang. Mending ia tidur dan akan bangun dengan suasana yang berbeda.
Naya bangun pagi dan tidak ada sesuatu yang berbeda sedikit pun. Ia membuka handphone dan melihat notifikasi yang berada di atas layar handphonenya. Masih sama seperti biasa, Adit, Sinta, grup kelas, yang muncul di notifikasi whatsappnya. Ke mana Nita dan Nisa, mengapa tidak ada nama mereka? Apakah mereka sudah lupa dengan hari ulang tahunnya. Sama sekali tidak ada pemberitahuan terhadap mereka. mungkin Nita dan Nisa belum bangun, ia selalu berpikir baik terhadap mereka. Pasti mereka akan mengucapkan ucapan selamat, iya akan ia tunggu walaupun hingga larut malam.
Selain kedua sahabatnya ini, ia memiliki teman-teman yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri. Teman satu perjuangan yang siap membantunya menuju kesuksesan, berjuang bersama bahkan merasakan susah dan sedih secara rata. semua sudah ia anggap sebagai saudara sendiri. Ke mana lagi ia akan bersinggah jika tidak kepada mereka semua. Ia berharap bahwa keberadaanya membuat orang lain menganggap bahwa ia ada. Bukan yang ada tetapi justru dianggap seperti tidak ada.
Menjelang siang, handphonenya terus bergetar, pertanda banyak pesan yang masuk kepadanya. Pesan dengan ucapan selamat dari tiap-tiap kontak yang ada di handphonenya. Teman ketika SMA, teman sekelas, teman di kampus, dengan serentak mengucapkan selamat kepadanya pada hari itu juga. Tetapi disisi lain ia merasakan kesedihan yang sangat mendalam, dari sekian banyak teman yang berada disisinya saat ini tidak ada seorang pun yang mengetahui hari itu. Bukan berarti ia tidak ingin membagi kebahagiaan dengan orang lain. ia hanya ingin membuktikan, seberapa penting dan dikenalnya ia bagi teman-temannya.
Naya sangat merindukan masa-masa SMA, di mana semua orang antusias dalam perayaan ulang tahunnya. Ia sangat sedih dengan keadaannya sekarang. Seolah-olah semua orang sibuk dengan tugasnya masing-masing tanpa peduli dengan orang lain di sekelilingnya. Setelah ia menjawab semua pesan dari teman-temannya, ia memilih untuk beristirahat dan akhirnya tertidur saat siang itu juga.
Ia kembali teringat kepada kedua sahabatnya yang jauh di seberang pulau. Ia selalu mengharapkan lebih kepada kedua sahabatnya tersebut. Namun, sampai kini tidak ada satu kata pun yang ia dapatkan dari keduanya. Ia bingung, apa yang salah dengannya saat ini. Apakah mereka mengerjakan tugas kuliah yang sangat banyak, sesibuk itukah hari-hari mereka. Ia ingat sekali di saat 4 tahun lalu mereka selalu merayakan ulang tahunnya bersama. Naya sangat merindukan suasana itu. Di mana semua saling berbagi cerita, tertawa Bersama, dan semuanya terlihat bahagia. Katanya “jarak bukan penghalang suatu hubungan”, tapi tidak untuknya saat ini. Ia tidak bisa mempercayai itu. Yang ia rasakan jarak sudah menjadi penghalang antara ia dan kedua sahabatnya.
“Sekarang adalah tahun untuk terakhir kalinya kita Bersama. Tahun depan dan seterusnya kita akan berbeda jalan, Kawan. Percayalah, melawan jarak dan menentang waktu itu tidak mudah. Salam sukses dariku untuk kita semua. Tetap jaga komunikasi dan jangan pernah melupakan hari penting masing-masing di antara kita”. Ujar Nisa 4 tahun silam.
Sontak ia menangis mengingat kalimat itu, bagaimana mungkin Nisa yang mengkhianati perkataannya sendiri. Ia tidak tahu bagaimana untuk menanggapi semuanya. Ingin rasanya untuk mengakhiri hari ini, dan cepat untuk berganti ke hari esok. Tetapi, semua tidak pernah ia sangka sebelumnya. Tuhan seperti mendengar keluhnya dan mengubah semua keadaan menjadi penuh ceria dan tawa. Pagi dan siang hari sudah berlalu, kini ia akan disambut dengan malam hari yang sangat luar biasa. Malam di mana ia sudah merasa cukup untuk menangis dan tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Sempat ia beranggapan bahwa semua orang jahat, dan tidak mengerti dengan keadaannya. Ternyata ia salah, salah sekali. Justru banyak orang yang peduli dengannya. Banyak orang yang rela melakukan hal konyol dan berjuang untuk kebahagiaannya.
“ya Tuhan, aku sangat bahagia malam ini. Sungguh, naskah skenario yang sudah kau buat tak pernah ku tahu sebelumnya.” Lirih Naya dalam hatinya.
Semua terasa seperti mimpi. Bayangan yang ia harapkan untuk cepat berlalu dengan hari ini sempat ia urungkan. Bahagia mendadak yang ia dapatkan saat itu membuatnya semakin hidup. Kini seperti ada yang membocorkan keluhnya kepada sang kuasa. Entah dari mana semua berubah seperti ini. Kenangan ini akan menjadi kenangan pertamanya di tempat yang kini sangat ia cintai. Ia janji akan menyimpan kenangan yang terjadi pada hari ini dengan indah dan rapi. Kemudian kelak bisa ia ceritakan kepada orang-orang yang berhak ia ceritakan. Andai Nisa dan Nita ikut antusias dalam perayaan ini, pasti kebahagiaannya akan bertambah persentasenya. Jika keduanya atau salah satu dari keduanya membaca tulisan ini, ia berharap mereka bertiga bisa cepat bertemu dan saling bertukar rindu.
Oleh : Aliatun Ifani, Mahasiswi UIN Walisongo Semarang







