Menggugat Keadilan Tuhan

Pada suatu hari yang cukup panas di Planet Nufo, saya mengikuti kelas perkuliahan via daring. karena pandemi covid yang tak kunjung usai, pembelajaran di perkuliahan masih dilakukan secara daring. Siang itu, saya mengikuti mata kuliah filsafat yang diampu oleh seorang dosen perempuan. Bagi mahasiswa baru, mata kuliah filsafat terasa horor, apalagi bagi mereka yang lulusan pondok pesantren. Satu hal yang sangat mereka takutkan adalah dengan belajar filsafat menjadikan mereka seorang yang anti-theis (atheis) atau tidak mempercayai eksistensi Tuhan.

Perkuliahan berjalan dengan santai namun serius. Bu Dosen menjelaskan materi filsafat secara singkat. Setelah pemaparan materi, Bu Dosen membuka sesi pertanyaan. Tanpa menunggu waktu lama, seseorang mahasiswa mengajukan sebuah pertanyaan. Ia bertanya tentang di mana keadilan Tuhan. Katanya, “Mengapa Allah memasukkan orang-orang non-muslim ke dalam Neraka? Padahal mereka juga melakukan kebaikan seperti orang-orang muslim. Mereka bersedekah dan juga membantu sesama. Lalu di manakah keadilan Allah? Mengapa Allah memasukkan mereka ke neraka?

Kurang lebih seperti itu pertanyaanya.
Kemudian, tanpa disadari, kelas telah berubah menjadi kelas diskusi. Tiap-tiap mahasiswa menyampaikan argumen yang menurutnya adalah argumen yang benar. Sudah menjadi hal yang wajar jika diskusi pembahasan filsafat akan menjadi diskusi yang membulat dan berputar-putar. Padahal, jika kita hafal dan memahami al-Qur’an secara benar, pertanyaan tadi bukanlah pertanyaan yang sulit untuk dijawab, sebab al-Qur’an sudah menjawab pertanyaan itu. Ketika mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba saya teringat sebuah ayat yang berbunyi, “Dan tidaklah Allah menzalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.”

Sejak zaman Azali, Allah telah mengambil sumpah seluruh keturunan Nabi Adam bahwa mereka telah mendeklarasikan Allah sebagai satu-satunya Tuhan (QS.7:172). Allah pun menegaskan bahwa tujuan penciptaan mereka tiada lain hanyalah untuk beribadah kepada Allah saja (QS.51:56). Kemudian, ketika manusia dilahirkan ke dunia, mereka lupa akan deklarasi mereka kepada Tuhan. Mereka pun mengikuti kepercayaan orang tua mereka, sehingga ada yang menjadi seorang Nasrani, Yahudi, Atheis, dan lain-lain. Dalam kehidupan di dunia, manusia adalah makhluk yang diberi kebebasan berkehendak, tidak seperti malaikat yang tidak pernah membangkang terhadap perintah Allah (QS.66:6). Hidup yang diberikan oleh Allah kepada manusia di dunia adalah sebagai ujian, untuk menguji diantara mereka siapakah yang terbaik amalnya (QS.67:2).

Bacaan Lainnya

Manusia sejatinya adalah makhluk yang cenderung kepada kebenaran, karena manusia memiliki nafsu yang mendorong untuk berbuat kebaikan (QS.89:27-30). Dan kebenaran yang sesungguhnya adalah absolut hanya milik Allah (QS.2:147). Dalam pencarian kebenaran, Allah memberikan pedoman atau petunjuk kepada manusia agar manusia tidak tersesat dalam menjalani kehidupan di dunia (QS.2:185). Tak hanya selamat di dunia, namun juga selamat di akhirat. Pedoman atau petunjuk yang diberikan oleh Allah adalah berupa wahyu yang diturunkan kepada para nabi melalui perantara malaikat. Para nabi yang telah diberikan wahyu oleh Tuhan, ditugaskan untuk menyampaikannya kepada tiap-tiap umatnya (QS.2:151).
Pesan-pesan yang terkandung di dalam setiap wahyu yang disampaikan oleh para nabi adalah agar umat manusia beriman kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan (QS.11:26).

Tak hanya itu, umat manusia juga diperintahkan untuk berbuat baik terhadap sesama (QS.7:99). Dan Allah berjanji, Jika mereka beriman, maka surga baginya. Namun, jika sebaliknya, neraka yang menyala-nyala lah menjadi tempat kembalinya. Itulah kunci yang akan menyelamatkan manusia di kehidupan dunia dan akhirat. Namun pada kenyataannya, banyak diantara manusia yang menutupi keimanannya dengan mengingkari kebenaran yang disampaikan oleh para nabi. Diantara mereka ada yang menyekutukan Allah, mencari pelindung-pelindung selain Allah, mendurhakai Allah dan para nabi, dan membunuh para nabi dengan tanpa kebenaran. Sehingga mereka itu dimasukkan ke dalam neraka.

Padahal, telah jelas bukti-bukti kebenaran Tuhan yang dibacakan kepada meraka agar mereka selamat di dunia dan di akhirat. Lalu, apakah dengan begitu Tuhan tidak berbuat adil kepada mereka? menganiaya mereka? menzhalimi mereka? Mahasuci Allah, Tuhan Seluruh Alam. Dan tidaklah Allah menzhalimi mereka, akan tetapi mereka lah yang menzhalimi diri mereka sendiri.

Oleh: Nabil Muallif, Mahasiswa prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Walisongo Semarang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *