Universitas Sultan Agung (Unissula) Kota Semarang makin serius untuk melahirkan generasi khairu ummah. Salah satu jalannya adalah memberikan beasiswa kuliah kepada para penghafal al-Qur’an. Tak hanya itu, Unissula juga menyelenggarakan pelatihan untuk membuat para penghafal al-Qur’an makin semangat menghafal dan menyelesaikan hafalan.
Mengundang Ustadz Dr. Mohammad Nasih, M.Si. al-Hafidh, Guru Utama di Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang, digelar acara Pelatihan Menghafal al-Qur’an Metode ABAH (Artikan BAru Hafalkan) di Gedung Serba Guna Lantai 8 Unissula, Sabtu (25/3). Acara berjalan dengan sangat meriah karena diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai jenjang. “Selain mahasiswa, ada juga siswa SMU yang merupakan binaan LAZIS Yayasan Sultan Agung”, kata Ustadz Hasanuddin, yang merupakan Ketua LAZIS.
Dalam acara pelatihan tersebut, Ustadz Nasih mengajak para peserta untuk bersabar mempelajari ilmu alat yang dimulai dengan menguasai tashrif.
“Awalnya memang lebih sulit dibanding belajar bahasa Inggris. Sebab, kalau bahasa Inggris, perubahan bentuk kata hanya sekitar belasan saja. Go-going-went-gone. Empat. Kalau jamak ditambah s atau es. Kalau pelaku ditambah er. Tapi kalau bahasa Arab, satu kata bisa berubah menjadi 400-an kata. Ini yang memerlukan kesabaran di awal. Hanya butuh 40 hari saja, kalau mau serius. Pasti bisa. In syaa’a Allah,” kata Ustadz Nasih di hadapan para peserta.
Dalam pelatihan tersebut, Ustadz Nasih yang sesungguhnya merupakan dosen ilmu politik di Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ Jakarta mengatakan bahwa ada anak tangga yang dilompati oleh para penghafal al-Qur’an, sehingga mereka mengalami kesulitan. Dan karena itu, sebagian besarnya mengalami kegagalan.
“Metode ABAH ini saya desain untuk memudahkan menghafalkan al-Qur’an. Sebab, saya pernah mengalami kesulitan saat saya berusaha menghafal pertama kali, saat saya masih SD. Dan saya lihat, banyak anak-anak muda yang mengalami yang dulu saya alami itu. Mereka menghafal tanpa mengerti artinya. Padahal, berdasarkan temuan riset saya, menghafalkan kalimat yang tidak dipahami artinya perlu usaha minimal tujuh kali lipat. Maka sering saya katakan dengan berkelakar, tetapi sebenarnya serius, meminta anak menghafal al-Qur’an tanpa mengerti artinya, bisa jadi penyiksaan. Nah, saya mendapatkan inspirasi nama ini, karena sejak tiga tahun terakhir, saya mensosialisasikan tujuh kewajiban kepada al-Qur’an, yaitu: membacanya, mengartikannya, menghafalkannya, merenungkannya, mengerjakannya, mengajarkannya, dan memperjuangkannya. Jangan lompati anak tangga kedua, dari satu langsung ke tiga. Bisa gagal naik, karena bisa jatuh,” kata pria yang juga pendiri dan Ketua Yayasan Pesantren Nurul Furqon atau Planet NUFO Rembang itu.







