Kabar peresmian UICI (Universitas Insan Cita Indonesia) menjadi angin sangat segar bagi santri-santri Pesantren Alam Planet NUFO (Nurul Furqon) Rembang dan Rumah Perkaderan dan Tahfidh Monash Institute Semarang. Dua lembaga pendidikan yang sesungguhnya adalah pesantren plus ini memiliki visi besar melahirkan kader-kader canggih dengan kualifikasi berilmu, berharta, dan berkuasa. Basis keilmuan yang harus dimiliki adalah al-Qur’an dan hadits, yang karena itu program khusus di kedua lembaga ini adalah menghafalkan al-Qur’an. Untuk mendorong para santri menjadi hartawan, di dalamnya diberikan pelatihan wirausaha dan para santri langsung mempraktekkannya dengan membangun usaha di bidang peternakan dan pertanian terintegrasi. Agar hasil usaha itu lebih optimal, para santri juga dilatih untuk menjualnya, di antaranya dengan memanfaatkan teknologi digital. Santri juga diberi pelatihan dan praktek kepemimpinan, dengan berorganisasi mulai dari PII, IPNU, IPM, dan ketika menjadi mahasiswa seluruhnya menjadi kader HMI.
Monash Institute sudah beroperasi selama 10 tahun. Sedangkan Planet NUFO baru berusia 3 tahun. Selama ini, para santri kuliah di perguruan tinggi konvensional yang mengharuskan tatap muka. Masa pandemi covid-19 memberikan pengalaman baru bahwa semua perguruan tinggi “berubah” menjadi universitas terbuka. Kesempatan tidak harus tatap muka ini dimanfaatkan oleh para santri untuk mengakselerasi hafalan al-Qur’an dan lebih total dalam usaha. Selain itu, beberapa orang kemudian mendaftarkan diri ke Universitas Terbuka. Sampai kemudian muncul UICI yang didesain sebagai universitas digital pertama di Indonesia. Ini menjadi kesempatan besar bagi para santri Planet NUFO dan Monash Institute yang bahkan tidak hanya didukung penuh, tetapi bahkan diarahkan, oleh pengasuhnya yang juga adalah mantan aktivis HMI, untuk mendaftar di UICI.
Apa sebenaranya yang mendorong Dr. Mohammad Nasih yang oleh para santri akrab disapa Abah Nasih mengarahkan para santri mendaftar UICI? Berikut hasil petikan wawancara dengannya:
Abah Nasih, sudah berapa orang yang mendaftar di UICI?
Di Monash Institute sudah ada 5 pendaftar. Sebab, saya mensyaratkan hafalan al-Qur’an minimal 15 juz. Sebab, mereka masuk UICI dengan beasiswa. Ini sebagai tantangan kepada yang lain agar lebih serius menghafalkan al-Qur’an. Kalau sudah 15 juz, baru akan saya fasilitasi untuk mendaftar di UICI. Sedangkan di Planet NUFO, ada 12 orang. Mereka juga adalah peserta program tahfidh 10 bulan. Yang di sini, saya tidak memberikan syarat apa pun, karena mereka punya program wirausaha. Saya berharap dengan kuliah di UICI, mereka akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik, terutama untuk mendukung usaha mereka.
Apa yang menyebabkan Abah Nasih lebih memilih UICI dibanding universitas lain, termasuk Universitas Terbuka?
Wah, kalau ini cukup banyak. Beberapa di antaranya saja ya: Pertama, UICI ini universitas digital pertama di Indonesia, kelima di dunia. Saya melihat kampus dengan desain ini akan menjadi kampus masa depan dan kalau benar-benar dikelola dengan baik dengan strategi yang tepat, akan menjadi universitas terbesar. Saya sering meledek para santri saat kajian dengan saya bahwa model belajar tatap muka itu adalah model di era Yunani Kuno, saat buku masih langka dan internet belum ada. Keharusan tatap muka bikin buang banyak waktu dan biaya dengan hasil yang sama. Untuk level perguruan tinggi yang mahasiswa sudah memiliki basis keilmuan, model yang digunakan oleh universitas terbuka dan universitas digital ini jauh lebih cocok. Tentu saja ada pengecualian, misalnya untuk Fakultas Kedokteran dan beberapa yang lain yang membutuhkan praktek.
Kedua, tidak semua santri penghafal al-Qur’an mampu menghafal dengan cepat. Saya membuat program 10 bulan menghafal al-Qur’an. Namun, berdasarkan pengalaman selama ini, dalam waktu 10 bulan itu, hanya tidak lebih dari 10 persen saja yang mampu menghafal total 30 juz. Selebihnya hanya mampu sampai belasan juz saja. Itu artinya, mereka membutuhkan tambahan waktu untuk melanjutkan hafalan dengan lingkungan pendukung yang telah mereka jalani. Kalau mereka harus berpindah tempat karena harus kuliah di Semarang, Yogya, Jakarta, Surabaya, dll, dengan lingkungan yang berubah dan mereka harus beradaptasi lagi, faktanya itu membuat mereka mengalami kesulitan. Dengan adanya kuliah bisa dari mana saja yang diberikan oleh UICI ini, para santri masih tetap bisa dipondok saya, dan mereka akan bisa meraih gelar sarjana. Secara tak terkoordinasi, sudah terjadi sinergi antara pesantren saya dengan UICI ini. Hahaha.
Ketiga, para santri punya usaha-usaha yang sayang sekali kalau ditinggal. Usaha mereka kan di bidang pertanian dan peternakan. Lebih besar peluangnya dilakukan di desa yang lahannya luas. Planet NUFO memfasilitasi mereka memelihara burung puyuh, domba, sapi, ikan, sayur-mayur, maggot, dll yang semuanya terintegrasi. Kalau mereka harus meninggalkan bisnis yang sudah mereka rintis dan sudah mulai berkembang, tentu saja mereka harus memulai dari nol lagi. Itupun kalau bisa. Sebab, kalau kuliah tatap muka, waktu akan banyak tersita. Belum lagi mereka harus mencari lahan bisnis baru di perkotaan yang pasti tidak mudah.
Jadi bukan karena fanatisme Abah Nasih sebagai mantan aktivis HMI?
Bahwa saya mantan aktivis HMI itu adalah fakta. Namun, kita kan harus pakai kalkulasi rasional yang akurat. Jadi, dengan kalkulasi yang saya sampaikan itu, anggap saja saya sedang menyelam sambil minum susu. Saya turut membesarkan kampus UICI dari jauh dan pesantren yang saya kelola juga makin meriah. Sebab, mondok di Monash Institute dan Planet NUFO membuat mereka bisa menyelam sambil minum susu juga. Mereka bisa menghafalkan al-Qur’an dan tiba-tiba nanti bergelar sarjana. Bahkan saat lulus mereka sudah memiliki usaha yang konkret yang bisa membuat mereka mampu menghadapi kehidupan nyata. Kalau santri memiliki usaha yang per bulan menghasilkan Rp. 1.500.000 saja, mereka sudah akan bisa membiayai diri mereka sendiri. Sebab, UKT UICI kan murah. Hanya tidak lebih dari Rp. 3.000.000 saja per semester. Saya tinggal memfasilitasi santri untuk punya usaha yang bisa membuat mereka punya penghasilan di atas 1 juta. Dengan pelihara 1.000 ekor burung puyuh saja, per bulan mereka bisa mengantongi hasil bersih lebih dari 2 juta. Beres kan?







