Monarki, adalah sistem pemerintahan yang dipimpin oleh seorang penguasa monarki atau yang biasa disebut dengan Raja. Sebagai sistem pemerintahan tertua di dunia, yang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, kemudian mengalami pembatasan oleh sistem pemerintahan parlementer dan konstitusional selama Renaisans dan era pencerahan. dengan lebih dari 900 tahta kerajaan di seluruh dunia, kemudian menurun menjadi 240 tahta pada abad ke 20, dan menurun lagi menjadi 40 tahta pada abad ke 20. Peristiwa ini kemungkinan telah menimbulkan pertanyaan di benak sebagian orang, mengapa tahta dalam sistem monarki makin lama malah semakin menurun jumlahnya, salah satu penyebabnya tidak lain karena sistem monarki dinilai sudah tidak relevan diterapkan di zaman modern seperti sekarang.
Berbicara soal kepemimpinan monarki mungkin mengingatkan kita dengan cerita-cerita sejarah kerajaan masa lalu seperti majapahit, sriwijaya, padjajaran, dan masih banyak lagi yang menganut sistem monarki dalam menjalani roda kepemimpinannya. Sehingga dengan demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa kekuasaan tunggal, penuh, masa kekuasaan berlaku sampai akhir hayat, yang menjadi pewaris hanya mereka yang berasal dari keluarga raja, serta keputusan mutlak ditentukan oleh raja atau ratu yang menjabat tanpa melibatkan anggota parlemen dan anggota legislatif lainnya merupakan karakteristik utama yang menjadi identitas sistem monarki.
Manusia sekarang tidak bisa mengelak dari tuntutan kemajuan dan pencerahan di era modern ini, yakni era menjamurnya orang-orang berpendidikan dan karya-karya teknologi canggih di hampir setiap sudut jagat. Melihat keadaan ini memangnya siapa orang berpendidikan yang rela hak berpendapatnya dibatasi oleh pemerintah yang menganut sistem monarki. Jika kita berfokus pada satu titik identitas utama sistem monarki yaitu keputusan mutlak berasal dari pihak kerajaan tanpa sedikitpun melibatkan anggota parlemen, maka sistem ini tidak mungkin eksis di zaman sekarang yang sudah banyak manusia yang cukup terdidik secara intelektual serta sudah memiliki kemampuan untuk mengkrtik keras keputusan elit negara yang menetapkan aturan sewenang-wenang padahal yang memutuskan adalah mereka yang terlibat menjadi anggota parlemen jika hal sepeti itu saja masih ramai terjadi maka apa kabar dengan keputusan yang mutlak ditentukan oleh raja yang tidak ada hubungan darah sedikitpun dengan rakyat, tidak seperti anggota parlemen sekarang yang sebelum terpilih mereka adalah bagian dari rakyat.
Jadi sampai di sini bisa disimpulkan bahwa sistem Monarki kemungkinan akan sulit eksis di tengah era modern sekarang, bagaimana pun juga sistem Monarki memang pernah turut mewarnai cerita sejarah masa lalu, masa yang kala itu orang-orang yang berpendidikan tidak sebanyak jaman sekarang. Ditambah lagi dengan banyaknya organisasi – organisasi eksternal kampus yang salah satu tujuannya adalah melatih kepemimpinan para anggota – anggotanya membuat sistem monarki semakin sulit untuk diterima kembali keberadaannya di tengah – tengah kehidupan dunia.
Namun kenyataan ini tidak mutak menyimpulkan bahwa orang utama yang terlibat dalam kepemimpinan monarki adalah orang jahat yang tidak mungkin menjamin kesejahteraan rakyatnya, tidak demikian. Sebenarnya apapun sistem pemerintahannya selama pemimpinnya memiliki ambisi yang kuat untuk menjalankan tugas sebagaimana mestinya bukan suatu masalah sekalipun yang berlaku saat itu adalah kepemimpinan monarki. Sebab tidak asing juga kita dapati dalam cerita peristiwa masa lalu tentang kejayaan rakyat yang hidup di zaman dan di bawah kepemimpinan dinasti umayyah maupun abbasiyah.
Meski dinilai tidak relevan untuk diterapkan sekarang, namun bisa kita lihat sendiri bagaimana kehidupan masyarakat brunei dan malaysia yang bisa dikatakan lebih sejahtera jika dibandingkan dengan masyarakat indonesia. Padahal dalam sistem kepemimpinan, kedua negara ini masih kokoh menerapkan sistem monarki berbeda dengan Indonesia yang menerapkan demokrasi dalam sistem kepemimpinannya.
Kesejahteraan masyarakat dalam suatu negara dipengaruhi oleh sejauh mana peran pemerintah dalam mengurus rakyatnya. Sampai di sini bisa kita pahami bahwa sistem pemerintahan tidak perlu dipermasalahkan, akan tetapi yang harus menjadi fokus utama kita adalah bagaimana caranya agar negeri ini dipimpin oleh pemimpin yang tepat. Berbagai cara dan usaha dapat ditempuh mulai dari mengikuti organisai – organisasi baik eksternal maupun ekstra kampus serta tidak lupa juga untuk mengidupkan forum – forum diskusi tentang politik karena tentu menjadi hal yang aneh jika sampai saat ini masih ada mahasiswa yang buta politik, padahal kelak suatu saat mahasiswa lah yang akan menjadi penerus para pemimpin yang tengah menjabat hari ini. Semoga apa yang menjadi usaha untuk mencetak pemimpin yang tepat bagi negeri ini sesegera mungkin dapat terealisasikan tidak lain demi kebahagiaan dan kesejahteraan rakyat juga.
Wallaahu A’lam Bisshowab.






