Meneguhkan Etika dalam Eksistensi Perempuan

Perempuan dan globalisasi

Membahas tentang perempuan tak lepas dari sosok seorang RA Kartini. Sejak Kartini memperjuangkan kedudukan laki-laki dengan perempuan terutama dalam hal memperoleh pendidikan, sejak saat itu munculah yang dinamakan emansipasi wanita. Hingga saat ini buah dari perjuangan RA. Kartini bisa dirasakan bukan hanya dalam hal pendidikan saja, keaktifan perempuan baik di dunia bisnis, politik, hukum, maupun ekonomi. Di era global yang sering disebut sebagai zaman modern atau zaman kemajuan semakin mempermudah gerak perempuan untuk ikut andil dalam kegiatan bermasyarakat. Era global tidak ada larangan baik perempuan maupun laki-laki untuk bereksistensi sesuai dengan bidangnya.

Tantangan perempuan di Era Globalisasi

Segala sesuatu memiliki dua sisi, baik positif maupun negatif. Begitu pula globalisasi, mempunyai mempunyai sisi positif dan negatif. Adanya globalisasi membuat yang jauh terasa lebih dekat dengan segala informasi yang dapat diakses dengan mudah hanya dalam hitungan menit. Gaya hidup manusia diera global mengalami banyak perubahan, semakin banyak kaum perempuan yang selain tugasnya menjadi ibu rumah tangga sekaligus menjadi wanita karir. Hal tersebut membuat tantangan tersendiri untuk kaum perempuan yang hidup diera modernisasi. Islam dan kesempurnaan syariatnya telah memuliakan perempuan dengan memberikan aturan-aturan demi kemuliaan perempuan itu sendiri dan mendudukkan perempuan dengan kedudukan yang terhormat. Akan tetapi ada sebuah fenomena yang memilukan dan meresahkan, dengan berdalih modernisasi dan kebebasan banyak bagi perempuan yang mulai meninggalkan rasa malunya. Sekarang, nyaris dimana-mana banyak kita jumpai perempuan-perempuan bagi kalangan kaum muslimin yang menggampangkan dalam masalah menutup aurat, bertabarruj atau berhias untuk dipamerkan dihadapan laki-laki yang nggak muhrimnya, memakai pakaian yang memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh yang menampakkan area-area terlarang. Sebagai seorang muslimah kita harus bisa membentengi diri dari pengaruh buruk globalisasi. Bagaimana menjadi seorang muslimah yang tetap eksis diera global tanpa meninggalkan aturan-aturan dalam islam.

Bereksistensi tanpa Meninggalkan Etika

Perempuan merupakan pembahasan yang sangat penting terutama terkait eksistensi perempuan dalam membangun bangsa ini. Seperti yang kita ketahui selama ini perempuan adalah setengah dari bangsa, karena memiliki pengaruh yang sangat dominan. bagi keberlangsungan sebuah bangsa, terlebih perempuanlah yanh akan melahirkan dan mendidik para generasi yang akan datang sekaligus pemberi pengaruh pertama kali bagi kehidupan generasi dan pemimpin bangsa.

Islam tidak melarang sama sekali, jika perempuan banyak andil dikalangan masyarakat. Akan tetapi sebagai seorang muslimah harus mempunyai  skala prioritas dalam dirinya. Perempuan, dimasa ia masih menjadi seorang gadis bebas menentukan segala kemauannya untuk menanggapi segala harapan dan cita-citanya. Berbeda dengan perempuan yang sudah bersuami haruslah lebih mengutamakan izin ridho dari sang suami. Begitulah tuntutan dari ajaran islam. Kemudian harus bisa membentengi diri dengan nilai yang mulia, menjalani kehidupan sebagai perempuan diera globalisasi. Nilai mulia itu terdapat dalam nuansa religi, dan tradisi hidup masyarakat Indonesia. Kita seharusnya bersyukurnya dibesarkan disatu negara dan bangsa yang mengagungkan nilai kesopanan, kejujuran, kebersamaan dalam agamadan tradisi yang kita anut. Nilai ini tidak boleh hilang, harus tetap dijaga dan dikembangkan agar dapat menjadi benteng ditengah lunturnya nilai di Era Globalisasi.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *