Sekolah Alam Planet NUFO Pilanggowok

Yayasan Pesantren NURUL FURQON yang juga dikenal dengan Sekolah Alam Planet NUFO di Desa Mlagen sesungguhnya bisa disebut kelanjutan MONASH INSTITUTE Semarang dan juga Pesantren NURUL FURQON di Kota Rembang.

Disebut kelanjutan MONASH INSTITUTE karena didirikan setelah ada kesediaan belasan mahasantri Monash Institute yang sedang menempuh studi pascasarjana untuk menjadi guru penuh dedikasi. Dan bisa disebut kelanjutan dari Pesantren NURUL FURQON di Kota Rembang, karena fokus utamanya adalah SMP Islam sebagai kelanjutan SD Islam NURUL FURQON Rembang. Singkatnya, Planet NUFO adalah hasil diskusi pribadi Arif Budiman, Ketua Yayasan Pendidikan NURUL FURQON Rembang dengan Dr. Mohammad Nasih, Pengasuh Monash Institute. Arief Budiman ingin agar puterinya yang akan segera lulus SD bisa melanjutkan pendidikan dengan kurikulum tambahan menghafalkan al-Qur’an.

Dr. Mohammad Nasih menangkapnya karena menurutnya suasan kota, termasuk Kota Semarang apalagi Jakarta, sudah tidak kondusif lagi untuk tumbuh kembang anak-anaknya. Udara makin tercemar polusi dan lingkungan pergaulan kian mengkhawatirkan. Karena itulah, keduanya kemudian sepakat untuk mendirikan Sekolah Alam Planet NUFO.

Di atas lahan milik pribadi ditambah dengan wakaf dari ibundanya, sarana dan prasarana mulai dibangun dengan desain sebagai lingkungan sehat untuk tumbuh kembang anak, baik fisik, mental, maupun spiritual. Dan semua itu dilakukan tanpa meminta bantuan dari pihak mana pun. Untuk melahirkan kader-kader yang mandiri, lembaga pendidikan harus mampu menjadi contoh nyata tidak meminta-minta.

Berikut ini wawancara Baladena dengan Dr. Mohammad Nasih, atau yang akrab dipanggil oleh para santri NUFO dengan Abah Nasih.

Baladena: Abah Nasih, sekarang ini kan sudah ada banyak lembaga pendidikan, baik pesantren maupun sekolah, tetapi kenapa mendirikan pesantren dan sekolah lagi?

AN: Wah pertanyaannya langsung menohok. Sensitif sekali ini. Tapi baiklah. Saya akan menjawab ini seobjektif mungkin. Semoga tidak disalahpahami dan bisa diterima dengan baik. Tidak bermaksud menyinggung siapa pun. Sebab, saya hanya akan menyatakan fakta saja. Tidak lebih. Saya mulai dengan fakta hahwa Indonesia adalah negara berkembang. Sedangkan penentu maju dan tidaknya sebuah negara, diantaranya adalah kualitas SDM.

Nah, penentu kualitas SDM adalah lembaga pendidikan. Simpulan simplenya, karena itu, adalah lembaga pendidikan kita secara umum bermasalah. Oleh sebab itu, harus ada lembaga pendidikan yang berbeda dengan kualitas terbaik yang bisa membuat terobosan dan bisa dijadikan sebagai contoh. Lembaga pendidikan itu haruslah different and the best, sebagaimana sering diteriakkan oleh anak-anak NUFO. Planet NUFO ini kami desain untuk itu.

Baladena: Wah optimistik sekali ya. Itu kan visi. Konkretnya bagaimana?

AN: Kualitas SDM utuh dalam pandangan Islam adalah yang terpenuhi aspek jasmani dan ruhani, duniawi dan ukhrawi. Kedua sisi itu harus seimbang. Ibarat kaki, jika salah satu tidak baik, maka akan pincang. Apalagi jika tidak ada, maka akan sangat kesulitan untuk bisa berjalan. Hidup ini harus dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, jika basiswa bukan agama atau ajaran kebenaran dari Allah, justru bisa menyebabkan kerusakan dunia.

Baca Juga  Update Korban Kecelakaan Bus Sriwijaya

Karena itulah, diperlukan pendidik berkualitas terbaik yang juga memenuhi kualitas itu. Jika belum bisa, awalnya harus disinergikan untuk mewujudkan reintegrasi saintek ke dalam Islam. Inilah yang akan kami lakukan. Nah, masalah utama pendidikan kita sekarang ini adalah kualitas dan kuantitas guru. Negara-negara maju memiliki rasio murid:guru yang besar. Kita masih 1:30an. Bahkan lebih rendah lagi. Sedangkan Finlandia 1:belasan. Kita belum berbicara soal kualitas ini. Di pesantren lebih-lebih.

Memang di sebagian pesantren sudah ada program pendidikan dengan sistem kelas (klasikal). Namun, tidak sedikit juga yang pendidikannya masih massal. Satu kiai atau ustadz, ratusan bahkan ribuan santri. Padahal, terutama untuk pendidikan dasar, penangannya haruslah sangat intensif dan cenderung mengarah personal. Setiap anak memerlukan perlakuan yang unik. Karena itulah, yang pertama kali saya lakukan untuk mendirikan Planet NUFO adalah mengajak para mahasantri di Monash Institute yang saat itu baru saja di terima S2 untuk mendiskusikan ini. Alhamdulillah mereka bersedia menjadi guru sampai lulus S2.

Saat itu ada 14 orang guru untuk memulai. Kami langsung bergerak cepat. Mendirikan sarana prasarana paling vital untuk penyelenggaraan pendidikan 24 jam. Maka desainnya adalah boarding atau asrama. Kami ingin proses belajar mengajar lebih banyak bersifat personal. Maka 1 guru diberi tanggung jawab atas hanya 4 orang murid saja. Dan dengan tinggal bersama, karakter utuh masing-masing anak bisa diketahui, seperti para orang tua bisa mengetahui dengan baik perbedaan karakter anak-anaknya karena tinggal satu atap.

Baladena: Lalu dari mana biaya untuk semuanya itu? Apakah ada bantuan dari pemerintah? Atau jaringan apa gitu?

AN: Ini pertanyaan yang sering sekali harus saya jawab. Duitnya dari mana? Pertanyaan yang sama dari mana biaya penyelenggaraan Monash Institute? Semua kami mulai dengan biaya sendiri. Dan sampai hari ini, tidak pernah ada proposal permohonan bantuan dana atau mengajak siapa pun untuk membangun lembaga pendidikan ini.

Ada dua alasan. Pertama, alasan psikologis. Kami ingin lembaga pendidikan ini melahirkan pribadi-pribadi mandiri. Kalau untuk memulai saja sudah meminta sana sini, itu akan melemahkan jiwa kami. Pada guru dan pada akhirnya murid-murid juga akan tahu. Tidak mungkin memotivasi murid-murid untuk mandiri, sementara kami sendiri jelas-jelas tidak berdikari.

Kedua, alasan ideologis. Al-Qur’an mengajarkan ‘iffah, yaitu menjaga diri dari meminta-minta. Gambaran yang diberikan oleh al-Qur’an di dalam Surat al-Baqarah: 273 adalah “orang yang tidak tahu menyangka bahwa kita ini tidak butuh alias kaya, padahal sebenarnya kita juga sangat memerlukan”. Namun, malu kalau sampai meminta bantuan orang lain untuk sebuah visi yang kita rajut sendiri. Apalagi al-Qur’an juga memberikan optimisme bahwa kalau kita sudah punya keteguhan melakukan sesuatu, ya harus kita lakukan.

Baca Juga  GPII Jateng Mendesak Pemerintah Usut Tuntas Kasus Perusakan Mushalla di Minasaha Utara

Selanjutnya Allah, rasulNya, dan orang-orang beriman akan melihat (at-Taubah: 105). Jadi, yang penting kami lakukan saja visi kebaikan ini. Allah dan rasulNya kan pasti melihat. Nah, kalau Allah melihat usaha kebaikan di jalanNya, masa’ Dia tidak menolong?. Jalannya ya terserah Allah. Lalu, kalau ada saudara, teman, kolega, dan lain-lain yang ikut, itu kami anggap sebagai orang-orang beriman itu. Sederhana saja pokoknya.

Dan kami mendapatkan dukungan dari orang-orang beriman itu. Tanpa mereka, ya tidak bisa seperti sekarang ini. Allah menggerakkan hati mereka untuk menyertai perjuangan ini. Kami anggap ini adalah pertolongan dari Allah dengan cara menggerakkan hati mereka. Tidak diminta, tidak diajak, hanya karena tahu, kemudian mereka bergerak, kalau bukan Allah yang menggerakkan, kan tidak mungkin itu.

Baladena: Siapa sih mereka itu, Bah? Boleh kan beri bocoran dikit!

AN: Wah ngejar terus ini pertanyaannya. Saya cerita saja dulu ya. Dulu saya bikin Monash Institute bersama beberapa yunior aktivis di Semarang dengan program beasiswa untuk mahasantri yang kami rekrut. Biayanya dari hasil pertanian tanah warisan bapak saya yang berlokasi di Desa Samaran Pamotan atau dikenal dengan Galbentung. Dengan uang panen tebu ini, kami bisa kontrak rumah sebagai tempat menginap dan kajian al-Qur’an setiap hari.

Tiga tahun berjalan, beberapa teman datang. Ada yang bawa beras, ada yang idul adlha berkurban di rumah kami, sampai kemudian ibu mertua saya mewakafkan rumahnya, lalu meminta saya membangun gedung pesantren di samping kampus UIN Semarang. Bahkan kemudian rumah wakaf itu kena proyek tol dan kemudian digunakan untuk membangun gedung yang sekarang jadi Darul Qalam III Monash Institute. Yang tak kalah mengejutkan, ada yang mengajukan saya menjadi komisaris perusahaan terkenal mulai pada tahun 2014. Gajinya lumayan juga.

Gaji itu yang saya gunakan untuk menambah anggaran program beasiswa, sewa rumah, dan lain-lain. Dari yang awalnya hanya memberi beasiswa kepada puluhan mahasiswa, meningkat jadi ratusan. Ada teman juga semasa kuliah dulu, yang dulu kami susah senang mengelola perkaderan di HMI, yang karena itu tahu betapa pentingnya pendidikan dan lebih spesifik lagi kaderisasi, selalu membantu.

Setelah saya bikin Planet NUFO dan ada banyak domba di situ, beberapa teman juga membeli dan investasi domba. Ini saya gunakan untuk memfasilitasi murid-murid yang berasal dari keluarga prasejahtera agar bisa bergerak ikut berwirausaha. Dimulai dari domba gaduhan dari saya dan teman-teman saya ini, mereka akan punya modal.

Mohammad Nasih sedang Meninjau NUFO Farm

Ketua Yayasan Pendidikan NURUL FURQON Rembang dengan Dr. Mohammad Nasih, Pengasuh Monash Institute, sedang berada di Pusat Peternakan Doba NUFO.

Harapan saya kelas III SMP mereka sudah bisa punya belasan domba. Lulus SMU mereka sudah berdaya dan bisa kuliah di mana saja dengan biaya sendiri. Yang kaya dibiayai oleh ortunya sendiri. Namun, kita kan tidak tahu batas usia orang. Maka semua harus dipersiapkan secara sama untuk mandiri.

Baca Juga  Mahfud MD: Corona Itu Seperti Istrimu

Baladena: Teman Abah yang pejabat kan banyak. Kenapa tidak mengajak mereka?

AN: Kan sudah saya bilang tadi. Dalam urusan yang satu ini, saya tidak mau mengajak. Saya hanya akan bekerja saja. Kalau ada kebaikan yang terlihat, kan sebenarnya itu sama dengan ajakan. Dan dengan begitu, saya juga jadi tahu, mana orang beriman sejati dan mana yang tidak. Ha ha ha. Sesederhana itu saja. Kalau saya ajak, terus dia tidak mau, kan dia malu. Kasihan. Dengan cara mandiri begini, kami juga bisa menguatkan diri secara bertahap.

Kalau langsung besar, khawatir kaki tidak bisa menanggung beban, malah bisa patah. Saya sudah punya pengalaman punya gedung besar di Jakarta bantuan pemerintah untuk asrama mahasiswa kampus kami. Ternyata bukan jadi aset, tetapi justru jadi beban. Saya tidak mau itu menimpa Monash Institute dan Planet NUFO. Saya ingin keduanya berjalan dengan kaki sendiri. Berdikari dan kuat. Walaupun kadang harus ngutang, yang penting kemudian terbayar. Ha ha ha. Iya, memang begitu.

Saya sering ngutang ke adik saya yang pengusaha. Setidaknya untuk beberapa jam kalau harus transfer ke bank tertentu agar tidak kena biaya Rp. 6.500.. Selain itu, teman-teman saya yang pejabat itu kan politisi. Saya tidak mau independensi saya terganggu. Mungkin mereka tidak mengucapkan apa-apa. Tapi kan nanti saya tidak enak sendiri. Apalagi masa depan anak-anak masih panjang. Saya ingin mereka menjadi manusia bebas, tidak diikat oleh siapa pun, tidak ewuh pakewuh kepada siapa pun, karena pernah dimintai sumbangan.

Independensi etis ini harus dijaga betul. Yang penting saya tidak pernah menutup diri. Yang ingin ikut silakan. Namun, tidak boleh dan tidak bisa mengatur-atur dan mengekang idealisme kami untuk membangun pendidikan yang membebaskan, mencerahkan, dan mengarahkan kepada kebenaran ilahiah. In syaa’a Allah.

Baladena: Kalau begitu jadinya mahal dong?

AN: Itu risikonya memang. Juga dilema. Jika sekolah tidak mahal, kadang mahal, dianggap tidak bonafid. Maka kami buat jalan tengah. Mahal bagi orang kaya, tetapi gratis bagi yang tidak mampu. Yang kaya membiayai anaknya sendiri sesuai dengan kebutuhan riil biaya pendidikan anaknya.

Kami punya hitungannya. Namun, anak dari keluarga pra sejahtera tidak ada yang kami tolak. Kami punya cara sendiri untuk membuat pembiayaan cukup. Alhamdulillah. Dengan berbagai usaha yang kami lakukan, baik para guru maupun para pengrus yayasan, semua bisa menikmati pendidikan yang lebih baik. Tidak hanya sekolah, tetapi juga menghafalkan al-Qur’an, dan yang juga jadi titik tekan adalah kewirausahaan.

Jika mereka sudah terbiasa sejak belia, lulus dari Planet NUFO, mereka sudah memiliki mental mandiri, tidak hanya secara intelektual, tetapi juga finansial. In syaa’a Allah. *

Redaksi Baladena
Jalan Baru Membangun Bangsa Indonesia

Pemerintah Piara Buzzer

Previous article

Pandemi Covid-19 dan Kriminalitas

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Daerah