Mengintegrasikan Ilmu Dalam Diri Masing-masing Individu

Konsep integrasi muncul sebagai usaha atau ihktiar para ilmuan muslim dalam menghadapi dikotomi ilmu yang membuat peradaban Islam menjadi jauh tertinggal. Islam pernah jaya pada masanya bahkan menguasai dunia dalam perkembangan ilmu. Islam yang membangun awal peradabannya di Timur Tengah juga pernah menjadi titik pusat berbagai dunia dalam pengembangan riset dan teknologi.

Kita mengenal Harun Ar-rasyid dengan pencapaian prestasi kepemimpinannya yang dikenal sebagai The Golden Age of Islam, masa keemasan Islam. Harun Ar-rasyid sebagai khalifah kelima Dinasti Abbasiyah menaruh perhatian yang cukup besar dalam dunia ilmu dan pengetahuan. Beliau menjadikan Baghdad sebagai pusat studi. Hal ini dibuktikan dengan didirikannya Baitul Hikmah dan Majelis Muzarakah untuk memfasilitasi para ilmuan.

Seiring berjalannya waktu, banyak masalah bermunculan yang menyebabkan kemunduran umat Islam baik dari segi internal maupun eksternal. Awal mula kemunduran itu ditandai dengan penyerbuan Bangsa Mongol atas wilayah kekuasaan Islam. Selain itu, kecakapan dan kualitas kepemimpinan Islam turut menjadi faktor kemunduran umat Islam. Banyak pemimpin saat itu yang hidup dengan kemewahan dan gelimang harta sedangkan rakyatnya semakin lama semakin tidak berdaya. Padahal Nabi Muhammad menghabiskan seluruh hartanya demi kepentingan umat Islam.

Permasalahan utama yang dihadapi umat Isslam sejak mengalami kemunduran hingga sekarang adalah masih adanya taklid buta dan fanatisme terhadap suatu aliran atu golongan. Padahal islam itu satu dan tidak memecah belah. Akibad taklid dan fanatisme ini berimbas pada perkembangan ilmu. Kita sudah tau jawabannya bahwa taklid dan fanatisme yang membuat umat islam mundur bahkan terpecah belah dan berimbas pada dunia pendidikan. Tapi mengapa dikotomi ilmu di dunia islam masih ada sampai sekarang?

Di zaman yang semakin maju teknologi, banyak instansi yang menerapkan konsep integrasi ilmu terutama instansi berbasis agama. Integrasi yang dimaksudkan adalah agama dengan sains. Tentu saja hal ini bertujuan untuk mencapai kemajuan umat. Konsep integrasi ini sudah berjalan lama dan terus dikembangkan hingga saat ini.

Para profesor dan ilmuan terus mencoba untuk mencapai keberhasilan mengintegrasikan ilmu dengan mengadakan berbagai macam seminar dan diskusi untuk mempertemukan kedua ilmu ini. Pasalnya kedua ilmu ini sebenarnya bejalan beriringan. Sehingga tidak serta merta dapat disatukan dalam forum diskusi karena kecenderungan orang mempertahankan pendapat masing-masing. Fakor inilah yang menyebabkan sulitnya mengintegrasikan ilmu.

Pokok utama integrasi atau terkadang biasa disebut islamisasi adalah sebuah proses. Sebuah ilmu tidak bisa tersalurkan jika tidak ada subjeknya. Subjek itu adalah para pencari ilmu. Pada diri masing-masing pelajar itulah ilmu dapat bersatu, berintegrasi. Kita mengenal Ibnu Sina atau Avicenna sebagai peletak dasar ilmu kedokteran yang tidak hanya menguasai bidang ksehatan namun dari segi agamapun beliau termasuk orang yang mumpuni. Ilmu agama dan ilmu sains dalam diri Ibnu Sina menyatu, membawa Ibnu Sina sebagai Ilmuan muslim yang dihormati di dunia barat. Dengan prestasinya, beliau turut berkontribusi dalam majunya peradaban Islam kala itu.

Melihat kenyataan sekarang yaitu Islam tertinggal jauh dalam segi teknologi dan sains, umat islam harus segera bangkit terutama kaum muda muslim. Namun untuk mewujudkan hal itu peran orang tua dan guru sangat berpengaruh. Para orang tua dan guru harus dapat menerapkan konsep-konsep keislaman sejak dini pada anak sehingga ketika mereka dewasa nanti, mereka dapat belajar hal lain seperti teknologi dan sains, tidak melulu hanya belajar agama hingga dewasa tanpa memerdulikan bahwa dunia semakin berkompetitif.

Utia Lil Afidah (Mahasiswi Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas Negeri Islam Semarang)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *