Hai, kamu apa kabar?
Hampir setahun ini, aku memiliki seseorang yang spesial dalam hidupku. Jika ditanya, apakah aku mencintainya, jawabanku “Iya.” Jika ditanya apakah dia mencintaiku, entahlah dia begitu rumit untuk ku pahami. Dia seperti teka-teki dalam hidupku, begitu banyak potongan-potongan kehidupan yang tak ku pahami darinya. Terkadang, aku seperti mengenalnya, terkadang juga dia seperti orang lain yang begitu asing bagiku.
Kalaupun aku ditanya tentang hubunganku dengannya? “Ambigu,” mungkin itu jawaban yang pas untuk hubungan kami. Tak pernah ada kejelasan darinya. Dia tidak pernah memperjelas hubungan kami, padahal lampu hijau telah ku berikan kepadanya. Namun, tak ada tanggapan darinya. Walaupun begitu, satu hal yang aku tau darinya, bahwa dia memiliki ketertarikan kepadaku.
Seiring berjalannya waktu, hubungan kami berjalan seperti biasanya, dekat hanya lewat media maya tak lebih dan tak kurang. Itu pun jika kita saling berpapasan di jalan, salah satu dari kita hanya tegur sapa ala kadarnya dan berlalu begitu saja.
Namun, dibalik itu semua, aku tau bahwa dia memiliki masalah, aku tau ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku. Dia bagaikan rumus rubik yang harus ku pecahkan, kadang aku harus berhenti untuk belajar memahami rumus rubik tersebut.
Itulah salah satu sebab aku menyukainya, dia sangat misterius. Tak pernah terlintas dalam benakku untuk mencampuri urusan dia. itulah sebabnya aku tidak pernah bertanya tentang masalahnya. Pertanyaanku ala kadarnya saja, aku takut jika pertanyaanku berlebihan, dia akan terganggu. Karena sependek pengetahuanku, dia adalah cowok pendiam. Oleh karena itu, aku tetap bertahan kepadanya walau serumit apapun dirinya.
Beberapa hari lalu, aku sempat bertengkar dengannya. Selepas itu hatiku gelisah dan cemas, seperti ada yng mengganguku. Namun aku tidak tau apa itu, ku harap ini bukan tentang pertengkaran kita beberapa hari lalu, ku harap ini tidak ada kaitannya dengan perasaan kita, kuharap ini bukan pertanda buruk buat kita, ku harap hatimu masih untukku, dan masih banyak lagi harapanku paska pertengkaran itu.
Terlepas dari pertengkaranku tempo dulu, mohon maafkan aku yang telah bersikap egois terhadapmu yang selalu ingin dimengerti. Aku sadar kamu juga manusia yang butuh dimengerti, hanya saja kita belum bisa saling mengerti satu sama lain. Hingga pada akhirnya, aku baru tersadar dari mimpi indahku, bahwa dia telah meninggalkanku tanpa sebab yang ku tau. Pada akhirnya aku telah dibutakan oleh cinta, untuk kesekian kalinya, aku memaafkannya.
Di suatu malam aku menyadari bahwa dia lebih memilih seseorang yang mencampuri kehidupannya. Dan malam itu juga, aku tau bahwa dia bukanlah cowok pendiam, dia seperti cowok yang lain, yang selalu mementingkan pikirannya dibanding perasaan. Jika saja aku tau, akulah yang terlebih dahulu masuk.
Beberapa minggu setelah kejadian malam itu, aku berusaha membaca pikirannya, tetapi hasilnya nihil. Dia seperti yang dulu, rumit untuk dibaca. Namun, beda halnya dengan perempuan yang baru saja masuk dalam kehidupanmu. Dia lebih tau banyak hal dibanding aku yang telah mengenalnmu hampir setahun ini. Untuk kesekian kalianya aku menjadi orang asing lagi dan lagi.
Aku hanya ingin berkata bahwa sejauh apapun kita, seasing apapun kita, doaku tidak pernah hilang mengatas namakanmu. Namammu selalu abadi dalam bait-bait doa yang ku lafadzkan kepada-Nya. Untukmu kekasihku, sampai bertemu dipertemuan kita nanti, entah rasa itu masih ada atau tiada. Entah mimpi-mimpi yang telah kita buat bersama dapat tercapai atau hanya akan menjadi angan-angan saja. Seiring berjalannya waktu, aku selalu ingin menyapamu, tetapi aku ragu. Di sisi lain, aku juga merindukanmu.
Karena, saat ini aku merasa telah sampai pada titik jenuh dalam hidupku mungkin inilah yang disebut masa putus asa. Putus asa dengan segala sikapmu kepadaku, segala sikapmu yang selalu menyakitiku. Dan untuk yang kesekian kalinya lagi, lagi dan lagi aku memaafkanmu. Patokanku hanya satu, yaitu Allah, Sang Maha Pemaaf yang selalu membuka pintu tobat kepada hamba-Nya yang melakukan kesalahan/dosa.
Aku selalu meminta kepada sang pencipta, Sang Maha Pengasih yang mengasihi semua umat-Nya yang selalu berdoa kepada-Nya. Apapun yang terjadi, kelak itu adalah hal yang terbaik yang Dia lakukan untuk kita. Pasti, apa atau siapa pun yang pergi akan tergantikan dengan yang lebih baik lagi.
Sampai jumpa dipintu penantian, wahai kekasihku. Sampai bertemu kembali dan semoga, rasa itu tetap sama seperti dulu. Salam hangat dari seseorang yang sering kamu sakiti.
Oleh: Alvin Tari, Pencari Cinta Sehati.







