Cinta, Kau Munafik

Hanya sekuntum kau di sana

Batinku kau pembeda

Siapa kan menyangka

Butiran susu kau di kolam tuba

 

Cinta, kau indah

Pantas bumi-langit akui nuansamu

Lantas engkau tetap merendah

Jujur, itu tak kau perlu

 

Tuhan memang bersenandung

Lalu kau pakai bak mahkota

Janji-Nya memang mendukung

Melanglang buana kau dijaga

 

Mekar dalam indah

Bak harapan penghuni

Pohon harap nan nyaris tumbang

Naungmu terang-benderang

 

Ku rasa, mulai kau gelisah

Ku perhatikanmu pasrah

Diambang layu kau bilang

Keruh tuba itu buat kau gamang

 

Mejuntai kau berkisah pelik

Terjang, semua kan membaik

Setitik itu ku balas baik

Sial, tiada timbal balik

 

Cukup kau senyum dan angguk

Lihai jemarimu bergelagat mesra

Biarkan ku malu-malu dan meringkuk

Dari antah berantah, setidaknya terasa

 

Nahas, kau tak sengaja

Percikkan setetes tuba

Kepadaku

Lantak, jiwaku ambigu

 

Seringaiku mulai tak utuh

Tersirat gundahku penuh

Emosi berundak ke hati

Mengapa kau merendah diri?

 

Cinta, kau munafik

Setidaknya

Cinta, jangan munafik

Pungkasku tersenyum ramah dan tawa

 

Oleh : Aletheia Raushan Fikra Ukma, Wakil Ketua OSIS Terpilih SMAN 1 Sulang, Ketua Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) Ranting IPM Planet Nufo, Penulis 2 Buku : Mengkaji Hari, Arsip Insomnia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *