Santri Planet Nufo Dekat Tanpa Sekat, Berteman Melebihi Saudara

Baladena.id, Semarang – Jika pertama kali menginjakkan kaki di Planet NUFO, mungkin sebagian kita akan kaget melihat pergaulan antara para santri-murid di sana. Mereka semua bergaul tanpa canggung dengan siapa pun. Kita akan menyaksikan diskusi dinamis dalam sebuah halaqah yang di dalamnya ada santriwan dan santriwati duduk berhadapan. Kita juga akan disuguhi pemandangan santriwan dan santriwati simaan al-Qur’an di berbagai tempat terbuka di halaman. Masih banyak aktivitas lain yang dilakukan oleh para santri-murid Planet NUFO tanpa sekat yang biasanya dianggap sebagai salah satu standar syariat.

Namun, bukan berarti bahwa model pergaulan di Planet NUFO bukan berdasar syariat. Sebab, pola pergaulan di Planet NUFO dihasilkan dari perdebatan panjang oleh para pendirinya yang berpikiran terbuka dan luas, sampai dihasilkan code of conduct yang membuat pergaulan antar santri-murid maupun dengan ustadz/ah berjalan dengan unik, sesuai dengan jargonnya, different and the best.

Ingin tahu lebih lengkap bagaimana pemahaman pola pergaulan Islami ala Planet NUFO yang didirikan oleh Dr. Mohammad Nasih, M.Si itu? Simak wawancara baladena.id dengan pengajar Ilmu Politik di Pascasarjana UI dan FISIP UMJ yang akrab disapa oleh para santrinya dengan Abah Nasih atau Abana ini:

Baladena: “Abah Nasih, saya lihat banyak sekali sesuatu yang berbeda di Planet NUFO ini?

Abana: “Kalau sama semua dengan yang lain-lain yang tidak relevan untuk ada Planet NUFO ini. Memangnya apa yang terasa berbeda? Saya jadi penasaran malah. Sebab, saya sudah merasa biasa saja. Hahaha”.

Baladena: “Kali ini saya ingin fokus menanyakan tentang pola pergaulan yang di sini bisa dikatakan berbeda dengan di lembaga pendidikan, apalagi pesantren lain. Misalnya, mohon maaf ya, tidak ada sekat antara santri laki-laki dan perempuan”.

Abana: “Santai saja, tidak ada yang perlu dimaafkan. Sebab, ini yang sering ditanyakan juga oleh sebagian orang tua yang belum tahu. Padahal kami memilih pola pergaulan yang begini ini setelah berdebat sangat amat panjang. Nah, saya sekarang mau tanya, menurut Anda, santri yang ada di Planet NUFO ini anak baik atau anak jahat?”

Baladena: “Wah, semoga ya anak baik.”

Abana: “Hahaha. Jangan pakai semoga. Ini belum waktunya berdoa. Gini saja. Kalau Anda punya anak, atau adik. Adik anda dimasukkan ke sini, adik Anda itu ingin kami anggap sebagai anak baik atau penjahat?”

Baladena: “Ya baik saja, Bah!”

Abana: “Ya sudah selesai. Karena kami anggap baik, maka sekat itu tidak perlu.”

Baladena: “Wah. Makin penasaran saya. Boleh dibagi dong, Bah, perspektifnya. Agar tidak ada yang salah paham. Atau tepatnya agar mendapat pencerahan”.

Abana: “Sekat-sekat yang biasanya ada itu kalau di dalam al-Qur’an disebut sebagai hijab. Itu berdasarkan QS. al-Ahzab: 53.

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ ۚ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا

Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah. (al-Ahzab: 53)

Ayat tentang hijab ini ada latar belakangnya. Ibnu Katsir menyebutkan begini:

Penurunan ayat ini bertepatan dengan perkataan sahabat Umar ibnul Khattab r.a., sebagaimana yang telah disebutkan di dalam kitab sahihain yang bersumber darinya. Disebutkan bahwa Umar pernah berkata, “Aku bersesuaian dengan Tuhanku dalam tiga perkara, yaitu aku pernah berkata, “Wahai Rasulullah, sekiranya engkau menjadikan maqam Ibrahim sebagai tempat salat,” lalu Allah menurunkan firman-Nya: Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat salat. (Al-Baqarah: 125), Dan aku pernah berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya istri-istrimu banyak ditemui oleh orang-orang, di antaranya ada yang bertakwa dan ada yang durhaka (yakni ada yang baik dan ada yang buruk), maka sekiranya engkau buatkan hijab untuk mereka,’ lalu turunlah ayat hijab ini. Dan aku pernah berkata kepada istri-istri”Nabi Saw. pada saat mereka bersekongkol memprotes Nabi Saw. karena terdorong oleh rasa cemburu mereka, ‘Jika Nabi menceraikan kalian, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya istri-istri yang lebih”baik daripada kamu.’ Maka turunlah ayat yang menyebutkan hal yang sama,” yaitu firman-Nya: Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan mem­beri ganti kepadanya istri-istri yang lebih baik daripada kamu. ‘ (At-Tahrim: 5)

Baladena: “Jadi konkretnya bagaimana, Bah?”

