Pernah gak sih kalian denger tentang monster kraken? Atau monster yang hidup di laut dengan sejumlah lengan tentakel lebih dari satu yang menjadi momok bagi berbagai pelaut terutama para penjajah atau pun penjarah lautan (bajak laut). Monster kraken mungkin bisa lebih dikenali sebagai gurita raksasa dalam film Pirates of The Caribbean yang memiliki tentakel raksasa yang mampu menghancurkan kapal-kapal para perompak.
Disamping kebengisan dan kengerian monster kraken ada hal yang bisa dipelajari darinya, yaitu kemampuan untuk melakukan beberapa hal dalam waktu yang bersamaan. Mungkin akan banyak alasan yang menentang hal tersebut. Berbagai apologi juga bisa dijadikan sebagai landasan seperti, kita kan hanya punya dua tangan jadi lakukan saja sesuai kemampuan kita. Ada lagi yang beranggapan bahwa lebih baik mengerjakan satu dua hal saja tetapi menghasilkan, daripada mengerjakan banyak hal tapi tidak ada yang maksimal.
Semua statement tersebut tidak ada salahnya, namun apabila kita sebagai manusia yang merdeka tentu akan haus akan setiap peran yang mampu menjadi penopang kondisi kita menjadi lebih baik. Singkatnya, kita harus mengambil setiap peran dari keadaan yang bisa kita lakukan. Lalu, dari mana memulai bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu? Mulailah dari menata mindset atau pola pikir yang futuristik dan terintegrasi.
Manusia merupakan makhluk yang istimewa dengan makhluk bernyawa lain di dunia karena memiliki keunggulan akal untuk berpikir. Anugerah terindah berupa akal harus diimbangi dengan budi yang baik sehingga mampu menjadi sarana untuk membedakan sesuatu hal tersebut baik atau buruk. Namun demikian, akal yang ada pada manusia tidak bisa menjadi acuan atau sumber dalam menjakani hidup. Karena dibutuhkan sumber pengetahuan yang bisa mencakup semua tidak hanya di dunia namun juga di akhirat. Sumber pengetahuan tersebut bisa disebut sebagai firman dari Tuhan Yang Maha Esa berupa Al-Quran.
Allah telah menciptakan manusia dengan akal budi yang dengannya diharapkan mampu mengolah, merenungi, setiap isi yang ada pada Al-Quran lalu mengintegrasikan eksistensi dan substansinya ke dalam kehidupan yang nyata. Apabila hal tersebut bisa dilaksanakan, maka bukan tidak mungkin seorang mukmin tidak mampu mengerjakan beberapa hal dalam satu waktu.
Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasalam merupakan contoh paling ideal bagi seorang mukmin. Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasalam merupakan seorang suami yang merangkap sebagai kepala negara, kepala pemerintahan dan juga pedagang. Maka, sebagai seorang hambanya sudah sepatutnya kita meneladani kegigihan beliau dalam mencapai ridho Allah dengan bersungguh-sungguh mendapatkan akhirat dengan jalan berbuat atau mengambil peran sebanyak-banyaknya di dunia.
Mengerjakan dua hal secara bersamaan biasa disebut sebagai multitasking. Multitasking menurut kamus daring bahasa Inggris Merriam-Webster (2019) merujuk pada dua pengertian, yaitu penggunaan kinerja operasi komputer secara bersamaan. Pengertian kedua merujuk pada pekerjaan yang dilakukan lebih dari satu dalam kurun waktu yang sama.
Salvucci dan Taatgen (2011) membedakan ada dua jenis multitasking yaitu concurrent multitasking dan sequential multitasking. Concurrent multitasking adalah mengerjakan tugas bersamaan dengan intrupsi singkat tanpa menghambat proses kerja utama. Hal tersebut dapat dilihat atau dilaksanakan ketika seseorang mampu menyetir dan mengaji secara bersamaan tanpa ada yang salah. Sedangkan, sequential multitasking adalah merupakan aktivitas multitasking yang membuat individu beralih tugas setelah mengerjakan satu tugas utama. Sebagian orang mengerjakan tugas sembari melaksanakan tugas lain dengan cara bergantian. Hal tersebut dapat kita lihat ketika seseorang sedang mengetik dan mengerjakan tugas lalu beralih untuk mengoreksi pekerjaan lain.
Kemampuan multitasking harus ada dalam diri kita agar kita terbiasa mengerjakan hal-hal yang dianggap berat oleh sebagian orang. Sehingga kita bisa mengambil peran lebih banyak dan dipercaya oleh masyarakat lebih luas lagi. Tidak ada alasan untuk tidak melakukan kemampuan multitasking, hanya perlu menata pikiran (mindset) dan melakukan langkah awal. Tidak perlu takut akan kegagalan karena semua hal yang indah juga butuh proses untuk uji mendapatkannya.
Oleh: Muhammad Wildanul Atqiya (Mahasiswa Agribisnis Universitas Diponegoro Semarang)





