Sebagian orang menjalani hidupnya seperti ketika mereka bermain game, begitu satu level terselesaikan, langsung masuk ke level selanjutnya. Atau seperti proses menginstall aplikasi, langsung klik next next next..
Padahal setiap level/fase kehidupan itu sangat berbeda aturan mainnya, berbeda pula kualifikasi yg dibutuhkan. Syarat untuk bisa masuk sekolah/kuliah tentu sangat berbeda dg menikah, apalagi punya anak. Dan setiap orang pasti memiliki kondisi yg berbeda2.
Dari lahir menuju masuk sekolah mungkin semua orang kurang lebih sama karena standar yg dipakai hanya usia. Dari sekolah ke bekerja juga hampir sama karena tentunya lebih cepat lebih baik. Tapi dari bekerja menuju menikah hingga punya anak, saya rasa kita semua tahu, sangat berbeda satu orang dg lainnya. Namun sebagian orang akan langsung saja ‘klik next next next’ tanpa melakukan uji prakualifikasi pada dirinya sendiri.
Orang tua miskin biasanya juga ikut andil dalam mempercepat anaknya memasuki level menikah. Mereka pikir dg anaknya menikah maka beban finansial mereka akan berkurang atau “lepas tanggungan” dan mungkin berharap kondisi akan berbalik menjadi anak menanggung orang tua. Padahal si anak justru seharusnya fokus menanggung beban finansial keluarga barunya.






