Hafal al-Qur’an adalah sebuah tahapan sangat penting bagi siapa pun yang ingin memahami secara utuh ajaran Islam. Tentu saja, harus ditambah dengan hadits-hadits Nabi Muhammad sebagai sumber kedua. Menghafalkan keduanya, berarti ajaran Islam telah terkompilasi di dalam pikiran, sehingga sewaktu-waktu muncul persoalan bisa digunakan untuk menawarkan solusi yang tepat. Namun, menghafalkan al-Qur’an bukan sesuatu yang mudah. Terbukti tidak semua orang yang memiliki kecerdasan akademik yang baik mampu melakukannya.
Apa sesungguhnya hafal al-Qur’an dan bagaimana caranya agar usaha menghafalkan al-Qur’an berhasil dengan lebih baik? Berikut wawancara Baladena.id dengan Pengasuh Rumah Perkaderan Monasmuda Institute Semarang dan juga Pesantren-Sekolah Alam Nurul Furqon yang lebih dikenal dengan Planet NUFO Mlagen, Pamotan, Rembang, Dr. Mohammad Nasih, atau yang oleh para santrinya akrab disapa Abah Nasih atau Abana:
Baladena: “Abah Nasih, apa sesungguhnya hafal al-Qur’an itu?”
Abana: “Sesuai dengan makna literalnya, hafal itu berasal dari kata ha-fi-dha, artinya menjaga. Mungkin ada yang membacanya ha-fa-dha juga, sehingga diserap dalam bahasa Indonesia menjadi hafal. Huruf dlat atau dha’ dalam bahasa Indonesia sering berubah menjadi L. Misalnya sahalat dhuhur menjadi luhur, lafdhun menjadi lafal, dll.. Kenapa disebut menjaga? Menghafalkannya, berarti menjaga al-Qur’an dari kepunahan. Sebab, firman Allah ini tersimpan dalam memori banyak orang. Nah, perdefinisi adalah kemampuan seseorang melafalkan al-Qur’an tanpa melihat dengan tingkat kesalahan yang minimalis. Sejak tahun 2016, saya membuat “aturan” yang lebih rigid. Saat ini al-Qur’an kan sudah ditulis dalam berbagai macam mushhaf. Dan yang biasanya digunakan untuk menghafalkan oleh para santri adalah “mushhaf al-Qur’an sudut”. Disebut demikian karena tidak ada potongan ayat bagian awal yang terdapat di halaman sebelumnya berakhir di halaman berikutnya. Di setiap sudut halamannya selalu ada akhir ayat. Keseluruhan al-Qur’an ditulis dalam 604 halaman. Selain juz 1 dan 30, panjangnya 20 halaman. Karena itu, saya membuat standar baku, bahwa bisa disebut hafal al-Qur’an dengan baik apabila jumlah kesalahan dalam setoran minimal 1 juz sekali duduk tidak melebihi jumlah halaman yang telah dibaca. Kemudian, setelah semua berhasil dihafal, mampu diuji dengan membaca total al-Qur’an 30 juz itu tanpa melihat dengan jumlah kesalahan juga tidak melebihi jumlah halamannya. Dengan kata lain, kesalahan maksimal yang bisa ditoleransi adalah maksimal 20 kali dalam setiap juz. Kita abaikan dulu ya, masalah pembagian al-Qur’an dalam juz-juz ini, yang sebenarnya saya juga tidak setuju. Jadi, siapa saja yang punya anak sedang menghafalkan al-Qur’an, cek saja hafalannya dengan mengajaknya simaan. Hitung kesalahannya. Kalau ortu tidak hafal al-Qur’an, simak dalam jarak paling dekat 2 meter, agar anak tidak bisa nyontek mushhaf yang dibuka. Sebab, banyak ortu yang asal percaya saja anaknya hafal al-Qur’an, apalagi katanya sudah diwisuda. Padahal hafalannya sudah hilang. Ini fenomena umum. Jadi para ortu memang harus peduli. Jangan asal percaya saja.
Baladena: “Lalu bagaimana cara menghafal agar hafalan berkualitas bagus, sesuai dengan standar minimal itu, Bah?”
