Planet Nufo dan Keberanian Melakukan Transformasi Pesantren

Perkembangan sains dan teknologi telah mengubah cara hidup umat manusia. Sebab, perkembangan saintek telah membuat banyak hal yang sebelumnya sulit menjadi mudah, yang sebelumnya mahal menjadi murah, yang sebelumnya lambat menjadi cepat, yang sebelumnya dianggap jauh menjadi dekat, yang sebelumnya tak terlihat menjadi terlihat, yang sebelumnya disalahpahami menjadi bisa dipahami dengan benar, dan lain-lain. Tentu saja, ada juga efek negatifnya jika tidak disikapi dan dimanfaatkan secara tepat.

Perubahan itu menuntut lembaga pendidikan untuk melakukan transformasi diri. Jika tidak mau melakukannya, maka konsekuensinya adalah mengalami ketertinggalan. Pondok pesantren, sebagai salah satu model lembaga pendidikan Islam juga perlu melakukan transformasi, agar mampu melakukan akselerasi dan mendapatkan peluang untuk memimpin di depan.

Pesantren-Sekolah Alam Nurul Furqon, Mlagen, Pamotan, Rembang, atau yang lebih dikenal sebagai Planet NUFO, yang didirikan oleh Ustadz Dr. Mohammad Nasih, M.Si., seorang aktivis dan pengajar ilmu politik di FISIP UMJ, Jakarta sejak awal didirikan telah mengusung semangat transformasi itu. Bahkan di antara yel-yel yang sering diteriakkan oleh para santri-muridnya adalah “Different and the Best” untuk menjadi pribadi-pribadi yang berilmu, berharta, dan juga berkuasa. Bagaimana perspektif dan praktik transformasi yang ada di Planet NUFO? Baladena.id melakukan wawancara eksklusif dengan bapak lima anak yang juga Pengasuh dan Guru Utama di Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang yang akrab disapa oleh para muridnya dengan Abah Nasih atau Abana itu:

 

Baladena: “Abah Nasih, bagaimana Planet NUFO menghadapi perubahan yang terjadi semakin cepat? Dan dengan perkembangan sains dan teknologi yang semakin cepat, perubahan itu akan menjadi semakin cepat lagi tentunya.”

Abana: “Perubahan sudah menjadi sunnatullah bagi orang-orang yang mau. Dengan akal budi yang dimiliki, manusia menciptakan peradaban. Karena itu, di berbagai tempat, kita bisa menemukan beragam peradaban, sesuai dengan kemampuan dan cara berpikir juga daya mereka untuk bekerja. Yang pasti dari fakta ini, manusia memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan. Berbeda dengan binatang yang tidak pernah menampakkan perubahan. Dari dulu ya begitu. Yang paling sederhana adalah tidak ada binatang yang berinisiatif untuk sekedar menutupi anggota badannya sekedar untuk melindungi dari dingin atau panas, apalagi kesadaran untuk menutupi auratnya. Kalau manusia, dari yang awalnya hanya melakukan yang fungsional, kemudian menciptakan sesuatu yang artistikal. Baju kita contohnya, bukan sekedar untuk berlindung dari panas dan dingin, tetapi juga untuk menutupi aurat karena diperintahkan oleh Allah. Bahkan kemudian juga didisain dan diberi gambar yang begitu rupa, sehingga juga menampilkan keindahan. Namun, ada yang melampaui batas, menggunakannya untuk simbol kemewahan. Jadi, perubahan tidak perlu kita takuti. Harus kita hadapi secara optimistis.”

Baladena: “Nah, cara menghadapi dengan positif ini yang sangat diperlukan. Bagaimana langkah-langkahnya?”

Abana: “Apa masalahnya? Tinggal kita lihat secara holistik saja. Kita cari saja apa manfaatnya, dan apa dampak negatifnya. Manfaatnya kita ambil. Dampaknya kita tekan seoptimal mungkin. Kalau bisa, kita cegah. Sangat bisa. Kalau semuanya kita tolak, karena menganggap sesuatu yang tidak ada pada zaman Nabi atau tidak dilakukan Nabi tidak boleh kita lakukan, padahal situasi dan kondisinya sudah berubah sangat signifikan, justru itu yang akan membuat umat Islam ketinggalan.

Baladena: “Langkah konkret apa yang harus dilakukan oleh pesantren untuk menghela kemajuan umat Islam.”

Abana: “Umat Islam, termasuk dan utamanya para santri, sebagai entitas yang memiliki fokus khusus kepada pemahaman Islam, harus mampu membuktikan bahwa mereka adalah umat terbaik sebagaimana dijanjikan oleh Islam. Mereka harus mampu membuktikan bahwa al-Qur’an dengan alam semesta itu ibarat mur dengan baut yang klop. Dalam khazanah intelektual Islam klasik, sesungguhnya kita sudah memiliki istilahnya. Al-Qur’an adalah ayat qawliyah, sedangkan alam semesta adalah ayat kawniyah. Alam itu kan artinya tanda juga, sebagaimana ayat yang berarti tanda. Kedua-duanya adalah tanda dari Allah. Secara kebahasan, alam diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadia alamat. Alamat itu definisinya adalah sesuatu yang menjadi tanda. Yang menarik adalah tanda berupa alam semesta, baik berupa makro kosmos maupun mikro kosmos itu diperlihatkan oleh Allah untuk membuat manusia memahami bahwa al-Qur’an itu benar. Coba lihat QS. Fushshilat 53. Kata Allah: “Aku akan perlihatkan tanda-tanda-Ku di berbagai ufuk, dan di dalam diri mereka sendiri, sehingga menjadi nyata bahwa al-Qur’an adalah benar”. Karena itu, pesantren harus membuka diri seluas-luasnya kepada basis keilmuan yang bisa mengantarkan para santri kepada perspektif yang saintifik. Jangan hanya berkutat pada kajian-kajian skolastik. Bisa ketinggalan.

Baladena: “Apa langkah konkret yang telah dilakukan oleh Planet NUFO?”

Abana: “Ada banyak ya. Setidaknya ada lima hal yang terlihat nyata telah dipraktekkan di Planet NUFO.”

Baladena: “Apa saja itu?”

Abana: “Pertama, kami membangun kurikulum yang holistik. Tidak ada dikotomi ilmu yang selama ini dianggap sebagai ilmu agama dan ilmu dunia. Itu adalah konsekuen dari perspektif bahwa al-Qur’an maupun alam semesta adalah sama-sama tanda dari Allah Swt.. Mempelajari tanda-tanda yang ada di dalam alam semesta adalah jalan untuk menemukan bukti bahwa al-Qur’an adalah kebenaran. Logikanya, kalau kita tidak mau melakukannya, kita tidak akan bisa menemukan argument rasional untuk percaya kepada kebenaran al-Qur’an, lebih luasnya Islam. Kalau mempercayai kebenaran Islam tanpa argumen, itu tidak beda dengan taqlid buta. Karena itulah, pelajaran di Planet NUFO tidak dibatasi hanya tauhid atau teologi, fikih, dan tasawuf, tetapi memperkuat juga pemahaman al-Qur’an dan hadits secara rasional dan menjadikannya sebagai basis bagi pengembangan sains dan teknologi. Tepatnya, al-Qur’an dan juga Sunnah Nabi Muhammad dijadikan sebagai inspirasi untuk pengembangan sains dan teknologi.”

Baladena: “Wah, ini ranahnya jadi luas sekali. Ini ibarat melakukan pengembaraan yang tiada batas.”

Abana: “Memang begitulah Islam itu. Al-Qur’an itu ibarat lautan tanpa tepi. Kalau dikaji, tak akan ada habisnya. Al-Qur’an sudah menegaskan bahwa jika kalimat-kalimatNya ditulis dengan lautan yang dilipatgandakan sebagai tinta, maka tak akan cukup. Dia akan habis sebelum selesai diuraikan. (al-Kahfi: 109).”

Baladena: “Tradisi ilmiah ini perlu keberanian. Termasuk kritis terhadap pandangan-pandangan masa lalu. Apakah lingkungan pesantren siap untuk itu?”

Abana: “Karena itulah, Planet NUFO melakukan tranformasi dalam aspek kedua, yaitu menghilangkan budaya feudal. Planet NUFO serius mengikis budaya feudal dan membangun budaya yang egaliter dan memotivasi sikap kritis. Lihat saja cara bergaul mereka dengan guru, dengan saya sebagai pengasuh. Mungkin kalau kita sudah terbiasa di pesantren pada umumnya, melihat para santri-muird di Planet NUFO, jadi seolah melihat bukan santri. Kalau biasanya bertanya, berkomentar, atau bahkan berargumen kritis itu dianggap sebagai suu’ al-adab, di Planet NUFO justru sebaliknya. Tidak bertanya saja itu dianggap sebagai tidak paham, dan tidak paham itu disebabkan tidak memperhatikan. Kalau guru menyampaikan, tetapi sampai tidak paham, itu berarti mengabaikan. Mengabaikan itu adalah suu’u al-adab. Karena sikap kritis inilah, mereka menjadi lebih progresif.”

Baladena: “Apakah ada implikasi khusus dengan berpikir kritis dan progresif itu?”

Abana: “Tentu saja. Dan itulah yang menjadi modal untuk melakukan transformasi berikutnya. Ke berapa? Ketiga ya? Jika biasanya paradigmanya fatalistik disebabkan oleh perspektif tasawuf yang lebih condong kepada jabariyah, apalagi kalau menggunakan perspektif tajrid. Ini bisa benar-benar membuat santri hanya berdo’a, tidak mau bekerja. Ini yang saya tidak mau. Santri harus bekerja untuk kebaikan dunianya. Sebab, kebaikan dunia adalah modal juga untuk kebaikan akhirat. Itu kan do’a kita, agar Allah memberikan kebaikan di dunia dan juga kebaikan di akhirat. Do’a sapu jagat itu. Karena itulah, saya mengajak guru-guru, para ustadz/ah, untuk membangun usaha yang bisa dilihat dengan mata telanjang para santri-murid. Mereka harus melihat dengan mata kepala mereka sendiri, bahwa yang diperlukan untuk mendapatkan kelimpahan di dunia adalah bekerja dengan daya tahan tinggi dan membarenginya dengan do’a sepenuh ketundukan dan harap kepada Allah. Kerja dan ibadah adalah paket yang tidak bisa dipisah. Anggap saja dua sisi dari sekeping mata uang. Maka kandang domba saya buat di depan Planet NUFO. Kandang sapi bahkan saya buat di dekat tempat mereka wudlu dan mereka lewati saat mereka akan shalat dan belajar. Agar mereka memiliki kesadaran kuat bahwa memang harus punya bisnis. Mereka harus memiliki kesadaran unuk berwirausaha. Hasilnya nanti bisa dipakai berdakwah, berjuang. Bukan kelihatannya dakwa, tetapi sesungguhnya jadi lahan untuk mengumpulkan amplop.”

Baladena: “Kalau begini ini, berarti tidak bisa dong menggunakan kurikulum yang sudah ada? Bagaimana caranya?”

Abana: “Ya sekali lagi, inilah tuntutan bertransformasi. Kami harus membuktikan bisa menghasilkan santri-murid yang memiliki kemampuan melampaui santri-murid yang diajar dengan menggunakan kurikulum biasa. Ini transformasi yang keempat ya. Dan untuk melakukan ini, kami menggunakan hasil dari perkembangan sains dan teknologi. Misalnya: kami harus memastikan bahwa setiap murid bisa menguasai apa yang dipilihnya sebagai bakat dan minatnya. Tapi kan tetap saja, kemampuan anak beda-beda. Apalagi di sini, kami mewajibkan setiap santri-murid menguasai dasar-dasar pemahaman al-Qur’an. Untuk itu, dengan kemampuan santri-murid yang berbeda, pasti ada yang membutuhkan pengulangan. Kalau pengajar disuruh mengulang-ulang, sementara ada yang membutuhkan berkali-kali, bisa buang waktu dan tenaga. Caranya, di antaranya saya merekam cara saya memaknai ayat. Mereka mendengarkannya agar bisa memahaminya. Kemudian para ustadz/ah mengecek untuk memastikan mereka sudah benar. Saya mengecek lagi secara acak, di mana pun, kapan pun bertemu dengan mereka. Dengan cara ini, tingkat penyerapan mereka meningkat drastis. Kalau daya serap di pesantren konvensional hanya tidak lebih dari 2 persen, di Planet NUFO sudah bisa di atas 40 persen. Bisa dicek ini. Dan saya berharap, bisa terus meningkat sampai di atas 75 persen. Tentu saja ini juga tergantung kualitas SDM santri-murid yang masuk.”

Baladena: “Masih ada lagi?”

Abana: “Ada, yang kelima, yang dalam konteks intenal Planet NUFO adalah konsekuensi dari transformasi keempat juga, yaitu: meninggalkan pengajian massal. Sebab, pengajian massal sama dengan menganggap semua santri-murid memiliki kemampuan dan modal yang sama. Padahal kan tidak demikian. Maka, saya menciptakan cara belajar baru dalam memahami al-Qur’an dengan menggunakan surat Yusuf sebagai “surat modal”. Kenapa disebut modal? Sebab, pola kalimat itu sesungguhnya sama, kira-kira ya terdiri atas subjek, predikat, objek, dan kalau ada ditambah keterangan. Kalau kalimat yang terdiri atas kata benda, atau ismiyah, ya mubtada’ dan khabar, ditambah dengan yang disifati dan sifatnya, atau man’ut dan na’t. Semua pola kalimat itu ada di dalam surat Yusuf. Bedanya lagi, makna ayat-ayat di surat Yusuf itu sederhana. Alurnya juga mudah dimengerti, karena kisah Yusuf mulai dari kecil, oleh saudara-saudaranya dibuang ke dalam sumur, lalu menjadi penguasa di Mesir. Santri-murid yang masih terbatas wawasannya mudah untuk memahaminya. Seiring dengan tumbuh kembang santri-murid belia itu, mereka akan bisa memaknai ayat-ayat yang lain yang berupa ungkapan-ungkapan rumit, yang memerlukan ketajaman logika, wawasan yang luas, bahkan pengalaman pribadi, dan lain-lain. Cara ini, bagi sebagian orang kan tidak lazim. Mereka bisa saja bertanya, kok tidak pakai Jurumiyah, Imrithi, Alfiyah, dan lain-lain? Padahal dengan menggunakan ini, mereka bisa langsung belajar banyak hal: belajar ilmu alat, makna kata, logika sederhana, sampai tafsir al-Qur’an. Ini adalah hasil riset saya selama lebih dari 10 tahun. Kemudian mengubah kebijakan saya dalam program menghafalkan al-Qur’an. Dulu, setiap santri baru yang mau menghafalkan al-Qur’an, saya iyakan. Paling saya cek daya ingatnya. Kalau normal, lanjut. Sekrang, tidak cukup hanya dengan itu, tetapi harus memahami maknanya terlebih dulu. Kalau belum bisa, boleh menghafal. Sebab, menghafal tanpa arti, sering saya bilang, butuh usaha tujuh kali lipat. Dan itu hampir tidak mungkin. Pokoknya berat banget lah. Nah, agar bisa lengkap begitu, ujungnya yang diperlukan adalah pendidik yang berkualitas.” (AH).

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *