Tiga Tradisi Unik Menyambut Lebaran di Indonesia

Oleh : Rachmat, (Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unissula)

Ramadan telah tiba, berarti Hari Raya Idul Fitri akan segera tiba. Dari berbagai macam tradisi dalam menyambut hari raya idul fitri bagi umat muslim di seluruh dunia, terdapat beberapa tradisi unik yang hanya dapat ditemui di Indonesia. Adapun tradisi unik dalam menyambut hari raya idul fitri di Indonesia adalah sebagai berikut :

1. Mudik

Mudik Lebaran merupakan suatu tradisi untuk berkumpul bersama keluarga dalam suasana perayaan hari raya Idul Fitri atau orang biasanya disebut “Lebaran”. Orang-orang rela untuk mengantri, berdesak-desakan serta macet panjang demi bisa melaksanakan tradisi pulang ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga saat lebaran. Fenomena mudik lebaran di Indonesia memang unik dan hampir tidak dapat ditemukan di negara lain. Biasanya tradisi mudik lebaran ini akan dilakukan sekitar satu minggu menjelang lebaran, dimana para perantau berbondong-bondong meninggalkan ibukota dan kembali ke kampung halaman. Mudik secara khusus memang ditujukan untuk momentum pulang kampung saat lebaran saja. Sedangkan pulang kampung yang dilakukan pada hari biasa, tidak mendapat sebutan mudik.

2. Takbiran

Kegiatan rutin saat menjelang lebaran adalah takbiran. Takbiran dikumandangkan pada malam hari untuk menyambut datangnya Idul Fitri dan Idul Adha. Takbiran biasa dilakukan dengan pawai di jalan, kadang-kadang membawa obor dan bedug sambil mengumandangkan kalimat takbir. Mulai dari orang dewasa hingga anak-anak turut antusias takbiran keliling kampung. Tak jarang, malam takbiran juga dihiasi dengan petasan-petasan dan kembang api yang menyemarakkan malam. Suasana malam takbiran pun makin meriah dan menyenangkan.

Takbiran keliling kampung biasanya dilakukan setelah selesai shalat Magrib atau tepat saat malam 1 Syawal, dimana sejak sore Hari Umat islam berkumpul di Masjid melakukan takbiran dan sebagian lain lagi membawa gendang untuk ditabuh mengiringi Takbir yang dikumandangkan.

Rangkaian kegiatan takbir keliling biasanya dimulai dengan para peserta takbiran berkumpul disebuah masjid dan selanjutnya berjalan beriringan membentuk barisan yang panjangnya bisa mencapai 0,5 Km hingga 1 Km. Kemudian para peserta akan berkeliling Kampung dengan berjalan kaki, membawa obor yang sudah dinyalakan, serta menabuh gendang yang di iringi dengan kalimat “ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, LA ILAHA ILALLAHU ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR WALILLAHIL HAM, secara berulang-ulang terus menerus hingga akhirnya pesertapun kembali ke Mesjid dimana Takbiran di mulai.

3. Belanja baju baru

Tradisi baju baru saat lebaran tercatat dalam buku Sejarah Nasional Indonesia karya Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. Didalam buku sejarah itu diceritakan bahwa tradisi memakai baju baru berawal dari daerah Kesultanan Banten. Kesultanan Banten menganut agama Islam sehingga tradisi ini sangat kental. Bahkan pada waktu itu, untuk menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri, warga rela berbondong-bondong mencari baju baru. Bagi mereka yang memiliki uang bisa membeli ke pasar. Tetapi bagi yang tidak punya uang, mereka harus menjahit terlebih dahulu untuk mendapatkan baju baru. Peluang profesi baru dadakan pun muncul saat itu. Sehingga akhirnya di wilayah kesultanan Banten banyak petani yang beralih profesi menjadi penjahit jika waktu lebaran datang.

Tradisi baju baru saat lebaran juga ternyata sudah ada di kerajaan Mataram baru, Yogyakarta. Kerajaan Mataram baru dengan mayoritas warga muslim melakukan tradisi yang sama. Terlebih jika sudah memasuki hari terakhir bulan Ramadan, dimana semua orang bersiap menyambut datangnya lebaran dengan baju baru.

Tradisi baju baru ini seolah jadi suatu hal yang wajib dilakukan. Padahal tentu saja hal itu bukanlah sesuatu yang diwajibkan. Tradisi memakai baju baru ketika lebaran sebenarnya punya esensi jika umat Islam sebisa mungkin merayakan Idul Fitri dengan meriah. Pada dasarnya, lebaran merupakan hari raya dimana mereka yang telah berpuasa kembali suci seperti bayi, karena diampuni dosa-dosanya.

Riwayat dalam Hadits Bukhari, “Umar mengambil sebuah jubah sutra yang dijual di pasar, ia mengambilnya dan membawanya kepada Rasulullah SAW dan berkata : “Wahai Rasulullah, belilah jubah ini serta berhiaslah dengan jubah ini di hari raya dan penyambutan.” Rasulullah berkata kepada Umar: “Sesungguhnya jubah ini adalah pakaian orang yang tidak mendapat bagian.” (HR. Al Bukhari)

Berdasarkan hadits, ulama Abu Al-Hasan dalam Hasyiah As-Sindi ala An-Nasa’i menjelaskan dari hadits ini diketahui, bahwa berhias di hari raya termasuk kebiasaan yang sudah ada di kalangan para sahabat dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga tidak mengingkarinya.

Dari hadits tersebut, dapat disimpulkan bahwa membeli pakaian baru untuk menyambut hari raya Idul Fitri bukanlah kewajiban apalagi tradisi dalam Islam. Namun, umat muslim dianjurkan untuk berhias diri ketika lebaran seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.

Ternyata tradisi memakai baju baru saat lebaran sudah ada sejak zaman kerajaan. Sudah menjadi sebuah tradisi kita umumnya, hal tersebut akhirnya terbawa hingga saat ini. Pakai baju baru di hari raya Idul Fitri tentu sah-sah saja, tidak pun tak mengapa. Hanya perlu diingat bahwa esensi Idul Fitri tak hanya sebatas berbaju baru.

Demikian beberapa tradisi lebaran secara umum yang ada di Indonesia, tentunya masih banyak lagi kebiasaan dan tradisi lain secara khusus di berbagai wilayah di Indonesia. Berbeda daerah tentu juga akan berbeda pula tradisi dan budaya yang ada.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar