Cantik itu dambaan setiap perempuan. Menampilkan kecantikan yang dimilikinya seakan sudah menjadi fitrah atau pembawaan perempuan. Kata orang bahkan, “Akal perempuan iyu ada pada kecantikannya”. Yang lebih ekstrem lagi, ada yang mengatakan bahwa rasanya cukup jika dalam kehidupannya perempuan hanya dibekali dengan kecantikan tersebut. Sebab ada yang beranggapan bahwa cantik itu segalanya. Benarkah begitu?
Tidak bisa dinafikkan bahwa kecantikan perempuan memang menyenangkan untuk dilihat. Ini memang sesuatu yang sangat manusiawi. Persepsi tentang kecantikan tidak berubah dari waktu ke waktu. Banyak yang menilai cantik itu adalah orang yang memiliki tubuh tinggi, pitih, langsin, wajah proporsional, berhidung mancung, berambut lurus dan mengilat atau dalam bahasa singkatnya adalah good looking.
Pada Abad pertengahan di Eropa, cantik dinilai dari seberapa banyak seorang perempuan bisa memiliki dan melahirkan anak yang sehat. Sebuah define kecantikan berdasarkan tingkat fertilisasi dan kemampuan reproduksi perempuan. Sedang pada abad ke 15-17 cantik identic dengan perempuan yang memiliki perut, panggul, dan dada yang besar. Dunia selalu berubah seiring dengan derasnya penawaran alat dan bahan kecantiakan pada abad 21. Kali ini cantik dikenadalikan oleh produsen alat dan bahan kecantikan.
Untuk sebuah keinginan tampil cantik perempuan berjuang dengan pergi ke salon, ke butik untuk mencari pakaian, ke toko aksesoris untuk mencari perhiasan tubuh dan lain sebagainya. sebagian yang lain malah ada yang memermak penampilan dengan menyalahi aturan agama nan hanif, misalnya dengan membeli barang secara berlebihan hanya untuk memenuhi sifat rakus dan gensi. Sebagian lagi ada yang menjalani operasi plastik untuk mendapatkan tubuh yang proporsional. Na’udzubillah
Dalam perspektif feminisme, kecantikan adalah konstruksi sosial yang diciptakan oleh kuasa patriarki. Apa yang disebut cantik dipersepsikan melalui sudut pandang kaum Adam. Kini, dalam dunia kapitalis, citra cantik menjadi seperti permainan rumit yang melibatkan berbagai kepentingan, seperti industry kecantiakn, obat-obatan, kesehatan, hingga iklan. Dan perempuan adalah sasaran utama.
Lalu bagaimana Islam memandang kecantikan perempuan? Apakah kemudian tampil cantik itu dilarang oleh agama? Tentu saja tidak. Tidak jika itu berada dalam tataran ihsan (baik). Agama islam tidak melarang seorang perempuan tampil cantik, bahkan dianjurkan. Agama menuntut umatnya untuk selalu tampil cantik, menarik, elok dan berkharisma sebagai tanda kesyukurannya kepada Allah atas nikmat yang diberikan.
Islam memandang perempuan begitu mulia dan begitu tinggi dalam hal kualitas ruhiahnya. Integritas seorang perempuan menjadi harga yang harus dibayar mahal yang terwujud dalam kemurnian iman, kecerdasan logika, kelembutan rasa, serta keindahan akhlak dan parasnya. Kecantikan lahiriah hanyalah sesuatu yang fana, jika dibandingankan dengan kualitas iman dan takwa yang dimiliki seorang perempuan.
Tampil cantik adalah tanda bahwa Allah telah menyantuninya dengan baik. Karena itu, wujud syukur itu adalah menampilkan nikmat Allah yang ada pada dirinya. Allah dan Rasulullah SAW pun menyukai keindahan, maka tidak salah jika kita menampilkan keindahan atau kecantikan.
Oleh karena itu, agama menuntun bagaimana perempuan agar bisa tampil cantik. Ada kaidah yang semestinya diikuti. Sebab hidup di dunia memang harus ada atrunyya, supaya tidak bertabrakan antara kepentingan satu dengan kepentingan yang lainnya. Sehingga alam semesta dapat terjaga sesuai dengan fitrahnya.
Yang harus kita sadari bahwa kecantikan fisik lahir dari kalbu yang cantik dan akidah yang lurus. Hati amal ibadah, dan ahlak yang baik akan melahirkan kecantikan yang hakiki. Apalah gunannya kecantikan lahiriah, jika ia tidak didasari dengan kecantikan dari dalam (kecantikan ruhiyah). Misalnya, wajah cantik tetapi sulit tersenyum atau menganggap rendah orang lain. Perlu kita ingat bahwa kecantikan fisik itu hanya bersifat sementara.
Namun berbeda dengan kecantikan lahiriah yang akan abadi. Meski usia sudah renta dan kulit keriput. Aura kebaikan, kesalehan, ketawadhuan dan kezuhudan seolah memancar, menimbulkan kedamain dan kenyamana siapa saja yang ada di dekatnya serta menjadikan orang yang berada di dekatnya tidak bosan serta ingin terus bersamanya. Inilah beauty itu, yang tak ada duanya di dunia ini.
Sebagaimana sabda Rasulullah, “Janganlah kalian menikahi perempuan karena kecantikannya. Bisa jadi kecantikannya akan menjadikannya hina. Dan janganlah kalian menikahi mereka karena kekayannya. Bisa jadi kekayaan mereka akan menjadikan mereka berbuat sewenang-wenang. Tetapi nikahi mereka karena agama mereka. Sesungguhnya menikahi budak yang jelek lagi hitam yang taat beragama Islam adalah lebih baik.” (HR. Ibnu Majah dari Abdullah Ibn ‘Amr Ibn Al-Ash r.a)
Islam memandang perempuan begitu mulia dan begitu tinggi dalam hal kualitas ruhiahnya. Integritas seorang perempuan menjadi harga yang harus dibayar mahal yang terwujud dalam kemurnian iman, kecerdasan logika, kelembutan rasa, serta keindahan akhlak dan parasnya. Kecantikan lahiriah hanyalah sesuatu yang fana, jika dibandingankan dengan kualitas iman dan takwa seorang perempuan. Perbandingan ekstremnya, nilai seorang budak yang jelek tak terawat, tetapi beriman adalah lebih baik daripada perempuan yang cantik, kaya, keturunan ningrat, tetapi tidak beriman. Hanya iman dan takwa yang akan menjadikan perempuan terlihat cantik dari dalam yang mengimbas pada kecantikan lahiriahnya.