Abana: “Cara paling dasar dalam menghafal adalah mengulang-ulang, dan kalau sudah hafal tetap mengulangnya secara berkala (murâja’ah). Makin sering mengulang makin baik. Namun, berdasarkan pengalaman, itu saja tidak cukup. Memang ada orang yang memiliki kekuatan memori luar biasa, sehingga ketika mendengar atau membaca sekali dua kali saja, sudah langsung hafal. Namun, jumlah itu bisa saya katakana sejuta satu, bukan seribu satu. Maksudnya dari sejuta orang, mungkin hanya ada satu orang saja yang memiliki kemampuan begitu. Buktinya apa? Kalau ada anak yang memiliki kemampuan hafalan kuat, langsung viral. Sesuatu yang viral itu kan berarti tidak umum. Yang umum adalah harus ada usaha khusus, dengan metode yang terukur dan rasional untuk bisa menghafalkan al-Qur’an, bukan sekedar cara yang diklaim bisa membuat orang cepat hafal, tetapi tidak berbasis kepada riset. Misalnya, mendengarkan melalui tape atau alat rekaman, lalu langsung hafal. Atau hanya mengulang-ulang, lalu langsung hafal. Kalau cara itu memang cara yang efektif, mestinya banyak yang sukses karenanya. Faktnya tidak kan? Ada yang bilang pakai recorder, perdengarkan terus kepada anak, nanti akan hafal sendiri. Itu riset dari mana? Ada yang klaim metode pakai dua tangan. Ini lebih tidak masuk akal. Itu namanya menyuruh orang normal yang memiliki indera yang lengkap untuk menggunakan cara yang digunakan oleh orang yang kurang lengkap inderanya. Kita mesti kritis dalam konteks ini. Sekali lagi dengan menggunakan metode yang rasional dan faktual, bukan sekedar asumsi saja.
Baladena: “Lalu apakah metode yang paling efektif dan efisien untuk menghafalkan al-Qur’an? Saya bertanya yang efisien juga, karena kalau kelamaan kan bisa menyita waktu untuk yang lain? Al-Qur’an kan bukan hanya untuk dihafalkan, tetapi harus diimplementasikan petunjuk-petunjuknya dalam kehidupan.
Abana: “Anda benar. Harus digunakan metode yang efektif dan efisien. Agar penghafal juga tidak stress dan putus asa karena terlalu lama menjalani proses untuk bisa hafal secara keseluruhan. Saya sering mengatakan, menghafalkan al-Qur’an harus dilakukan secara cepat. Ibarat lari, harus sprint. Jangan marathon. Kalau marathon, bisa kehabisan nafas karena terlalu lama tak kunjung melihat garis finish. Dan juga harus total. Saya mengibaratkannya dengan panjat pinang. Kalau tidak sampai atas, berapa pun ketinggian yang dicapai, akan melorot kembali. Yang pernah dihafal, lambat laun akan luntur, dan banyak sekali yang hilang. Agar bisa total dan cepat, khususnya bagi orang non-Arab, mesti bisa bahasa Arab dulu. Lagian tujuan menghafalkan al-Qur’an kan untuk bisa memahaminya kan? Kalau hafal hanya sekedar hafal, kasarnya itu kan seperti burung beo saja. Hafalan itu tidak fungsional untuk menghadirkan petunjuk Allah Swt. dalam kehidupan keseharian. Saya memiliki temuan yang sekarang saya terapkan dalam praktek menghafal di Monasmuda Institute Semarang maupun di Planet NUFO Rembang. Menghafal kalimat yang tidak diketahui artinya itu lebih sulit, bahkan bisa sampai tujuh kali lipat, dibandingkan menghafal kalimat yang diketahui artinya. Coba saja kalimat ini: “Kamu akan pergi, kamu tidak akan kembali, karena kamu akan mati di medan perang”. Sekali saja pasti langsung hafal. Coba sekarang yang ini. Siap ya: “Ibis redibis numquam, peribis in armis”. Berdasarkan uji coba saya, untuk menghafalkan dalam bahasa Yunani ini, paling cepat perlu pengulangan tujuh kali. Dan sejam kemudian, kalau disuruh mengulang lagi, sudah tidak bisa, alias lupa. Jadi, simpulannya adalah menghafal tanpa mengerti artinya jauh lebih sulit. Dan lebih dari itu, ia cepat hilang dari ingatan. Penyebabnya sederhana, karena tidak ada cantolannya dalam pikiran.
Baladena: “Wah, jadi harus belahar bahasa Arab dulu ya? Tapi ini kan perlu proses dan perlu waktu.”
