Mustafa Kemal Ataturk seorang perwira militer dan negarwan Turki yang menjadi pemimpin revolusi negara kelahirannya. Sekaligus menjadi presiden pertama yang mendirikan Republik Turki. Lahir pada 19 Mei 1881 di Selanik Utsmaniyah, terlahir dari orang tua yang bekerja sebagai pegawai bea cukai dan seorang perwira militer yakni Ali Riza Efendi dan Ibunya Zubeyde Hanim. Nama Mustafa adalah nama pemberian dari Ayahnya. Semasa kecil, Ibunya ingin agar Mustafa bersekolah di sekolah agama sedangkan ayahnya mengarahkan untuk bersekolah di swasta. Mustafa mengikuti arahan ayahnya, karena enggan belajar agama.
Ketika Mustafa menginjak umur tujuh tahun, ayahnya meninggal dunia. Ibunya mengarahkan untuk berdagang, namun Mustafa memilih untuk masuk ke sekolah militer di Selanik dan Manastir. Keduanya adalah pusat nasionalisme Yunani yang anti Turki. Di umurnya yang ke-12, Mustafa mendapatkan nama tambahan yang diberikan oleh guru matematikanya yakni Kemal, sebagai pengakuan atas kecerdasan dan kedewasaanya. Mustafa lulus pada tahun 1905 yang kemudian di tempatkan di Damaskus untuk bergabung dengan kelompok kecil rahasia yang terdiri dari perwira-perwira yang mengingkan adanya reformasi.
Di tahun setelah kelulusannya dari sekolah militer, Mustafa banyak mengukir sejarah menjadi pemimpin di bidang militer. Banyak ikut terlibat dalam peperangan, perang Italo-Turki (1911-1912), perang Balkan (1912-1913), hingga Mustafa berperan besar dalam membantu menghentikan Inggris dan Perancis menguasai Istanbul pada tahun 1915. Di tengah perjalannya merintis karir militer, Mustafa memilih untuk mempertahankan wilayahnya yang saat itu diduduki oleh para sekutu. Kelompok revolusioner melakukan perlawanan dan menjadi perang kemerdekaan Turki. Mustafa mengupayakan agar Turki bisa segera mendapatkan kemerdekaanya. Tepat sebada silam, pada 29 Oktober 1923 Mustafa Kemal Ataturk terpilih menjadi Presiden Pertama Turki, yang mereformasi, memodernisasi, dan menyekularisasi Turki. Sebagai presiden, Mustafa Kemal memulai progam revolusioner di bidang sosial dan reformasi politik unruk memodernisasi Turki. Membahas ide-ide Mustafa Kemal terlebih dalam bidang politik adalah hal yang tak jarang dibahas oleh kebanyakan orang. Pemikiran Mustafa dalam bidang politik adalah mengubah bentuk Negara Turki dari bentuk Khalifah menjadi republik.
Mustafa beranggapan bahwa kedaulatan harus berada di tangan rakyat, bukan terletak pada di tangan Tuhan yang dipatuhi dan dijalankan pemimpin khalifah atau sultan. Hingga pada tahun 1920, ide gagasan Mustafa disetujui dan disepakati oleh Majelis Agung Nasinal dan satu tahun kemudian ide Mustafa diundangkan. Tak berhenti disitu saja, Mustafa juga mungusulkan agar dua fungsi yang dipegang Sultan Turki untuk dipisahkan, fungsi spiritual dengan fungsi temporal. Agar tidak ada dualisme kekuasaan eksekutif dalam kepemimpinan suatu negara. Seperti pada zaman Abbasyiah, khalifah memerintah di Bagdad sementara sultan memerintah di daerah. Sehingga Mustafa mengingkan agar kekuasaan temporal di hapuskan saja. Lebih jelasnya, Mustafa menghendaki agar khalifah hanya berkaitan dengan keagamaan dan tidak perlu mencampuri urusan-urusan ketatanegaraan.
Pembaharuan Mustafa dengan ide-ide yang belum ada sebelumnya, membuat banyak orang yang mayoritas beraga Islam menentang dan ingin tetap mempertahankan bentuk khalofah sebagai sistem pemerintahanya, sedangkan golongan nasionalis menghendaki Turki menjadi Negara Republik. Majelis Nasional Agung O (MNA) mengambil keputusan pada tahun 1923 bahwa Turki adalah negara republik dan Mustafa Kemal adalah pressiden terpilih pertama, sedangkan jabatan khalifah dipegang oleh Abd.Majid.
Gerakan lanjutan Mustafa adalah mengahapuskan khalifah, agar terhapuskan gambaran dualisme yang ada di Republik Turki. Pada tahun 1928, Mustafa memasukkan prinsip sekularisme dalam sekularisme dalam konstitusi bahwa negara tidak lagi berhubungan dengan agama dan barulah Turki resmi menjadi negara sekularisme.
Oleh: Annisa’ Salsabila Sanusi, Ketua Umum Kohati HMI Komisariat Syari’ah 2023-2024





