Sesungguhnya masyarakat Pra-Islam telah mengenal Tuhan yang mereka sebut Allah. Mereka, orang-orang kafir zaman jahiliyah, telah mengenal Allah dan mengakui-Nya sebagai Tuhan diantara tuhan-tuhan lain yang mereka percayai. Meskipun mereka menempatkan Allah dengan posisi tertinggi ‘diantara lainnya’, namun tetap saja itu merupakan sebuah keyakinan yang salah. Hal ini banyak diterangkan dalam Al-Qur’an. Salah satunya surah Al-Ahqaf:28.
فَلَوْلَا نَصَرَهُمُ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِ ٱللَّهِ قُرْبَانًا ءَالِهَةًۢ ۖ بَلْ ضَلُّوا۟ عَنْهُمْ ۚ وَذَٰلِكَ إِفْكُهُمْ وَمَا كَانُوا۟ يَفْتَرُونَ
“Maka mengapa yang mereka sembah selain Allah sebagai Tuhan untuk mendekatkan diri (kepada Allah) tidak dapat menolong mereka. Bahkan tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka? Itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-adakan.”
Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang-orang kafir pada zaman jahiliyah telah mengambil tuhan-tuhan yang mereka namai sendiri sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yang mempunyai posisi tertinggi, Allah.
Konsep ini juga dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Az-Zukhruf ayat 3 yang berbunyi
وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلْفَىٰٓ
“…Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya…”
Sebab Perlawanan Kepada Nabi
Munculnya ajaran-ajaran Islam yang dibawa oleh seorang yang terlahir yatim piatu, besar menjadi seorang saudagar, dan menikah dengan janda yang kekayaannya mencapai sepertiga kekayaan Mekah saat itu, tentu mendapatkan perlawanan. Bahkan perlawanan ini juga dilakukan oleh pamannya sendiri yaitu Abu Jahal. Sistem yang sudah mapan kala itu tentu menjadi “terganggu” dengan kehadiran ajaran yang dibawa oleh Muhammad.
Kata-kata yang menjadi fokus pada Al-Qur’an sebagaimana yang disampaikan oleh Tosihiko Izutsu merubah tidak hanya dari segi makna, namun juga konsep dan sistem yang mapan pada saat itu di samping merubah struktur ketuhanan yang mereka percayai -menempatkan Allah sebagai Tuhan tertinggi diantara tuhan-tuhan lainnya. Perubahan konsep-konsep, pemindahan, dan penyusunan kembali secara mendasar pada nilai-nilai moral dan religius terjadi begitu luar biasa mengubah konsep pandangan orang Arab mengenai eksistensi dunia dan manusia. Misalnya pada kata Allah sebagaiman dijelaskan diatas.
Disamping perubahan-perubahan yang radikal, perlu dicermati bahwa makna dasar suatu kata tersebut tidak turut berubah. Yang berubah hanyalah konsep dan tata sistem yang baru. Tosihiko Izutsu dalam bukunya yang berjudul Relasi Tuhan dan Manusia memberikan contoh tentang kata mal’ak. Kata ini telah dikenal sebelum Islam datang sebagaimana kata Allah. Orang-orang zaman pra-Islam mengenal malaikat sebagai wujud gaib terkadang mereka sembah. Meskipun malaikat disembah, namun kata ini tidak memiliki kedudukan yang pasti dalam hierarki supranatural sebagaimana kata Allah. Islam kemudian mengubah konsepsi kata malaikat meskipun tidak terlalu terlihat perubahannya. Perubahan ini terletak pada semantik batin sebagai akibat penempatannya yang baru dalam sistem yang juga baru, namun makna dasarnya tetap sama.
Utia Lil Afidah, Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Walisongo




