Siang itu, cahaya matahari yang terpancar begitu panas. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, cahaya yang terpancar begitu menyengat dan membakar jiwa. Adapakah gerangan? Sedang bermasalahkah dirimu dengan yanng lain? Atau sedang terjadi sengketa dengan patner seperjuanganmu?
Sudahlah, kita doakan saja agar matahari cepat pulih dan tidak labil. Itulah sepenggal gurauan Nuri dengan alam yang sudah menyengat dirinya siang itu. Bersih-bersih pekarangan dan taman telah ia sudahi. Dengan segera, Nuri beranjak untuk membersihkan diri sebelum adzan dhuhur dikumandangkan.
Usai salat dhuhur, Nuri kembali melakukan aktivitas hariannya. Menulis merupakan aktivitas yang bisa membuatnya berekpresi dan juga berekplorasi lebih luas tentang berbagai hal, termasuk masa depan yang belum jelas muaranya. Sebelum di asrama, dia sering menulis di buku diary berwarna hijau yang ada pitanya. Warna hijau, hampir semua barang miliknya ada warna itu. Baginya warna hijau memiliki makna tersendiri selain merupakan warna kesukaan Nabi. Meneduhkan, menyejukkan dan membuat mata terang. Itulah warna favorit pilihannya.
Kembali lagi pada rutinitas menulis. Sejak hampir satu tahun tinggal di asrama, dia merupakan kategori orang yang gak pernah nulis di media massa. Pernah juga dia mengalami massa frustasi yang luar biasa hingga pada akhirnya menghapus seluruh file tulisan yang ada di laptop hitam kesayangannya itu. Ketika kelas menulis, guru jurnalistiknya selalu bilang bahwa “Dia hanya pandai membuat judul tapi isinya gak sesuai bahkan acak-acakan”. Pernyataan gurunya itu selalu terngiang hingga pada akhirnya ia mulai bangkit.
Singkat cerita, dia mulai menulis ketika ada api yang menyulut dirinya. Qolbi, dialah orang yang membuat Nuri bisa menulis, selain desakan dari senior asrama yang paling produktif dan karirnya melalang buana pada dunia jurnalistik. Meski Qolbi baru sekitar tujuh bulan mulai nulis di media, namun tulisannya sudah hampir mencapai angka seratus. Itulah yang membuat Nuri semakin geram dan berusaha agar tulisannya dapat menyaingi tulisan Qolbi bahkan lebih.
Siang yang terik itu ia gunakan untuk kembali menarikan jari-jemarinya di atas laptop, sebelum kantuk membuyarkan segala imajinasi dan gagasannya. Dalam perjalanannya menyelesaikan karya tulis ada pikiran yang membuat jarinya terhenti. Bukan sekedar bayangan tentang Qolbi atau tugas-tugas yang telah menunggu untuk dikerjakan. Dia teringat janjinya kepada permata hatinya dahulu tatkala ia memeluknya untuk yang terakhir kali.
Janji itulah yang menjadi dasar pilihannya saat ini. Janji untuk menyelesaikan cita-citanya sebelum umurnya beralih ke angka dua puluh satu. Juga termasuk janji agar tidak terlalu memelihara perasaan yang masih semu dan belum tahu kepastiannya di masa depan. Serta masih banyak lagi janji yang harus ia penuhi agar ikhtiar serta jalan untuk mewujudkan proposal kehidupannya mudah dan sesegera mungkin di acc oleh Pemilik Kehidupan.
Dalam imajinasinya kali ini, Nuri menemukan pesan terselip dari orang yang selalu menginspirasi beberapa tulisannya. Pria pendiam berkacamata yang selalu riuh dalam kata-kata dan selalu diriuhkannya dalam seiap do’a. Siapa lagi kalau bukan Qolbi. Pesan yang singkat tapi sulit untuk diterjemahkan olehnya.
“Ada banyak pesan dan doa kepada Tuhan yang belum tersampaikan. Dari terbenamnya matahari, kemudian berlanjut disepertiga malam. Keluh kesah selalu tercurahkan. Hingga datang waktu pagi. Saat mentari mulai menampakkan kilauan terindahnya, saat itu pula perlahan terbuka tirai kerinduan. Ku mulai menyapa semesta ditemani kicauan burung yang terbang bebas di alam rimba raya. Seketika itu, ingin ku menitip pada merpati; surat yang telah kubuat semalaman. Agar membawa pergi bingkisan harapan yang telah lama ku impikan.”
Masih mencoba mengeja kata demi kata, serta mencari makna tersirat dari tiap kalimatnya. Karena aku yang belum lama belajar menulis terutama menulis tentang sastra. Kira-kira belum ada enam bulan semangatku untuk menulis berkobar.
Andai saja kau bisa memahami apa yang pernah aku sampaikan pasti kau tidak akan sekaku ini. Kau akan lebih bisa bersahabat dengan keadaan sekalipun hatimu tergores luka kenyataan. Sayatan pisau pada lembah kebingungan dan realita yang sedang berada di depan kita tak enggan-enggannya berhenti dan terus menguji langkah kita. Langkah kepastian untuk melanjutkan, berhenti atau berbalik arah ke masa yang dulu pernah bersejarah.
Ketika sebuah rasa telah bersemayam dalam diri kita, sebenarnya hanya ada dua hal yang pasti. Melanjutkan merajut rasa dengan segala perjuangan yang ada atau berhenti dan membiarkan rasa itu pergi. Itulah kebimbangan yang sempat Nuri rasakan tatkala Qolbi menyatakan perasaannya kala itu.
Dalam pengajuan proposalnya malam itu, Nuri harus menetapkan sebuah pilihan tentang keberlangsungan hidupnya. Termasuk keberlangsungan asmara yang telah bertamu padanya saat ini. Sebuah pilihan yang hanya diketahui oleh Sang Accecor sejati yang dengan hal itu pula Nuri selalu mengharap petunjuk terbaik terhadap jalan yang diambilnya.
Dunia itu luas, begitu juga makhluk yang ada di dalamnya. Nuri sadar setiap orang punya cara dan juga seni tersendiri untuk memaknai. Namun, satu hal yang perlu kita ingat. Ada orang lain yang juga memiliki hal yang yang demikian. Tugas kita adalah menyelaraskan agar tercipta sebuah sinergi.
Aina Fahma







