Pesantren Al-Falah Mlagen

Pesantren al-Falah Mlagen, Pamotan, Rembang, dirintis oleh sepasang suami-istri KH. Mohammad Mudzakkir dan Nyai Hj. Chudzaifah Hafidhah. Kiai Mudzakkir mengenyam pendidikan formal dan juga pesantren sekaligus. Pendidikan formal terakhir di Fakultas Tarbiyah IAIN Kudus sembari menghafalkan al-Qur’an dan menyetorkan hafalan kepada Kiai Arwani Kudus. Sebelumnya juga nyantri kepada Kiai Manshur Khalil di Pesantren An-Nur Lasem. Sedangkan istrinya Bu Nyai Chudzaifah menjadi santri dan menghafalkan al-Qur’an di al-Hidayat Lasem dan menjadi santri tersayang Kiai M’ashoem dan istrinya Bu Nyai Nuriyah Ma’shoem.

Tahun 1975, keduanya menikah dan mendirikan mushalla kecil di depan rumah untuk tempat mengaji setelah maghrib anak-anak Desa Mlagen. Kiai Mudzakkir adalah sosok yang terbilang serba bisa. Menjadi seorang santri yang juga sarjana, membuat Kiai Mudzakkir menjadi sosok yang fleksibel dan bisa bergaul dengan siapa saja, karena bisa cepat menyesuaikan diri. Karena itulah, begitu pulang kampung, ia langsung menggantikan bapaknya sebagai kepala desa sampai meninggal dunia tahun 1994. Selain menjadi kepala desa, Kiai Mudzakkir juga menjadi Kepala Madrasah Diniyah Desa Mlagen dengan mengajar Tafsir Jalalain dan kitab-kitab fikih, dan kemudian juga menjadi kepala Madrasah Tsanawiyah untuk pertama kali tahun 1992.

Sepeninggal Kiai Mudzakkir, Bu Nyai Chudzaifah mengumpulkan alumni al-Falah yang masa belia mereka diajari mengaji dan membentuk jam’iyah tilawatil qur’an yang diselenggarakan setiap malam Ahad. Kelompok pengajian ini berkembang dengan pesat, dan membuat belasan perempuan muslimat di desa-desa sekitar Mlagen yang berada di tiga kecamatan juga ingin mendirikannya, sampai terbentuk FSAJTQ (Forum Silaturrahim Anggota Jam’iyyah Tilawatil Qur’an). Acara besar FSAJTQ diselenggarakan setahun sekali dengan dipusatkan di Pesantren al-Falah untuk sekaligus haul Kiai Mudzakkir.

Al-Falah berkembang menjadi tempat belajar anak-anak usia sekolah menengah dari desa-desa lain. Awalnya, hanya beberapa orang saja yang menjadi santri mukim sembari menempuh pendidikan menengah di MTs. dan MA Darul Huda Mlagen. Di bawah asuhan Bu Nyai Laila Mufidah dan suaminya Kiai Mahbub Abdillah, pesantren al-Falah berkembang sangat pesat, hingga kini dihuni oleh lebih dari 200 santri putra dan putri. Selain mengelola pesantren al-Falah, Bu Nyai Laila kini juga meneruskan tugas-tugas pembinaan FSAJTQ sepeninggal Bu Nyai Chudzaifah pada awal tahun 2022.

Pesantren al-Falah tergolong pesantren yang unik karena menerima santri dari segala golongan dan tidak menentukan biaya. Para orang tua santri membiayai anak-anak mereka sesuai dengan kemampuan masing-masing dengan cara memasukkan uang yang dimasukkan ke dalam amplop dan kemudian dimasukkan ke dalam tempat khusus yang telah disediakan. Pengasuh tidak pernah tahu siapa memasukkan uang berapa. Uang itulah yang kemudian dikelola untuk biaya hidup santri. Pembiayaan lain bersumber dari salah seorang adik pengasuh yang menjadi pengusaha sukses di Indonesia Timur. Dengan cara itulah Pesantren al-Falah kini menjadi semakin ramai dengan santri kalong dan mukim yang semakin banyak.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *