Waktu merupakan suatu hal yang sangat berharga dalam kehidupan setiap orang. Setiap orang memiliki tipe yang berbeda-beda di dalam menjalani hidup. Ada orang yang bertipe sebagai pengagum, yaitu mereka yang selalu kagum dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan. Ada juga yang bertipe sebagai pengamat, yaitu mereka yang diam dan hanya mengamati semua perubahan yang terjadi dalam kehidupan. Selain itu, tipe pelaku hanya sedikit, tipe ini lebih mengacu sebagai pelaku dalam perubahan dan selalu mengupayakan sesuatu yang bermanfaat.
Berbicara soal waktu, seringkali orang beranggapan lebih menyalahkan waktu yang begitu cepat, seperti berkeluh kesah “aduh, waktu berjalan terlalu cepat hari ini” atau “kok lama banget sih”. Bagi mereka yang sibuk dan memiliki banyak kegiatan, waktu berlalu begitu cepat. Akan tetapi, bagi mereka yang memiliki waktu luang, waktu terasa begitu lama. Dalam kehidupan sehari-hari, kebanyakan dari kita tidak sadar bahwa kita telah membuang-buang waktu dan kita menganggap semua itu adalah hal yang biasa saja. Padahal, sebenarnya kita telah menjadi orang-orang yang rugi yang telah melewatkan waktu. Kita tahu bahwa waktu sangat berharga. Bahkan, dalam sebuah kata-kata mutiara, disebutkan bahwa waktu ibarat nafas yang tidak akan kembali:
الوقت أنفاس لا تعود
“Waktu adalah nafas yang tidak mungkin akan kembali.”
Di dalam dunia kerja atau dalam dunia pendidikan, banyak orang yang kurang menghargai waktu, contohnya saja sering kita jumpai istilah “ngaret” atau menunda-nunda suatu aktivitas. Akibat dari hal tersebut semua agenda tidak berjalan dengan lancar. Terkadang, karena seseorang sudah terlalu sering terlambat atau tidak disiplin waktu, maka menyebabkan seseorang dipecat dari pekerjaannya atau sudah tidak dipercayai lagi.
Pada intinya, kita harus belajar lebih keras lagi. Kenapa orang lain bisa sedangkan kita tidak? Kita harus menanamkan rasa khawatir dalam diri jika kita tidak disiplin. Kita harus memikirkan tanggapan orang lain terhadap kita. Apakah mereka suka atau tidak? Tentunya tidak.
Sikap disiplin seharusnya sudah ditanamkan sejak dini. Itu menjadi salah satu fungsi keluarga yang mana mengajarkan anak akan disiplin terhadap norma-norma dan nilai. Begitu pula setelah anak dewasa, dia akan terbiasa disiplin di dalam masyarakat dan lingkungan apabila ia telah terbiasa dari kecil.
Pada dasarnya, hidup itu pilihan. Setiap hari kita dihadapkan dengan lebih dari satu pilihan. Dari segala pilihan tersebut, kita harus memutuskan satu pilihan yang nantinya menjadi sebuah prioritas. Mau tidak mau, kita harus pandai menerapkan kemampuan yang kita punya. Mengapa? Sebab kebutuhan dan keinginan kita tidak sedikit, namun waktu yang tersedia tak bisa ditambah dan energi kita terbatas untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan tersebut. Ketetapan ukuran waktu hanyalah 24 jam dan tidak bisa diutak-atik. Oleh karena itu, Jangan sampai kita malah menomorduakan prioritas. Tidak dapat dipungkiri terkadang secara tidak sadar manusia terdorong untuk melakukan hal yang kurang penting meski dalam waktu yang singkatep, seperti halnya Scroll-scroll Shopee, IG, Tik-tok dan aplikasi lainnya.
Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA, dijelaskan bahwa Syeikh Jamaluddin al-Qasimi, salah seorang ulama Syam pernah melewati kedai kopi. Beliau menyaksikan orang-orang yang membuang-buang waktu dengan duduk bermain catur dan berbual-bual tanpa makna. Lalu, ia berkata “Aduhai…… sekiranya waktu mereka bisa kubeli niscaya akan kubeli untuk menambah waktuku.”
Kisah tersebut menunjukkan kepada kita bahwa waktu itu adalah kehidupan. Orang yang tak menggunakan waktu untuk melakukan kebaikan hakikatnya tidak pernah hidup kecuali sebagaimana hidupnya binatang. Saudaraku, jangan pernah lewatkan waktu untuk hal-hal yang tak berguna, menghabiskan waktu di depan setan gepeng, terlena dengan berbagai ragam medsos, dan bermain game yang membunuh waktumu.