Abana: “Ya tentu saja. Ini ibarat mundur satu langsung untuk mempersiapkan lari yang cepat. Peribahasa mundur satu langkah ini kan sudah akrab di telinga kita dan kita sering lakukan untuk melakukan yang lain. Apalagi tadi telah saya sebutkan, untuk apa hafal al-Qur’an jika tidak mengerti artinya, alias tidak memahami petunjuk yang ditawarkan oleh al-Qur’an sendiri. Itu kan seperti kritik al-Qur’an sendiri yang mengibaratkan keledai membawa buku-buku. Buku-buku diangkut di atas punggungnya, tetapi tidak memberikan manfaat sedikit pun untuknya. Bahkan yang ada adalah beban yang memberatkan. Sebaliknya, jika dipahami artinya, al-Qur’an bisa memberikan motivasi dan inspirasi untuk menjalani kehidupan. Hidup kita akan disinari oleh cahaya petunjuk dari Allah Swt. Nah, jangan khawatir belajar bahasa Arab akan menyita waktu kita terlalu lama. Saya tegaskan tidak. Sebab, kita sesungguhnya telah akrab dengan bahasa Arab. Ada sangat banyak kata dalam bahasa Arab yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Termasuk kata yang digunakan dalam al-Qur’an. Kata-kata dalam al-Qur’an ada 77.349 kata dan terdiri atas kira-kira 2728 kata dasar. Tentang jumlah kata dasar ini saya mungkin belum tepat, karena baru sekali saya hitung. Tapi jika salah pun selisihnya tidak banyak. Anggap saja segitu. Nah, kira-kira ada 1000 kata di antaranya yang sesungguhnya diserap dalam bahasa Indonesia, tetapi seringkali kita tidak sadar. Kita lihat saja awal surat al-Baqarah. Ada kitab, hidayah, takwa, iman, ghaib, iqamat/qamat, salat, rizki, infak, dan seterusnya. Bahkan iklan itu bahasa Arab, i’lân, artinya pengumuman. Kuncinya adalah mengetahui tashrif dulu. Dan ini kalau serius, sepekan saja selesai. Lalu tinggal latihan mempraktikkannya dalam kalimat dengan menggunakan kalimat-kalimat sederhana dalam al-Qur’an, makan akan beres. Kalau setiap hari menghafal 10 kata saja, maka sebulan bisa menghafal 300 kata, dan 10 bulan sudah bisa menghafal 3000 kata. Lewat sudah seluruh kata dalam al-Qur’an yang hanya 2728 kata dasar itu. Jadi, kalau mau serius, dengan kekuatan memori yang normal, kesehatan yang prima, dan ini yang terpenting: semangat yang membara, maka al-Qur’an bisa dihafalkan dengan baik. Ambisi harus ada. Dan itu bisa dihidupkan dengan menyadari tantangan kehidupan masa depan yang bisa dihadapi dengan menggunakan semangat moral al-Qur’an sebagai solusinya. Sebab, ia adalah kebenaran dan kebaikan dari Allah.
Baladena: “Pengalaman Abah Nasih sendiri bagaimana ketika menghafalkan al-Qur’an”
Abana: “Sebenarnya sudah saya sampaikan di atas. Tapi mungkin ini akan lebih memperjelas. Karena bapak dan ibu saya hafal al-Qur’an, saya sudah akrab dengan bacaan al-Qur’an. Ditambah lagi rumah saya kan ramai dengan santri-santri membaca al-Qur’an. Waktu kecil, ketika saya duduk di jok motor di depan bapak saya, saya sering mendengar suara alunan bacaan al-Qur’an dari atas kepala saya. Di sepanjang perjalanan, seringkali bapak juga membaca al-Qur’an. Namun, itu tidak kemudian membuat saya jadi hafal. Kan tidak paham. Ketika kelas V dan VI sekolah dasar, juga SMP, saya sudah sering mencoba. Tapi hasilnya seperti Sisipus dalam legenda Yunani Kuno. Mendorong batu ke atas gunung, lalu menggelinding lagi ke bawah. Baru setelah saya menguasai bahasa Arab dan mendapatkan momentum yang tepat, saat saya kelas I SMU, saya menghafalkannya dengan cepat. Satu setengah tahun selesai 30 juz. Alhamdulillah. Jadi, yang mau mulai menghafal, ayo segerakan. Mau lebih konkret, datang saja langsung ke Monasmuda Institute Semarang atau Pesantren Planet NUFO Rembang. Untuk menghafalkan al-Qur’an, nggak dipungut bayaran. Syaratnya komitmen sampai khatam. Kalau tidak, saya denda, karena sudah menyita waktu saya. Hahaha. (AH).