Abana: “Ya itu tadi, kami di sini berprasangka baik, bahwa semua anak yang dimasukkan ke Panet NUFO ini adalah anak-anak yang baik. Bukan anak-anak munafik. Nah, tapi bukan berarti kami tidak berusaha sekuat tenaga agar tidak terjadi penyelewengan kepercayaan dalam pergaulan yang tanpa sekat itu. Kami berani begitu, karena kami memiliki guru dan mentor dalam jumlah yang sangat banyak, yang di antara mereka saling mengontrol. Ruang-ruang besar kami bangun bukan dengan tembok bata, tetapi kaca tembus pandang. Jadi, tidak ada ruang yang membuat santri-santri di sini berkhalwat berduaan. Dan aktivitas kami buat secara padat”.

Baladena: “Jadi logikanya sebenarnya jadi sederhana ya. Karena anak-anak dianggap baik, maka tidak perlu dibuat sekat. Mungkin ada tambahan argument selain itu?”

Abana: “Pertanyaan Anda tepat sekali. Saya punya pengalaman baik di pesantren maupun di perguruan tinggi. Anak-anak yang sebelumnya bergaul secara terbatas, justru tidak siap. Bayangkan anak-anak kita nanti kuliah di UI, UGM, Unair, ITB, IPB, atau bahkan di luar negeri, negara sekuler yang tentu saja hijab mereka harus ada di hati mereka. Kalau cara berpikir kita tidak terbuka, maka justru anak kita akan menjadi anak-anak yang kuper.”

Baladena: “Lalu, bagaimana membuat ayat tentang hijab itu relevan?”

Abana: “Oh ayat ini sangat relevan. Dan saya perjuangkan bersama Bu Chusnul Mar’iyyah, dosen saya di Ilmu Politik UI, juga teman-teman aktivis yang lain, konteksnya di ruang publik yang di sana kita tidak bisa mengenali mana orang baik dan orang jahat sebagaimana dilihat oleh Sahabat Umar Bin Khaththab di atas. Lihat saja sekarang bus kota di Semarang dan Jakarta, mungkin juga kota-kota yang lain. Bahkan kalau kereta Commuter Line ada gerbong khusus bagi perempuan. Tujuannya apa? Agar perempuan tidak mengalami pelecehan seksual. Kalau di bus dan kereta begini, prasangka yang kita gunakan adalah prasangka buruk. Ada lelaki-lelaki jahat yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Bisa dipahami dengan mudah kan?”.

Baladena: “Ya. Jelas sekali. Sangat substansial. Kalau Islam dipahami begini, rasanya plong. Islam ini agama berkemajuan.”

Abana: “Tepat sekali. Umat Islam ketinggalan karena sebagian mereka bergaul kurang luas. Pandangannya dibatasi bagai katak dalam tempurung. Hahaha. Itu harus kita hilangkan. Nah, kembali ke masalah pergaulan tadi, bukan berarti juga kami tidak melakukan usaha ekstra. Luar biasa saja memberikan perspektif. Saya ini kan juga ngajar mata kuliah “Negara, Politik, dan Perempuan” tandeman dengan Bu Chusnul Mar’iyyah. Karena itulah saya memiliki bekal yang cukup untuk memberikan perspektif agar anak-anak benar-benar bergaul dengan baik. Kepercayaan saya kepada mereka jangan sampai mereka khianati. Saya tekankan berulang-ulang, karena biasanya habis shalat fardlu saya kultum, di antara yang saya sampaikan adalah agar jangan sampai terjadi pelecehan terhadap lawan jenis. Tidak boleh menyentuh, mencubit, atau bahkan sekedar berkata-kata yang tidak pantas. Suit-suit pun itu kami tekankan sebagai salah satu bentuk pelecehan seksual. Dan kami menekankan kepada mereka agar di antara mereka saling melindungi. Terutama yang laki-laki harus melindungi perempuan. Juga sebaliknya. Kalau ada yang melakukan tindakan yang tidak sesuai yang saya katakan, saya minta secara langsung melaporkan kepada guru pembimbing. Alhamdulillah selama ini semua aman. Semoga aman seterusnya dan mereka bisa menjadi kader-kader yang bisa masuk ke segala lini dunia.”

Baladena: “Kalau begini jadi khas sekali ya lingkungan pesantrennya?”

Abana: “Begitulah yang kami inginkan. Bahkan kami membuat tata sikap yang kami sebut dengan code of conduct, detil tentang bagaimana cara bersalaman dengan antar santri-murid, dengan guru, dan lain-lain. Kami ciptakan sikap yang egaliter, tidak feudal, tetapi tetap menjungjung prinsip-prinsip kesopanan. Hanya saja bentuknya sangat khas Planet NUFO. Sebab, kami punya jargon different and the best. Semoga benar-benar terwujud. In syaa’a Allah”.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *